May 2, 2026

LIXIL Dorong Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Desain Hunian Berkelanjutan

  • April 29, 2026
  • 4 min read
LIXIL Dorong Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Desain Hunian Berkelanjutan

Jakarta, Gatranews.id – LIXIL memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam ekosistem industri arsitektur dan desain. Perusahaan ini mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk menghadirkan ruang hidup yang lebih baik dan berkelanjutan. 

Melalui berbagai inisiatif, LIXIL membuka ruang pertukaran wawasan bagi arsitek, pengembang, dan desainer interior. Upaya ini bertujuan membangun sinergi antar pelaku industri agar dapat berkembang bersama. 

Perusahaan menilai kualitas ruang hidup tidak dapat dibangun secara terpisah. Diperlukan integrasi antara desain, riset, inovasi, dan pemahaman terhadap isu keberlanjutan. 

Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara, mengatakan kolaborasi menjadi standar baru dalam pengembangan arsitektur. Ia menekankan pentingnya kontribusi sektor ini terhadap lingkungan dan masyarakat. 

“Kolaborasi adalah kunci dan standar baru untuk membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik. Lanskap arsitektur masa kini harus mampu memberikan kontribusi yang lebih luas, mulai dari kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, hingga kemajuan pembangunan nasional. Melalui sinergi kita dapat menghadirkan solusi yang lebih adaptif. Inilah komitmen yang terus LIXIL dorong bersama ekosistem industri dalam visi dan misi making better homes a reality for everyone, everywhere,” ujar Arfindi. 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui paviliun “OASE: Architecture in the Water Cycle” dalam ajang ARCH:ID 2026. Paviliun ini menjadi representasi kolaborasi antara arsitektur, data lingkungan, dan desain lanskap. 

Proyek ini melibatkan sejumlah mitra seperti Mamostudio, Labtek Apung, Sciencewerk, dan Larchstudio. Kolaborasi tersebut menghadirkan ruang eksplorasi yang menghubungkan isu air, sanitasi, dan sejarah perkotaan. 

Founder Mamostudio, Adi Purnomo, menjelaskan paviliun ini lahir dari perhatian terhadap isu air dan ruang hidup. Ia menilai pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam pengembangan desain arsitektur. 

“Saya memiliki perhatian panjang pada persoalan air dan kaitannya dengan arsitektur. Saat pertama kali mempresentasikan ide di hadapan LIXIL, saya pikir mungkin tidak akan berlanjut, namun ternyata langsung disetujui. Kami mencoba mendedikasikan paviliun ini sebagai titik yang semacam oase, memberi ruang hijau ke ruang publik yang lebih besar. Itu kenapa kita bikin namanya jadi OASE, yang kebetulan kata oase berkaitan juga dengan air,” ungkap Adi. 

Adi menilai LIXIL tidak hanya menghadirkan produk, tetapi juga membuka ruang dialog. Ia menyebut riset menjadi fondasi utama dalam pengembangan paviliun tersebut. 

“Saya berterima kasih karena LIXIL sangat terbuka terhadap ide. Mereka tidak memakai kesempatan ini hanya untuk memindahkan showroom ke sini, tetapi lebih kepada bagaimana kita bisa saling sharing. LIXIL memfasilitasi ruang dan menawarkan konsep untuk dipikirkan bersama. Core dari paviliun ini sebenarnya adalah penelitian. Ruang ini hanya sebuah representasi dari perhatian kita terhadap satu isu tertentu yang sedang dihadapi di kota kita,” tambah Adi. 

Peneliti Labtek Apung, Novita Anggraini, mengatakan riset yang ditampilkan menggabungkan berbagai disiplin ilmu. Ia menyebut pendekatan ini mencakup ilmu lingkungan, sejarah, hingga perencanaan kota. 

Menurut Novita, isu sanitasi telah lama memengaruhi perkembangan kota. Ia mencontohkan kondisi Batavia pada masa lalu yang menghadapi krisis akibat pengelolaan air yang buruk. 

“Dari situ kita bisa melihat bahwa persoalan sanitasi dapat mempengaruhi tatanan sosial masyarakat. Sejarah ketergantungan terhadap air dan sanitasi sudah terlihat sejak dulu dalam perjalanan sebuah kota. Riset ini telah dimulai sejak 2015 dan sebelumnya telah dipresentasikan dalam konferensi internasional di Singapura dan Jerman, namun akses publik di Indonesia masih sangat terbatas. Ketika bertemu dengan LIXIL, ini seperti oase. Sebuah riset bertemu dengan ekosistemnya. Semoga paviliun ini menjadi ruang bagi pengunjung untuk merefleksikan perjalanan kita sebagai sebuah peradaban yang terus merespons perkembangan zaman,” ujarnya. 

LIXIL juga menyoroti pentingnya akses sanitasi global. Perusahaan mencatat masih ada 3,4 miliar orang di dunia yang belum memiliki akses sanitasi layak. 

Perusahaan menyatakan telah mencapai target 2026 dengan meningkatkan akses sanitasi bagi 103 juta orang. Upaya ini dinilai memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. 

Selain itu, LIXIL menghadirkan ruang dialog dalam ARCH:ID 2026 melalui sesi diskusi dan open house. Kegiatan ini membahas penerapan data lingkungan dalam desain arsitektur. 

Paviliun OASE juga meraih pengakuan dalam ajang tersebut. Proyek ini memperoleh penghargaan Best Booth Award ARCH:ID 2026. 

Di sisi lain, LIXIL terus mengembangkan program LIXIL Architectural Design Competition (LADC) dan LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD). Kedua program ini menjadi wadah pengembangan ide dan dialog arsitektur di Indonesia. 

“Sejalan dengan visi LIXIL, LADC dan LDAD tahun ini kembali hadir sebagai wadah bertemunya berbagai perspektif untuk membentuk diskursus arsitektur yang lebih kaya. Melalui dialog dan pertukaran ide, arsitektur akan bertransformasi menjadi sebuah percakapan yang hidup, yang terus berevolusi dan relevan dengan tantangan zaman. Ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang kami untuk terus bergerak bersama ekosistem dalam membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik,” tutup Arfindi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *