Israel Kembali Gempur Gaza! Operasi Darat Dilanjutkan
Yerusalem, Gatranews.id – Militer Israel kembali melancarkan operasi darat di Jalur Gaza, Rabu (20/3). Serangan ini dilakukan setelah serangan udara dua hari berturut-turut.
Serangan udara pada Selasa (19/3) menewaskan lebih dari 400 warga Palestina. Jumlah itu menjadi salah satu yang tertinggi sejak konflik pecah pada Oktober 2023. Gencatan senjata yang berlangsung sejak Januari kini terguncang.
Dilansir Reuters, Militer Israel menyatakan operasi darat bertujuan memperluas kendali atas Koridor Netzarim, jalur strategis yang membelah Gaza. Israel menyebut langkah ini sebagai upaya menciptakan zona buffer antara bagian utara dan selatan Gaza.
Kelompok Hamas mengecam langkah Israel. Mereka menyebut serangan darat ini sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang telah berlangsung dua bulan. Hamas meminta mediator internasional turun tangan.
Serangan ke Fasilitas PBB
PBB melaporkan serangan di Gaza Tengah menewaskan seorang staf asing dan melukai lima pekerja lainnya pada Rabu. Kementerian Kesehatan Gaza menuding Israel sebagai pelaku serangan. Namun, militer Israel membantah dan mengklaim sasarannya adalah lokasi Hamas yang diduga tengah menyiapkan serangan ke wilayah Israel.
Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Layanan Proyek, Jorge Moreira da Silva, menegaskan bahwa Israel mengetahui lokasi tersebut adalah fasilitas PBB yang dihuni dan digunakan untuk bekerja.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam serangan itu. Ia menyerukan investigasi menyeluruh. Sejak konflik meletus pada 7 Oktober 2023, sebanyak 280 staf PBB dilaporkan tewas di Gaza.
AS Dorong Perpanjangan Gencatan Senjata
Amerika Serikat menyalahkan Hamas atas berlanjutnya konflik. Washington menyebut masih ada proposal gencatan senjata yang mencakup perpanjangan jeda tempur serta pembebasan sandera yang ditahan Hamas di Gaza.
“Kesempatan ini masih ada, tetapi akan segera tertutup,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS. Menurutnya, tanggapan Hamas terhadap proposal tersebut tidak dapat diterima.
Duta Besar Israel untuk Bulgaria, Yosef Levi Sfari, menyampaikan belasungkawa atas kematian seorang pekerja PBB asal Bulgaria. Ia mengatakan insiden itu masih diselidiki, tetapi pemeriksaan awal tidak menemukan kaitan dengan militer Israel.
Gelombang Protes di Israel
Keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melanjutkan serangan ke Gaza memicu protes di dalam negeri. Sebanyak 59 sandera dilaporkan masih ditahan Hamas, dengan 24 di antaranya diyakini masih hidup.
Koalisi keluarga sandera dan para pengkritik Netanyahu menuduhnya menggunakan perang untuk kepentingan politik.
Di tengah meningkatnya kekerasan, Israel kembali menjatuhkan selebaran peringatan di Gaza utara dan selatan, memerintahkan warga mengungsi.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa jika sandera tidak dibebaskan, Israel akan bertindak dengan kekuatan lebih besar.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 49.000 warga Gaza dilaporkan tewas akibat serangan Israel. Konflik juga menyebabkan krisis kemanusiaan dengan kelangkaan pangan, bahan bakar, dan air.
Israel menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia, sementara Hamas membantahnya dan menuding Israel melakukan serangan tanpa pandang bulu.
Reaksi Dunia
Sejumlah negara, termasuk Prancis dan Jerman, mengecam serangan Israel. Qatar dan Mesir, yang bertindak sebagai mediator, juga mengkritik langkah tersebut.
Raja Yordania Abdullah II menyerukan pemulihan gencatan senjata dan peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
“Dilanjutkannya serangan Israel terhadap Gaza adalah langkah yang sangat berbahaya,” kata Raja Abdullah dalam kunjungannya ke Paris untuk bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron.
