Rano Tilaar: Peringatan Heroik Merah Putih 1946 Bukti Minahasa Dukung Kemerdekaan RI
Gubernur Akademi Militer (Akmil) Magelang, Mayjen TNI Rano Tilaar, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, atas terobosan strategis dalam menghidupkan kembali momentum bersejarah Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.
Apresiasi tersebut disampaikan di Magelang, Sabtu (28/2/2026). Menurut Rano, langkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menggelar peringatan secara besar-besaran bukan sekadar kinerja administratif sebagai kepala daerah, melainkan upaya visioner dalam memperkuat identitas sejarah dan nasionalisme masyarakat Sulawesi Utara.
“Puji Tuhan, sejak kepemimpinan Gubernur Sulut Yulius Selvanus, peringatan Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 dilaksanakan secara besar-besaran di Sulawesi Utara. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi sejarah yang sangat penting, khususnya bagi generasi muda,” ujar Rano.
Ia menilai, penyelenggaraan peringatan pada 14 Februari 2026 menjadi lompatan maju dalam menegaskan kembali posisi historis Sulawesi Utara dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Peristiwa heroik yang terjadi di Manado itu, kata dia, merupakan respons nyata masyarakat Sulawesi Utara terhadap Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
“Peristiwa heroik di Manado menjadi bukti autentik bahwa semangat kemerdekaan bergelora kuat di tanah Minahasa,” kata Rano.
Lebih lanjut, Rano menegaskan bahwa penguatan kembali narasi sejarah melalui peringatan tersebut sekaligus menepis stigma lama yang kerap menyudutkan masyarakat Minahasa sebagai pihak yang seolah-olah pro terhadap kolonialisme Belanda.
“Momentum ini menepis stigma lama yang menyudutkan orang Minahasa. Peristiwa heroik yang telah diperingati selama 80 tahun ini adalah bukti nyata bahwa Minahasa bukan antek Belanda, melainkan bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” tegasnya.
Ke depan, Rano berharap peringatan Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Ia mendorong agar momentum tersebut dikemas sebagai ruang edukasi sejarah yang berkelanjutan dan bermakna, khususnya bagi generasi muda.
Menurut dia, nilai perjuangan dan patriotisme harus lebih ditonjolkan agar peringatan tersebut tidak kalah gaung oleh perayaan lain, seperti Hari Valentine, yang jatuh pada tanggal yang sama.
“Peringatan ini harus menjadi pengingat perjuangan bangsa dan sarana menanamkan nasionalisme, sehingga semangat kebangsaan tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat,” kata Rano.
Dengan semangat kebangsaan yang terus digelorakan, peringatan Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 diharapkan menjadi simbol kebangkitan memori sejarah sekaligus peneguhan jati diri Sulawesi Utara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jika Anda ingin, saya juga bisa menyesuaikan gaya bahasa lebih tajam ala breaking news Kompas.com atau menambahkan konteks sejarah singkat Peristiwa Heroik Merah Putih 1946 sebagai paragraf latar.
