Koperasi Merah Putih di Ujung Timur
Dari Desa Balbar di Tidore, semangat membangun ekonomi gotong royong dimulai. Tapi jalan menuju koperasi ideal masih penuh kerikil.
Sofifi, Gatranews.id – Langit di atas Desa Balbar, Tidore Kepulauan, belum sepenuhnya cerah ketika tenda putih di halaman balai desa itu mulai dipenuhi warga. Sebagian datang dengan baju adat, sisanya mengenakan batik dan kemeja sederhana. Di panggung kecil, sebuah papan nama bertuliskan “Koperasi Merah Putih” berdiri di antara deretan kursi plastik.
Hari itu, 3 Juni 2025, menjadi tonggak sejarah bagi masyarakat desa kecil di Maluku Utara itu. Tepat pukul 11.15 waktu setempat, mereka menuntaskan Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Dengan begitu, Desa Balbar resmi menjadi bagian dari 89 desa dan kelurahan di Kota Tidore Kepulauan yang seluruhnya telah memiliki koperasi desa berbasis gotong royong.
Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi hadir sehari kemudian, mengapresiasi capaian itu. “Ini bukan hanya keberhasilan administratif. Ini simbol perlawanan terhadap rentenir, tengkulak, dan ekonomi yang tidak adil,” katanya, Rabu (4/6) dalam Peluncuran dan Dialog Percepatan Kopdes Merah Putih di Sofifi.
Bertaruh pada Gotong Royong
Program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah sejak 2023 merupakan upaya membangun kembali koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat. Targetnya ambisius: membentuk 80 ribu Kopdes/Kel di seluruh Indonesia. Namun, seperti banyak inisiatif negara, pelaksanaannya tak semudah membalik telapak tangan.
Balbar adalah pengecualian. Dukungan masyarakat setempat dan kekompakan pemerintah desa membuat proses pembentukan koperasi berlangsung relatif cepat. Namun Menteri Budi tidak menutup mata: desa-desa lain belum tentu semudah itu.
Ia menyebut banyak tantangan struktural yang menghadang. Mulai dari rendahnya literasi koperasi di masyarakat, minimnya kepercayaan akibat kasus koperasi bermasalah, hingga bayang-bayang pinjaman online ilegal berkedok koperasi.
“Kita sedang membangun ulang kepercayaan publik terhadap koperasi,” katanya. “Dan itu tidak cukup hanya dengan seremoni.”
Di Antara Tengkulak dan Pinjol
Salah satu tantangan utama yang ingin diatasi lewat Kopdes Merah Putih adalah ketergantungan petani dan nelayan pada tengkulak. Di banyak desa, produk pertanian dihargai murah karena keterbatasan akses pasar dan permodalan. Dalam situasi seperti itu, koperasi bisa menjadi penengah yang adil: membeli hasil tani langsung dari petani dan menjualnya ke pasar dengan margin wajar.
Sayangnya, tak semua koperasi di masa lalu benar-benar berpihak pada rakyat. Banyak koperasi hanya nama, menjadi kedok bagi praktik bisnis sepihak. Celah ini juga yang dimanfaatkan para pelaku pinjol ilegal yang menggunakan nama koperasi untuk menjerat warga desa dalam lilitan utang.
“Kami tidak ingin koperasi hanya jadi label,” ujar Budi. “Harus ada ekosistem yang sehat dan akuntabel.”
Untuk itu, ia menyebut tiga kunci yang menjadi fondasi program ini: People, Organization, dan System. Kualitas sumber daya manusia, kelembagaan yang sah dan kuat, serta dukungan pemerintah pusat dan daerah menjadi unsur yang tak bisa ditawar.
Mimpi dari Timur
Bentuk nyata dari mimpi itu kini hadir di Balbar. Selain koperasi, desa ini sedang membangun gerai sembako, apotek, hingga klinik desa yang dikelola koperasi. “Kami ingin koperasi ini bukan cuma simpan-pinjam, tapi pusat pelayanan warga,” kata Kepala Desa Balbar.
Menteri Budi menyebut Desa Balbar sebagai contoh ideal. Terutama karena wilayah ini memiliki kekayaan lokal, budaya yang kuat, dan masyarakat yang relatif solid. Tapi ia juga mengingatkan, tidak semua desa memiliki keunggulan serupa.
“Keberhasilan koperasi tak bisa diimpor begitu saja,” katanya. “Harus tumbuh dari akar lokal masing-masing.”
Di ujung acara peluncuran, surat keputusan badan hukum koperasi Balbar diserahkan secara simbolis. Bagi warga, surat itu bukan hanya selembar legalitas. Tapi tanda dimulainya perjalanan panjang mengelola ekonomi sendiri—dengan cara mereka sendiri.
