Gatranews.id

Selamat Datang di Portal Berita Gatranews.id

Ali Masykur Musa: Meneguhkan Komitmen Wathaniyah NU

Jakarta, Gatranews.id – Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Muktamar NU ke-35, Mudir Aly Idarah Aliyah JATMAN Ali Masykur Musa mengajak keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) memperkokoh fondasi kebangsaan. Menurut dia, salah satu fondasi tersebut adalah meneguhkan Amanatul Wathaniyah.

Semangat kebangsaan, kata Ali Masykur, tidak boleh luntur ketika NU memasuki abad kedua. Pergantian kepemimpinan dan dinamika organisasi juga tidak boleh menggeser orientasi dasar NU sebagai organisasi yang mengabdi kepada umat dan bangsa Indonesia.

“Semangat kebangsaan tidak boleh luntur, siapapun ketua umumnya,” tegas Ali Masykur, Jumat (14/8).

Ia mengatakan kepemimpinan NU harus ditempatkan sebagai amanah untuk berkhidmat. Karena itu, NU tidak boleh diarahkan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

“NU tidak boleh dijual, NU adalah untuk umat, NU untuk bangsa, bukan NU untuk kepentingan diri sendiri,” ujarnya.

Menurut Ali Masykur, semangat tersebut memiliki akar sejarah yang panjang dalam perjalanan NU. Ia mengajak warga NU kembali meneguhkan Amanatul Wathaniyah atau semangat kebangsaan sebagai bagian dari komitmen NU terhadap bangsa.

Ia juga mengingatkan agar sejarah hubungan NU dengan perjalanan bangsa tidak hanya dikenang. Menurut dia, komitmen tersebut harus diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam menjawab persoalan yang dihadapi Indonesia.

“Saat ada masalah bangsa, di situlah NU harus menjadi part of solution-nya,” ujarnya.

NU Harus Menjadi Bagian dari Solusi Bangsa

Ali Masykur menilai kebesaran NU tidak semata-mata diukur dari jumlah warga atau luas struktur organisasinya. Kekuatan tersebut juga tidak cukup dilihat dari pengaruh politik dan sosial yang dimiliki NU.

Menurut dia, ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana NU mampu memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan bangsa. Dengan demikian, NU harus hadir ketika masyarakat dan negara menghadapi persoalan.

Dalam pandangan Ali Masykur, semangat kebangsaan memiliki akar kuat dalam tradisi NU. Ia menyebut Ahlul Wathan sebagai salah satu ruh yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Nahdlatul Ulama.

Karena itu, hubungan antara Islam dan Indonesia serta Islam dan negara, menurut dia, harus ditempatkan dalam satu tarikan napas. Keislaman dan kebangsaan tidak perlu dipertentangkan karena keduanya dapat berjalan dalam satu orientasi pengabdian kepada masyarakat dan negara.

“NU dan negara, Islam dan negara, harus ditarik satu nafas. Ya Indonesia, ya Islam, ya Islam, ya Indonesia,” tegasnya.

Ali Masykur mengatakan sikap tersebut juga telah menjadi bagian dari komitmennya sejak menjabat Ketua Umum PB PMII pada 1991-1994. Menurut dia, komitmen terhadap kebangsaan harus terus dijaga dalam perjalanan NU memasuki abad kedua.

Dalam konteks Muktamar NU ke-35, gagasan memperkokoh Amanatul Wathaniyah dinilai menjadi pesan penting bagi arah kepemimpinan organisasi. Siapa pun yang menerima amanah memimpin NU harus mampu menjaga organisasi sebagai kekuatan keumatan sekaligus kekuatan kebangsaan.

NU, kata Ali Masykur, harus tetap hadir untuk umat dan berkhidmat bagi bangsa. Organisasi tersebut juga harus mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi negara.

Dari perspektif tersebut, kepemimpinan NU tidak hanya berkaitan dengan identitas keislaman. Kepemimpinan juga harus mampu menjaga komitmen kebangsaan dan tanggung jawab terhadap kehidupan bernegara.

Amanatul Wathaniyah karena itu bukan sekadar slogan kebangsaan. Nilai tersebut merupakan bagian dari ruh perjuangan NU, yakni kesadaran bahwa ketika Indonesia menghadapi persoalan, NU harus hadir sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar menjadi penonton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *