Fenomena “Tarawih Ekspres”: Ibadah atau Sekadar Formalitas?
Jakarta, Gatranews.id – Setiap bulan Ramadhan, umat Islam berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Namun, di berbagai tempat, muncul fenomena “Tarawih Ekspres”, yakni shalat yang dilakukan dengan tempo sangat cepat, seolah-olah dikejar waktu.
Dalam praktiknya, imam membaca surah dengan ritme yang sulit diikuti, sementara ruku’ dan sujud dilakukan sekilas tanpa tuma’ninah. Banyak jamaah yang merasa kesulitan untuk benar-benar memahami dan menghayati ibadah ini karena harus mengikuti ritme cepat dari imam.
Lantas, apakah shalat seperti ini tetap sah dan sesuai dengan ajaran Islam?
Tarawih dalam Sunnah Rasulullah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan shalat malam dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan. Dalam hadits riwayat Abu Dawud, disebutkan bahwa Rasulullah pernah membaca surat Al-Baqarah, An-Nisa’, dan Ali Imran dalam satu rakaat ketika shalat malam. Ini menunjukkan bahwa beliau melaksanakan shalat dengan perlahan dan penuh penghayatan.
Selain itu, Rasulullah juga menekankan pentingnya keseimbangan dalam shalat berjamaah. Beliau bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian menjadi imam, maka hendaklah ia meringankan shalatnya, karena di antara jamaah ada yang lemah, sakit, atau memiliki keperluan. Tetapi jika ia shalat sendiri, maka ia boleh memanjangkannya sesuka hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengajarkan bahwa meskipun imam dianjurkan untuk tidak terlalu lama dalam membaca ayat, bukan berarti ia boleh terburu-buru hingga mengorbankan rukun shalat.
Tuma’ninah: Kunci Sahnya Shalat
Salah satu syarat utama dalam shalat adalah tuma’ninah, yaitu jeda sejenak dalam setiap gerakan agar tubuh benar-benar tenang. Rasulullah pernah menegur seseorang yang shalat terlalu cepat dan bersabda:
“Kembalilah dan shalatlah, karena engkau belum shalat!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadits ini, jelas bahwa shalat yang dilakukan tanpa tuma’ninah berisiko dianggap tidak sah. Oleh karena itu, imam dan jamaah seharusnya memahami pentingnya ketenangan dalam shalat, bukan hanya sekadar menyelesaikan ibadah secepat mungkin.
Mengapa “Tarawih Ekspres” Semakin Populer?
Fenomena shalat tarawih kilat ini terjadi karena beberapa alasan, antara lain:
- Keinginan menyelesaikan ibadah dengan cepat
Banyak jamaah ingin segera selesai agar bisa beristirahat atau melakukan aktivitas lain. - Tradisi yang berkembang di beberapa masjid
Beberapa masjid memang terbiasa melaksanakan tarawih dengan tempo cepat, sehingga jamaah menganggapnya sebagai hal yang wajar. - Minimnya pemahaman tentang shalat yang benar
Sebagian orang tidak menyadari bahwa shalat yang terlalu cepat dapat berpengaruh terhadap keabsahan ibadah mereka. - Jumlah rakaat yang banyak
Beberapa masjid tetap mempertahankan 20 rakaat tarawih, sehingga untuk menghemat waktu, pelaksanaannya dilakukan dengan cepat.
Bagaimana Seharusnya Tarawih Dilaksanakan?
Agar shalat tarawih benar-benar menjadi ibadah yang bermakna, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Menjaga keseimbangan antara jumlah rakaat dan kekhusyukan
Jika tidak mampu melaksanakan 20 rakaat dengan baik, lebih baik memilih 8 rakaat dengan tuma’ninah dan penghayatan yang maksimal. - Mengikuti tuntunan Rasulullah
Shalat seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar rutinitas yang dilakukan dengan tergesa-gesa. - Memastikan tuma’ninah dalam setiap gerakan
Baik imam maupun jamaah perlu memahami bahwa shalat yang sah adalah shalat yang memenuhi rukunnya, termasuk tuma’ninah dalam setiap gerakan. - Meningkatkan pemahaman tentang shalat yang benar
Masjid dan lembaga keislaman sebaiknya memberikan edukasi kepada jamaah tentang pentingnya kualitas shalat, bukan hanya mengejar kuantitas.
Fenomena “Tarawih Ekspres” seharusnya menjadi bahan refleksi bagi umat Islam. Ibadah yang dilakukan dengan cepat tanpa tuma’ninah bukan hanya mengurangi kekhusyukan, tetapi juga dapat mempengaruhi keabsahan salat.
Sebagai umat Islam, kita seharusnya mengikuti contoh Rasulullah dalam beribadah. Jika tujuan utama shalat adalah mendekatkan diri kepada Allah, maka lebih baik beribadah dengan penuh penghayatan daripada tergesa-gesa tanpa makna. Mari jadikan Ramadhan sebagai momen untuk meningkatkan kualitas ibadah, bukan sekadar kecepatan dalam melaksanakannya.
