May 25, 2026

May Day: Sejarah Panjang Hari Buruh Sedunia

  • April 30, 2025
  • 2 min read
May Day: Sejarah Panjang Hari Buruh Sedunia

Jakarta, Gatranews.id – Tanggal 1 Mei dikenal di banyak negara sebagai Hari Buruh Internasional atau May Day. Setiap tahun, hari ini diperingati oleh jutaan pekerja di seluruh dunia untuk menuntut keadilan, upah yang layak, dan kondisi kerja yang lebih baik. Namun, sejarah di balik peringatan ini menyimpan cerita perjuangan yang penuh pengorbanan.

May Day berawal dari perjuangan buruh di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Saat itu, sistem kerja sangat tidak manusiawi. Para pekerja bisa diharuskan bekerja hingga 16 jam sehari tanpa jaminan kesehatan dan keselamatan.

Pada 1 Mei 1886, serikat buruh di berbagai kota besar, termasuk Chicago, melakukan aksi besar-besaran untuk menuntut jam kerja dikurangi menjadi 8 jam sehari. Di Chicago, ribuan buruh turun ke jalan, dan aksi berlangsung selama beberapa hari. Puncaknya terjadi pada 4 Mei 1886 di Lapangan Haymarket.

Dalam aksi tersebut, sebuah bom meledak di tengah kerumunan. Polisi merespons dengan tembakan ke arah massa. Peristiwa itu menyebabkan sejumlah orang tewas dan luka-luka. Beberapa tokoh buruh ditangkap dan dihukum mati meski bukti terhadap mereka lemah. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Haymarket Affair dan menjadi simbol perjuangan buruh internasional.

Peristiwa di Haymarket menarik perhatian gerakan buruh di seluruh dunia. Tiga tahun kemudian, pada 1889, Kongres Buruh Internasional di Paris menyepakati 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Sejak itu, May Day diperingati setiap tahun sebagai hari solidaritas pekerja di seluruh dunia.

May Day di Indonesia

Di Indonesia, semangat perjuangan buruh juga berkembang sejak masa kolonial. Namun, peringatan May Day sempat dilarang pada masa Orde Baru karena dianggap identik dengan gerakan kiri. Aksi buruh hanya dilakukan secara terbatas dan tanpa pengakuan resmi.

Baru pada tahun 2013, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Keputusan ini diambil untuk menghargai kontribusi para pekerja dan membuka ruang dialog antara buruh, pengusaha, dan pemerintah.

Saat ini, May Day tidak hanya menjadi ajang unjuk rasa, tetapi juga momentum refleksi atas nasib pekerja di berbagai sektor. Tuntutan yang diangkat beragam, mulai dari kenaikan upah minimum, perlindungan tenaga kerja informal, hingga penolakan terhadap sistem kerja kontrak dan outsourcing yang dianggap merugikan buruh.

Di berbagai negara, May Day diperingati dengan aksi damai, pidato, diskusi publik, hingga pertunjukan seni. Meskipun bentuk peringatannya bisa berbeda-beda, tujuan utamanya tetap sama: “menyuarakan hak-hak pekerja dan memperjuangkan kehidupan yang lebih layak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *