January 12, 2026

Nira Sawit Beri Peluang Ekonomi Baru bagi Petani

  • April 14, 2025
  • 3 min read
Nira Sawit Beri Peluang Ekonomi Baru bagi Petani

Serdang Berdagai, Gatranews.idKementerian Perindustrian mendorong pemanfaatan batang kelapa sawit sebagai sumber nira. Langkah ini dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru bagi petani, terutama saat masa peremajaan kebun.

Upaya tersebut dilakukan lewat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PalmCo/PTPN IV dan Koperasi Produsen Gerak Nusantara (KPGN). Penandatanganan berlangsung di Pabrik Kelapa Sawit Adolina, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Kamis (10/4).

“PKS tersebut merupakan dokumen operasional dari Nota Kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani sebelumnya oleh Kemenperin, PalmCo, dan KPGN. Penandatanganan PKS saat itu disaksikan oleh pimpinan dan anggota Komisi VII DPR RI sebagai bagian kegiatan Kunjungan Kerja Reses DPR RI ke wilayah Sumatera Utara,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (14/4).

Putu menjelaskan, batang kelapa sawit yang tersisa saat replanting dapat dimanfaatkan sebagai sumber nira. Nira sawit memiliki kandungan gula tinggi dan bisa diolah menjadi gula merah berkualitas.

“Nira sawit dikenal memiliki rasa manis yang dihasilkan dari kandungan gula yang tinggi, dan dapat diolah menjadi gula merah berkualitas,” ungkapnya.

Di sejumlah daerah penghasil sawit, seperti Serdang Bedagai, jumlah pengrajin nira terus bertambah. Potensi ini membuka peluang ekonomi baru bagi pekebun.

“Untuk memastikan keberlangsungan usaha gula merah sawit pada skala industri kecil dan menengah (IKM), penting bagi petani untuk membangun sistem manajemen yang efisien,” tutur Putu.

Ia menambahkan, petani perlu memperkuat sistem pengelolaan sumber daya manusia, produksi, dan pemasaran. Pendampingan dari pengrajin berpengalaman juga penting untuk meningkatkan mutu produksi.

“Langkah tersebut akan membantu petani dalam mengelola usaha mereka secara lebih efektif. Asalkan didukung oleh pelatihan dan pendampingan dari pengrajin berpengalaman. Ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi,” imbuhnya.

Pola kemitraan juga didorong untuk membangun kelembagaan antara petani dan pengrajin. “Melalui kerja sama ini, para petani dapat menyediakan bahan baku dari pohon sawit yang mereka tanam sendiri,” ujar Putu.

Menurutnya, investasi pengolahan nira dan gula merah skala satu hektar mencapai sekitar Rp 25 juta. Dana itu digunakan untuk membeli peralatan dan kebutuhan produksi.

“Data menunjukkan bahwa rata-rata jumlah nira yang dihasilkan mencapai 6,8 liter per batang per hari. Rincian produksi mencakup 2,7 liter di pagi hari dan 4,5 liter di sore hari, dengan masa penderesan berlangsung antara 1,5 hingga 2 bulan,” sebut Putu.

Jika petani mengolah sendiri nira sawit, keuntungan bersih yang diperoleh bisa mencapai Rp 18 juta hingga Rp 25 juta per musim. Angka ini didapat dari survei terhadap para pengrajin.

“Inisiatif pengolahan nira dan pemanfaatan batang kelapa sawit ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan nasional, hingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pekebun,” pungkas Putu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *