July 15, 2026

Persiapan Hari Kebaya Nasional Ke-3 Dimatangkan, Organisasi Perempuan Perkuat Pelestarian Budaya

  • July 14, 2026
  • 4 min read
Persiapan Hari Kebaya Nasional Ke-3 Dimatangkan, Organisasi Perempuan Perkuat Pelestarian Budaya


Berbagai organisasi perempuan dan komunitas budaya mulai mematangkan persiapan penyelenggaraan Hari Kebaya Nasional Ke-3 yang akan diperingati pada 24 Juli 2026.

Melalui rapat koordinasi yang digelar di Jakarta, Selasa (14/7/2026), para peserta menyatukan langkah untuk memperkuat pelestarian kebaya sebagai identitas budaya bangsa sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menjaga warisan budaya Indonesia.


Rapat Persiapan Hari Kebaya Nasional Ke-3 tersebut dipimpin Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM) Lana T. Koentjoro.

Pertemuan dihadiri sejumlah tokoh perempuan, antara lain mantan Ketua Umum Kowani Dewi Motik, Ketua Umum Komunitas Pertiwi Sinta Umar, Ketua I Komunitas Pertiwi Miranti Sirad Ginanjar, Ketua Umum KB Wirawati Catur Panca Pia Megananda, Ibu Tenun Nasional Prof. Dr. Ana Mariana, jajaran Dewan Pimpinan Kowani, serta berbagai organisasi di bawah induk organisasi Federasi KOWANI yang dipimpin Nannie Hadi Tjahjanto (periode 2024-2029).


Lana mengatakan pelestarian kebaya membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat dan tidak dapat dilakukan oleh satu organisasi saja. Menurut dia, kebaya merupakan simbol budaya yang merepresentasikan perjalanan sejarah serta karakter perempuan Indonesia.


“Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan kita untuk terus menjaga dan melestarikan budaya, khususnya kebaya. Ini bukan hanya kegiatan satu organisasi, tetapi gerakan bersama seluruh perempuan Indonesia,” ujar Lana.


Ia menjelaskan gerakan kebaya yang berkembang saat ini merupakan hasil perjalanan panjang berbagai organisasi perempuan dan komunitas budaya yang konsisten memperjuangkan kebaya sebagai identitas budaya nasional.


Perjuangan tersebut membuahkan dua capaian penting, yakni penetapan Hari Kebaya Nasional setiap 24 Juli melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 dan pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO pada 4 Desember 2024.

Pengakuan itu ditetapkan dalam Sidang Ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Asunción, Paraguay, melalui nominasi bersama Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.


Menurut Lana, meningkatnya penggunaan kebaya di kalangan anak muda menunjukkan bahwa budaya Indonesia mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai yang dikandungnya.


“Dalam beberapa tahun terakhir, kebaya semakin banyak digunakan oleh anak-anak muda. Ini menjadi kebanggaan kita bersama. Apa yang kita lakukan hari ini menjadi legacy yang akan kita teruskan kepada anak cucu kita,” katanya.


Lana mengungkapkan rangkaian Hari Kebaya Nasional Ke-3 akan diselenggarakan secara daring dan luring. Puncak peringatan secara luring dijadwalkan berlangsung di Hall Ballroom Senayan City, Jakarta, pada 24 Juli 2026, mulai pukul 10.00 hingga 14.00 WIB dengan kapasitas sekitar 1.300 peserta.


Ia mengatakan panitia mengundang organisasi-organisasi yang tergabung dalam Kowani serta berbagai komunitas perempuan untuk ikut berpartisipasi dalam peringatan tersebut.


Peringatan Hari Kebaya Nasional tahun ini juga akan dipadukan dengan kegiatan bertema Hari Anak Nasional yang diperingati sehari sebelumnya, yakni pada 23 Juli. Berbagai permainan tradisional dari sejumlah daerah akan ditampilkan dengan melibatkan anak-anak, termasuk anak berkebutuhan khusus.


Menurut Lana, kegiatan tersebut bertujuan menanamkan nilai budaya, kebersamaan, dan pembentukan karakter sejak dini, sekaligus menegaskan peran perempuan, khususnya ibu, sebagai pendidik pertama dalam mengenalkan budaya kepada anak.


Angkat wastra nusantara hingga sanggul
Selain kebaya, penyelenggaraan Hari Kebaya Nasional Ke-3 akan mengangkat berbagai unsur budaya pendukung, seperti batik, wastra nusantara, sanggul, dan aksesori tradisional Indonesia.


Hingga tahap persiapan, sekitar 70 hingga 80 organisasi perempuan serta 22 komunitas budaya telah menyatakan dukungan terhadap kegiatan tersebut.


“Padanannya sudah jelas, kebaya, batik, wastra nusantara, sanggul, aksesoris, dan berbagai karya budaya lainnya. Semua itu menjadi bagian yang ingin kita angkat bersama,” ujar Lana.


Komunitas Pecinta Wastra Nusantara (PSN) akan terlibat memberikan edukasi mengenai wastra dan sanggul, sementara komunitas Bunda Milenial akan menggabungkan kampanye budaya dengan gerakan ramah lingkungan melalui eco-enzyme.


Peringatan Hari Kebaya Nasional Ke-3 juga akan melibatkan berbagai daerah melalui gerakan Indonesia Berkebaya. Sejumlah wilayah, seperti Palembang dan Sumatera Utara, telah menyiapkan kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam mengenakan kebaya di ruang publik.


Selain itu, panitia memberikan ruang lebih luas bagi anak-anak dan generasi muda untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.


“Budaya harus terus hidup di tengah masyarakat. Karena itu, kita ingin memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melanjutkan warisan budaya Indonesia,” kata Lana.


Ia berharap Hari Kebaya Nasional Ke-3 menjadi momentum memperkuat persatuan perempuan Indonesia sekaligus meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap kebaya sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa.


“Kita ingin seluruh Indonesia bergerak bersama. Dengan kebersamaan, budaya Indonesia akan terus tumbuh dan menjadi kebanggaan dunia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *