April 20, 2026

Konflik Timur Tengah Memanas, APKLI-P: Harga Plastik Melonjak 100 Persen, Bebani UMKM

  • April 7, 2026
  • 3 min read
Konflik Timur Tengah Memanas, APKLI-P: Harga Plastik Melonjak 100 Persen, Bebani UMKM

Jakarta, Gatranews.id – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang telah memasuki hari ke-39 sejak akhir Februari 2026 mulai memberikan dampak sistemik terhadap ekonomi kerakyatan di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia Perjuangan (APKLI-P), Ali Mahsun, mengungkapkan bahwa dampak paling nyata yang dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) saat ini adalah lonjakan harga bahan baku plastik yang mencapai lebih dari 100 persen.

“Harga plastik yang awalnya Rp10.000 per bungkus, kini sudah tembus Rp21.000. Itu pun barangnya belum tentu ada di toko,” ujar Ali dalam keterangannya, Selasa (7/4).

Krisis Bahan Baku Impor

Menurut Ali, kenaikan tajam ini dipicu oleh terhambatnya pasokan bahan baku plastik atau nafta melalui Selat Hormuz. Ia mencatat sekitar 70 persen kebutuhan nafta Indonesia masih bergantung pada impor dari Timur Tengah.

Meski Menteri Perdagangan Budi Santoso telah mengupayakan alternatif pasokan dari India, Amerika, dan Afrika, Ali menilai solusi tersebut terkendala durasi logistik.

“Kalau dari Timur Tengah hanya butuh 14–15 hari sampai ke Indonesia. Dari India atau Amerika butuh waktu minimal 50 hari. Artinya, ekosistem ekonomi rakyat di sektor per-plastikan ini akan dipaksa mencari keseimbangan baru,” tuturnya.

Apresiasi Kebijakan BBM, Namun Gas Mulai Langka

Di sisi lain, Ali mengapresiasi langkah berani Presiden Prabowo Subianto yang per 31 Maret 2026 memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM dan gas subsidi (LPG 3 kg). Kebijakan ini dinilai sebagai “napas” bagi 70 juta rumah tangga dan 8 juta pengemudi ojek online.

Namun, Ali memberikan catatan kritis terkait ketersediaan stok di lapangan.

“Laporan dari berbagai daerah menunjukkan gas melon 3 kg mulai langka dalam seminggu terakhir. Kami meminta Presiden menjamin ketersediaannya. Kami tidak mempersoalkan berapa pun pinjaman fiskal yang harus diambil negara, mau 100 atau 1.000 triliun sekalipun, yang penting barangnya ada,” tegas Ali.

Strategi Adaptasi UMKM

Menghadapi situasi ini, APKLI-P mengimbau para pedagang dan pelaku UMKM untuk melakukan langkah inovasi dan efisiensi agar tidak langsung menaikkan harga jual yang dapat memukul daya beli masyarakat.

Beberapa langkah adaptasi yang disarankan antara lain:

 Efisiensi Kemasan: Menyatukan belanjaan (seperti bumbu dapur) dalam satu kantong plastik guna menekan biaya operasional.

Penyesuaian Volume: Mengurangi volume produk atau membuat varian baru untuk industri tahu dan tempe yang terdampak kenaikan harga kedelai global.

Desak Percepatan Belanja Negara

Ali berharap pemerintah segera mengucurkan dana hasil efisiensi APBN 2026 sebesar Rp132 triliun untuk mempertebal subsidi dan mempercepat program padat karya.

“Negara harus hadir. Kelangkaan gas dan BBM meski hanya 3–4 hari bisa memicu gejolak sosial politik yang sulit dikendalikan. Jantung rakyat kecil ada di sana,” ucapnya.

Selain itu, ia mendorong perbankan untuk mendongkrak rasio kredit bagi UMKM guna menjaga daya beli yang mulai tertekan akibat lonjakan harga pangan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *