January 12, 2026

Industri Manufaktur Masih Ekspansi, Pasar Domestik Terus Dioptimalkan

  • March 26, 2025
  • 4 min read
Industri Manufaktur Masih Ekspansi, Pasar Domestik Terus Dioptimalkan

Jakarta, Gatranews.id – Pelaku industri dalam negeri masih optimistis terhadap iklim usaha di Indonesia. Optimisme ini tetap tinggi di tengah tekanan produk impor pada pasar domestik.

Aktivitas manufaktur diyakini akan meningkat jika ada kebijakan pro-industri. Peluang permintaan di pasar domestik yang besar juga menjadi faktor pendukung.

Beberapa industri dalam negeri mulai merasakan tekanan akibat perang tarif. Tekanan ini terutama dirasakan oleh industri yang berorientasi ekspor ke negara-negara yang terlibat perang dagang.

Optimisme ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2025 yang berada di level ekspansi, yaitu 52,98. Namun, angka ini melambat 0,17 poin dibanding Februari 2025 dan turun 0,07 poin dibanding Maret tahun lalu.

“Perlambatan IKI pada Maret ini salah satunya karena adanya libur Lebaran, yang biasanya produksi ikut mengalami penurunan. Perusahaan meningkatkan produksinya dua atau tiga bulan sebelum Ramadan dan Lebaran untuk dapat memenuhi peningkatan permintaan bulan Ramadan hingga Lebaran. Kami juga mendapatkan laporan penurunan penjualan produk makanan dan minuman serta tekstil dan produk tekstil (TPT) beberapa hari menjelang Lebaran dan liburan setelah Lebaran,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief di Jakarta, Rabu (26/3).

Didorong 21 Subsektor

Ekspansi IKI Maret 2025 ini didorong oleh 21 subsektor. Subsektor ini menyumbang 96,5% terhadap PDB industri pengolahan non-migas di triwulan IV tahun 2024. Dari 23 subsektor yang dianalisis, dua subsektor mengalami kontraksi.

“Untuk dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi (ekspansi) adalah industri pencetakan dan reproduksi media rekaman (KBLI 18) serta industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional (KBLI 21). Sedangkan dua subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri furnitur (KBLI 31) serta industri karet, barang dari karet dan plastik (KBLI 22),” jelasnya.

Febri menambahkan, ekspansi IKI didukung oleh tiga variabel utama. Pesanan baru, produksi, dan persediaan.

“Variabel pesanan baru tetap ekspansi meskipun mengalami perlambatan sebesar 0,88 poin dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 53,69,” ungkapnya.

Produksi meningkat 0,66 poin menjadi 51,21. Persediaan juga naik 0,34 poin menjadi 53,86 dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan permintaan luar negeri akibat ketidakpastian global menjadi salah satu penyebab perlambatan pesanan baru. Meski begitu, ekspansi produksi dan persediaan menunjukkan permintaan produk manufaktur di dalam negeri tetap tinggi pada Maret 2025.

“Momentum bulan Ramadan dan persiapan Hari Raya merupakan salah satu pemicu peningkatan kinerja industri manufaktur karena meningkatkan demand domestik produk manufaktur. Namun daya angkatnya berkurang karena tekanan banjir produk impor murah,” papar Febri.

Empat Alasan Pentingnya Pasar Domestik

Febri menegaskan ada empat alasan pentingnya pasar domestik bagi industri manufaktur.

Pertama, 80 persen produk manufaktur dijual di pasar domestik, dan 20 persen sisanya diekspor. Pasar domestik terdiri dari pembelian oleh pemerintah, swasta, dan rumah tangga. “Kebutuhan dari tiga komponen tersebut membentuk demand domestik. Ketika demand domestik naik, maka kinerja manufaktur ikut naik,” ujarnya.

Kedua, pasar domestik menjadi penarik investasi asing di Indonesia. Menurut Febri, pasar yang besar menarik investor global untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia. “Mereka bersedia berproduksi karena menilai potensi besar pasar domestik Indonesia,” ujarnya.

Ketiga, manufaktur merupakan sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar. Pada 2024, terdapat 19 juta tenaga kerja di sektor ini. “Ketika manufaktur memiliki kinerja baik, maka pendapatan 19 juta pekerja ikut naik. Sebaliknya, tekanan dari produk impor mengancam ekonomi para pekerja dan keluarganya,” imbuhnya.

Keempat, demand domestik mendorong daya saing produk lokal. “Peningkatan demand domestik dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah, produktivitas, inovasi, dan daya saing manufaktur. Harapannya, industri Indonesia dapat masuk lebih dalam ke Global Value Chain manufaktur global,” jelas Febri.

Optimisme Industri 6 Bulan ke Depan

IKI Maret mencatat tingkat optimisme pelaku usaha selama enam bulan ke depan sebesar 69,2 persen. Angka ini turun 3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Persentase responden yang menyatakan ‘tetap’ naik menjadi 24,5 persen, sementara yang pesimis turun menjadi 6,3 persen.

Perang dagang global menjadi tantangan bagi industri manufaktur Indonesia. Produk manufaktur asing yang sulit masuk ke pasar Amerika Serikat bisa masuk ke Indonesia akibat perang tarif.

“Namun demikian, Kementerian Perindustrian tetap berupaya melindungi industri dalam negeri melalui penerapan kebijakan SNI dan TKDN. Selain itu, untuk menekan impor, Kementerian Perindustrian melakukan relaksasi peraturan impor dan menyusun non-tariff measure. Sekali lagi kebijakan ini bertujuan melindungi industri dalam negeri dari gempuran produk impor. Melindungi industri dalam negeri berarti melindungi 19 juta rakyat Indonesia yang bekerja pada industri dalam negeri,” tegas Febri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *