INAPLAS Bantah Jadi Penyebab Kenaikan Harga Plastik
Jakarta, Gatranews.id – Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Suhat Miyarso, membantah anggapan bahwa organisasinya menjadi penyebab kenaikan harga plastik di dalam negeri. Ia menilai tudingan tersebut tidak tepat dan perlu diluruskan.
“Ya, mungkin ini ada budaya-budaya yang tidak berkenan lah dengan adanya langkah-langkah yang dilakukan oleh Inaplas,” kata Suhat di Jakarta, Selasa (5/5).
Ia menegaskan, tujuan utama pihaknya adalah membantu menyelesaikan krisis yang terjadi.
“Sekali lagi, tujuan kita itu ingin agar krisis ini dapat segera selesai,” ujarnya.
Suhat menjelaskan, persoalan utama terletak pada distorsi harga bahan baku. Kondisi ini dipicu oleh faktor global, termasuk konflik yang berdampak pada rantai pasok.
“Masalah utamanya adalah adanya distorsi harga bahan baku yang kita pakai. Ya, karena adanya perang, adanya segala macam,” kata dia. Menurutnya, harga bahan baku yang biasa digunakan industri mengalami lonjakan signifikan.
Ia menegaskan kenaikan harga bukan berasal dari pelaku industri di dalam negeri. Harga bahan baku, kata dia, sudah meningkat di pasar internasional.
“Jadi bukan karena kita yang naikkan harga. Tapi ya memang harga internasionalnya sudah segitu,” ujarnya. Bahkan, dalam beberapa kasus, pasokan barang juga terbatas.
“Dan itu pun masih dengan kondisi kalau barangnya ada. Jadi ada harga, kadang-kadang barangnya jadi nggak ada,” kata Suhat.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga di tingkat hilir. Produk plastik yang beredar di pasar mengalami kenaikan karena tekanan dari sisi bahan baku.
“Jadi ini yang menyebabkan harga-harga di hilir plastik itu menjadi sangat tinggi,” ujarnya.
Meski demikian, Suhat tidak menutup kemungkinan adanya praktik tidak wajar di sepanjang rantai pasok. Ia menyebut rantai industri petrokimia memiliki struktur panjang dan kompleks.
“Namun tidak juga menghilangkan kemungkinan kalau memang betul adanya terjadi praktik mafia di tingkat bawah, itu mungkin terjadi,” kata dia.
Pasalnya, menurut Suhat, setiap simpul dalam rantai pasok memiliki model bisnis yang berbeda. Ditambah lagi, produksi dalam ekosistem industri plastik tidak dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan oleh banyak pelaku.
“Jadi dari masing-masing rantai pasok ini sampai ke hilir bisa terjadi perubahan harga yang luar biasa,” ujarnya.
Terkait besaran kenaikan harga bahan baku, Suhat mengaku pihaknya tidak melakukan survei khusus. Namun, ia merujuk pada laporan yang beredar di media.
“Kita tidak melakukan survei harga ya. Ini yang bisa kita dapatkan dari media bahwa untuk bahan-bahan baku plastik keresek itu naiknya ada yang sampai 80%,” kata dia.
Ia menjelaskan kenaikan tersebut dipengaruhi berbagai komponen biaya tambahan. Mulai dari asuransi, logistik, hingga biaya tambahan akibat kelangkaan bahan.
“Selain ada tambahan biaya asuransi karena perang, biaya logistik karena lebih jauh, kemudian biaya sure charge karena kelangkaan bahan. Ini semua kan ditanggung oleh industri plastik dari dulu sampai ke hilir,” ujarnya.
Suhat meminta pemerintah turun tangan untuk mengawasi rantai distribusi. Ia berharap tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan berlebihan.
“Kalau memang ada yang lain-lain di simpul-simpul itu kami minta pemerintah untuk bisa menghilangkan itu. Mencegah itu jangan sampai dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mengambil kesempatan dalam situasi sulit ini,” kata dia.
