
MITTE Bintaro: Bertemu di Tengah Kota, Menikmati Kuliner Nusantara dalam Ruang Hijau
Di tengah ramainya pilihan tempat makan di kawasan Bintaro, MITTE hadir dengan pendekatan berbeda. Restoran ini memadukan hidangan Nusantara, arsitektur yang merespons lingkungan, dan ruang berkumpul lintas generasi. Kehadirannya juga membawa harapan bagi penyerapan tenaga kerja setempat.
Tangerang Selatan, Gatranews.id – Ada yang berbeda pada wajah kawasan kuliner Jurangmangu, Ciputat. Di dekat lintasan kereta komuter dan jalan layang, MITTE Bintaro mencoba menjadi tempat singgah yang lebih dari sekadar ruang makan.
Di tempat ini, keluarga bisa bersantap, teman-teman bertemu, pekerja membuka laptop, hingga komunitas bertukar gagasan. Restoran yang berlokasi di Jalan Cendrawasih Raya Nomor 11, Sawah Lama, Ciputat, Tangerang Selatan, itu resmi dibuka melalui acara grand opening pada Sabtu (24/10/2026).
Sejumlah pejabat dan tokoh hadir dalam peresmian tersebut, antara lain Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie, Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan, Siswono Yudohusodo, serta Airin Rachmi Diany.
Peresmian itu menjadi penanda fase baru pengembangan MITTE. Meski demikian, aktivitas restoran telah berjalan beberapa minggu sebelumnya.
Dari Titik Tengah Menjadi Titik Temu
Direktur MITTE Bintaro Brawijaya B. Kusuma mengatakan, gagasan membangun restoran tersebut tidak muncul dalam waktu singkat. Timnya menghabiskan sekitar dua tahun untuk memetakan pasar, mengamati kompetitor, dan mempelajari pola permukiman di sekitar lokasi.
Tahap konstruksi kemudian berlangsung sekitar satu tahun. Lokasi Jurangmangu yang padat penduduk dan dekat dengan KRL justru dinilai memiliki potensi untuk mempertemukan orang dengan kebutuhan berbeda.
“Kami melihat bahwa memang captive market jumlah orang, populasinya cukup banyak. Tinggal bagaimana kita melihat lahan ini, akhirnya kita menggunakan pendekatan arsitektural,” ujar Brawijaya dalam wawancara seusai acara.
Bagi Brawijaya, rasa makanan saja tidak cukup untuk membuat pengunjung kembali. Sebuah restoran juga perlu menawarkan ruang yang nyaman, baik untuk aktivitas pada hari kerja maupun saat akhir pekan.
Nama MITTE sendiri diambil dari bahasa Jerman yang berarti tengah atau pusat. Brawijaya membayangkan restoran tersebut sebagai titik pertemuan bagi orang-orang dengan beragam aktivitas.
Ia ingin MITTE menjadi “titik kumpul, tempat orang untuk bersosialisasi, bertemu dengan teman, bekerja”. Dengan begitu, warga sekitar maupun penumpang komuter dapat menemukan ruang yang dekat dengan keseharian mereka.
Untuk mendukung gagasan tersebut, MITTE menyediakan sejumlah area dengan fungsi berbeda. Ada ruang makan keluarga, tempat duduk luar ruang, area bagi pengunjung yang ingin bekerja sendiri, hingga ruang pertemuan.
Brawijaya menyebut terdapat tiga ruang rapat yang disiapkan untuk kebutuhan berbeda. Salah satunya berada di lantai dua, dengan kapasitas sekitar 50 orang dan dapat dibagi menjadi dua bagian.
Ruang-ruang tersebut dirancang untuk menjembatani kebutuhan pekerja dan keluarga, sekaligus memberikan pilihan bagi pengunjung yang datang sendiri.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan melihat perubahan fungsi restoran sebagai cerminan kebutuhan masyarakat perkotaan. Menurut dia, tempat makan kini dapat berkembang menjadi ruang belajar, pertemuan, diskusi bisnis, hingga kegiatan sosial.
Di tengah rutinitas kota yang padat, kehadiran titik kumpul baru dapat memperluas pilihan masyarakat untuk berinteraksi.
Brawijaya juga menyinggung potensi pengembangan kawasan berorientasi transit. Namun, rencana moda transportasi masa depan yang disebut dalam wawancara masih merupakan pandangan manajemen, bukan kepastian mengenai proyek atau trase baru yang akan dibangun di sekitar MITTE.
Arsitektur yang Merespons Denyut Kota
Dari jalan, MITTE tampak berusaha menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Bangunan ini tidak berupaya menutupi keberadaan jalan layang yang mendominasi pandangan, tetapi justru menjadikannya bagian dari pendekatan desain.
Brawijaya menjelaskan, tim arsitek mempelajari perbedaan ketinggian lahan dari bagian depan hingga belakang. Bentuk dan kemiringan atap kemudian dirancang agar memiliki ritme visual yang selaras dengan jalan layang.
“Ketika dilihat dari depan, flyover dengan atap kita itu kemiringannya sama,” kata Brawijaya.
Ia berharap bentuk bangunan tersebut dapat memancing rasa ingin tahu orang yang melintas. Pengelola juga menyebut pemasangan sekitar 30 turbin ventilator dan penataan vegetasi, termasuk pohon baobab, sebagai bagian dari identitas bangunan.
Pilar memberikan penilaian dari sudut pandang arsitektur. Menurut dia, desain bangunan yang baik semestinya mampu beradaptasi dengan kondisi tapak.
Jalan layang di sisi MITTE, kata dia, tidak bisa hanya dipandang sebagai gangguan visual. Struktur tersebut sudah menjadi bagian penting dari lanskap kawasan.
“Kalau saya ditanya sebagai seorang arsitek, saya melihat bahwa di dunia arsitek itu ada sebuah desain bangunan yang adaptif terhadap lingkungan,” ujar Pilar.
Ia menjelaskan, flyover memiliki bentuk memanjang atau streamline. Karena itu, pendekatan garis-garis bangunan yang mengikuti arah tersebut dapat membuat MITTE terasa lebih menyatu dengan lokasi.
Menurut Pilar, desain MITTE tidak berusaha menandingi dominasi jalan layang, melainkan merespons keberadaan struktur tersebut sebagai bagian dari konteks lingkungan. Ia juga mengapresiasi penggunaan vegetasi yang membantu menghadirkan suasana lebih teduh di Ciputat yang cenderung panas.
Apresiasi terhadap pepohonan juga disampaikan Siswono Yudohusodo. Dalam rekaman sambutannya, ia mengaku senang melihat anak muda membangun usaha dengan konsep ruang yang dipikirkan secara matang.
“Restoran ini bukan sekadar restoran, environment-nya dibikin indah,” ujarnya. Siswono juga menyoroti pohon baobab yang menjadi salah satu elemen lanskap MITTE.
Penilaian mengenai desain yang bersahabat dengan lingkungan tersebut merupakan pandangan para narasumber terhadap pengalaman ruang dan vegetasi MITTE. Hal itu tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa bangunan tersebut memiliki sertifikasi bangunan hijau tertentu.
Rasa Nusantara dengan Sentuhan Kontemporer
Diferensiasi MITTE tidak hanya terlihat pada bangunannya. Di dapur, restoran ini mengembangkan menu dengan akar rasa Nusantara yang dipadukan dengan teknik dan gaya penyajian kontemporer.
Brawijaya mengatakan, pendekatan tersebut bukan untuk meninggalkan makanan Indonesia. MITTE justru ingin memperkenalkan kembali rasa yang akrab melalui interpretasi baru.
“Konsep yang kita bawa itu Nusantara. Basic roots-nya kita bawa Nusantara, cuma kita dengan pendekatan ala MITTE, kita ada sentuhan secara western,” jelasnya.
Ia mencontohkan bruschetta yang dipadukan dengan olahan daging sapi berbumbu Indonesia, serta sate sapi wagyu maranggi dengan tampilan penyajian yang berbeda.
Sate maranggi yang lazim dijumpai di berbagai tempat, misalnya, dihadirkan menggunakan potongan daging wagyu dan teknik pemanggangan khusus. Permainan presentasi dan tekstur menjadi salah satu cara MITTE mengangkat menu populer menjadi pengalaman bersantap yang berbeda.
Untuk hidangan pembuka, restoran ini juga memadukan konsep bruschetta dengan cita rasa daging sapi yang lebih dekat dengan lidah lokal.
Pilihan menu tidak hanya bertumpu pada protein hewani. Brawijaya mengatakan, MITTE juga menyediakan hidangan berbasis sayuran dan jamur, termasuk lasagna jamur yang menggunakan beberapa jenis jamur dengan pendekatan bahan non-dairy.
Ia turut menyebut salad dan cuciwis bakar sebagai pilihan bagi pengunjung yang menginginkan variasi menu.
Manajemen menyebut sekitar 60 varian menu tersedia selama periode grand opening, termasuk sejumlah sajian baru. Jumlah dan komposisi menu tersebut dapat berubah seiring pengembangan dapur.
Bagi pengunjung muda, pesan yang ingin disampaikan MITTE sederhana: tempat boleh estetik, tetapi makanan tetap harus memiliki alasan untuk dicoba.
Peluang Kerja dari Lingkungan Sendiri
Di balik arsitektur dan pilihan menu, restoran juga merupakan industri yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Brawijaya mengatakan, MITTE mempekerjakan sekitar 100 orang, dengan kurang lebih 90 persen di antaranya berasal dari Tangerang Selatan.
Angka tersebut merupakan keterangan manajemen saat wawancara, bukan data hasil pemeriksaan independen.
“Kami yakin kita harus berdampak bagi lingkungan terdekat, minimal,” tutur Brawijaya.
Karena itu, perekrutan pekerja tidak hanya dilakukan melalui pemasangan lowongan secara daring. Tim MITTE juga berkomunikasi dengan unsur kecamatan, pengurus RT dan RW, serta lingkungan sekitar untuk menjaring pelamar yang memiliki minat atau pengalaman di industri makanan dan minuman.
Meski mengutamakan warga setempat, kedekatan tempat tinggal bukan satu-satunya syarat penerimaan pekerja.
“Tetap kita rekrut secara profesional dan punya standar kualitas yang memang sesuai yang diinginkan oleh MITTE,” ujarnya.
Menurut Brawijaya, perekrutan warga lokal dengan standar pelayanan yang sama penting agar manfaat ekonomi bagi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan kualitas pengalaman pelanggan.
Benyamin Davnie menyambut baik langkah tersebut.
“Saya berterima kasih kepada manajemen yang 90 persen tenaga kerjanya diambil dari Tangerang Selatan,” kata Wali Kota Tangerang Selatan itu.
Ia menilai, proses seleksi dan pelatihan bukan sekadar persiapan pekerja untuk melayani pelanggan. Keduanya juga menjadi kesempatan bagi tenaga kerja setempat untuk memperluas pengalaman dan kemampuan.
Bagi Benyamin, tumbuhnya restoran juga berarti bertambahnya aktivitas ekonomi perkotaan. Dalam wawancara, ia menyinggung sektor kuliner, fesyen, dan kerajinan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi swasta, sekaligus mengaitkan aktivitas restoran dengan potensi penerimaan pajak daerah.
Namun, angka pertumbuhan dan penerimaan yang disebut dalam rekaman belum dicocokkan dengan publikasi statistik resmi pada periode yang sama. Karena itu, artikel ini tidak menjadikannya sebagai angka pasti.
Di hadapan tamu undangan, Benyamin merangkum pengalaman pelanggan dengan ungkapan yang mudah diingat: “Beli lidahnya, beli matanya, beli kupingnya.”
Lidah merujuk pada cita rasa, mata pada kesan dan kenyamanan ruang, sementara kuping menggambarkan cerita yang menyebar dari mulut ke mulut. Di era media sosial, pengalaman menyeluruh seperti itulah yang dapat menentukan apakah sebuah tempat hanya ramai saat pembukaan atau terus dicari pengunjung.
Benyamin juga mengingatkan bahwa warga Tangerang Selatan gemar membentuk kelompok dan berkumpul, baik untuk urusan pekerjaan, keluarga, komunitas hobi, maupun kegiatan sosial. Menurut dia, MITTE berpeluang memanfaatkan karakter tersebut sebagai salah satu ruang perjumpaan di kota.
SPKLU Ultra Fast Charging, Nilai Tambah bagi Pengunjung
Perhatian MITTE terhadap kebutuhan pengunjung juga terlihat di area parkir kendaraan roda empat. Di sana tersedia fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dengan label “SPKLU FUTURA MITTE BINTARO”.
Unit pengisi daya tersebut memiliki kapasitas 180 kW dan masuk kategori ultra fast charging. Fasilitas ini menghadirkan pilihan pengisian daya bagi pengguna mobil listrik yang berkunjung ke MITTE.
Keberadaan SPKLU menambah layanan MITTE di luar ruang makan, ruang pertemuan, dan area berkumpul. Bagi pengendara kendaraan listrik, stasiun pengisian daya di lingkungan restoran dapat menjadi alasan praktis untuk singgah karena kebutuhan mobilitas dan aktivitas bersantap tersedia di satu lokasi.
Fasilitas tersebut juga memperlihatkan bagaimana ruang komersial dapat ikut menyediakan infrastruktur pendukung penggunaan kendaraan listrik.
Inovasi Penting, Konsistensi Jadi Penentu
Bagi Pilar Saga Ichsan, desain yang menarik dan menu yang berbeda hanyalah tiket masuk ke persaingan industri makanan dan minuman. Setelah itu, keberlangsungan usaha ditentukan oleh pengelolaan yang konsisten.
Ia menekankan pentingnya riset pasar sejak awal, mulai dari memahami kebutuhan pelanggan, menentukan segmen, merancang harga dan rasa, hingga membangun standar pelayanan yang sesuai dengan posisi restoran.
“Keyword-nya diferensiasi produk dan juga jasa,” ujar Pilar.
Menurut dia, bisnis yang tidak memiliki pembeda akan menghadapi tantangan lebih berat di tengah banyaknya pilihan restoran dan kafe di Bintaro serta Ciputat. Selain inovasi, konsistensi produk, kekuatan manajemen, dan pelayanan juga perlu dijaga dari waktu ke waktu.
“Tidak mungkin sebuah usaha F&B bisa bertahan kalau pelayanannya juga di bawah standar,” tuturnya.
Pilar berharap MITTE tidak hanya mengejar momentum pembukaan, tetapi mampu menjaga pengalaman pelanggan dan relevansi konsepnya selama bertahun-tahun.
Pesan mengenai pelayanan juga disampaikan Menteri UMKM Maman Abdurrahman. Berdasarkan keterangan sambutan yang disampaikan kepada redaksi, Maman menekankan bahwa restoran tidak hanya dinilai dari makanan, minuman, atau tampilan tempatnya.
Kunci usaha jasa, menurut dia, juga terletak pada konsistensi layanan yang diterima pengunjung setiap kali datang.
Penekanan tersebut sejalan dengan pilihan operasional MITTE. Brawijaya menjelaskan, manajemen memetakan kebutuhan karyawan secara berbeda pada hari kerja dan akhir pekan. Informasi reservasi juga dimanfaatkan untuk memperkirakan jumlah pengunjung dan menjaga kualitas pelayanan.
Pendekatan itu dinilai penting agar efisiensi kerja tidak mengorbankan kenyamanan pelanggan.
Setelah kemeriahan peresmian berlalu, keberhasilan MITTE akan diuji pada hari-hari biasa. Apakah pengunjung kembali karena rasanya, betah dengan suasananya, dan merasa dilayani dengan baik?
Di situlah gagasan “titik temu” mendapatkan makna sesungguhnya: ketika sebuah restoran menjadi bagian dari kebiasaan kota dan memberi manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.
You may also like
Archives
- October 2026
- September 2026
- August 2026
- July 2026
- June 2026
- May 2026
- April 2026
- March 2026
- February 2026
- January 2026
- December 2025
- November 2025
- October 2025
- September 2025
- August 2025
- July 2025
- June 2025
- May 2025
- April 2025
- March 2025
- February 2025
- January 2025
- December 2024
- November 2024
- October 2024
- September 2024
- August 2024
- July 2024

Leave a Reply