Dirjen Agro: Industri Makanan Minuman Dongkrak Investasi
Jakarta, Gatranews.id – Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika menyebut pertumbuhan investasi sektor agro didorong dominasi industri makanan dan minuman. Selain itu, industri berbasis kehutanan dan produk lain seperti rokok juga turut berkontribusi.
“Jadi, pertumbuhan investasi di agro itu karena industrinya yang mendominasi adalah industri makanan. Yang kedua itu industri berbasis kehutanan. Nah yang lainnya itu rokok dan sebagainya,” kata Putu di Jakarta, Selasa (21/4).
Ia menegaskan porsi terbesar tetap berasal dari industri makanan dan minuman. Menurutnya, industri makanan dan minuman kini menarik minat luas, terutama dari generasi muda. Apalagi, terdapat tren positif masuknya anak muda ke sektor tersebut.
“Kalau kita lihat salah satunya, misalnya pengolahan kakao. Ini kakao ya. Kakao itu hampir semuanya anak muda yang artisan. Dan itu bisa kita kembangkan,” katanya.
Ia mengungkapkan jumlah industri kakao artisan meningkat signifikan. Pada akhir 2023 tercatat 31 perusahaan, kini telah mencapai sekitar 49 hingga lebih dari 50 pelaku.
“Jadi sebenarnya banyak sekali yang bisa masuk ke industri makanan dan minuman, yang mulainya tidak terlalu besar investasinya,” tutur Putu.
Pemerintah, lanjut dia, turut mendorong perkembangan tersebut melalui berbagai program. Salah satunya program artisan yang juga menyasar petani sebagai pemasok bahan baku.
“Keberhasilan ini juga karena kita memberikan banyak dukungan. Pertama melalui program artisan ini kita mendidik petani yang menyuplai bahan baku. Kita punya program Kakao Doctor,” ucapnya.
Melalui program tersebut, petani mendapatkan pelatihan khusus. Peserta dididik di Sulawesi, kemudian kembali ke daerah masing-masing untuk membina petani lain.
“Ini meningkatkan suplai bahan baku, sehingga saling menguntungkan dengan artisan,” katanya.
Selain pembinaan, pemerintah juga memberikan stimulus investasi. Pelaku usaha dapat memperoleh penggantian biaya mesin dan peralatan hingga 35%.
Dukungan juga datang dari sektor perbankan. Melalui program kredit industri padat karya, pelaku usaha mendapat potongan bunga sebesar 5%.
“Ini sangat luar biasa untuk mengajak pelaku masuk ke industri,” katanya.
Hasilnya mulai terlihat pada pasar ekspor. Produk kakao Indonesia telah menembus pasar Prancis, baik dalam bentuk lemak kakao maupun produk olahan.
Putu menambahkan pemerintah juga mengembangkan industri intermediate. Fokusnya pada pengolahan bahan baku lokal agar tidak bergantung pada impor produk hilir.
Tren konsumsi turut menjadi pendorong investasi. Produk seperti kopi, gelato, dan aneka minuman semakin diminati.
“Program fasilitasi seperti pelatihan, branding, dan pameran juga ikut mendukung,” ujarnya.
Terkait pertumbuhan, asosiasi industri makanan dan minuman sebelumnya optimistis sektor ini tumbuh sekitar 6%. Namun, kondisi global berpotensi memengaruhi proyeksi tersebut.
Ia berharap pertumbuhan tetap terjaga meski ada tekanan eksternal. Menurut dia, sektor makanan dan minuman relatif tahan karena berkaitan dengan kebutuhan pokok.
“Sekarang dengan kondisi seperti ini mudah-mudahan masih bisa dipertahankan, walaupun mungkin ada koreksi. Tapi sektor makanan dan minuman relatif terjaga karena kebutuhan pokok,” ujarnya.
Selama daya beli masyarakat stabil, lanjut Putu, industri ini diperkirakan tetap tumbuh. Hal tersebut menjadi faktor utama keberlanjutan sektor ini ke depan.
