Masalah Hipertensi, Tanggung Jawab Siapa?
Jakarta, Gatranews.id – Hipertensi masih menjadi ancaman kesehatan yang belum tertangani dengan optimal di Indonesia. Penyakit ini dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala hingga menyebabkan komplikasi serius, seperti stroke, gagal jantung, dan penyakit ginjal. Namun, rendahnya keberhasilan pengendalian hipertensi bukan sekadar masalah individu, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, dan masyarakat secara luas.
Dalam konferensi pers The 19th Scientific Meeting Indonesian Society of Hypertension (InaSH) 2025, Ketua InaSH, dr. Eka Harmeiwaty, Sp.N, mengungkapkan bahwa hanya satu dari tiga pasien hipertensi di Indonesia yang mencapai target pengobatan. “Menurut RISKESDAS 2018, hanya 33% pasien yang berhasil mengendalikan tekanan darahnya. Hasil survei May Measurement Month (MMM) yang dilakukan PERHI juga menunjukkan bahwa target pengobatan hipertensi baru tercapai pada 38,2% pasien. Jika Indonesia ingin mencapai target pengendalian hipertensi sebesar 50%, maka setidaknya 24,3 juta penduduk dengan hipertensi harus mendapatkan pengobatan yang efektif,” ujarnya.
Ancaman Hipertensi dalam Kehamilan
Salah satu kelompok yang rentan terhadap hipertensi adalah ibu hamil. Hipertensi dalam kehamilan dapat meningkatkan risiko preeklamsia, eklamsia, gangguan pertumbuhan janin, hingga kematian ibu dan bayi. Dalam beberapa kasus, hipertensi juga menyebabkan kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah, yang berpotensi mengganggu perkembangan anak dalam jangka panjang.
“Pencegahan hipertensi sejak dini, termasuk dalam kehamilan, sangat penting untuk mengurangi risiko komplikasi yang lebih serius,” tambah dr. Eka. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemantauan tekanan darah secara berkala harus menjadi bagian dari kebijakan kesehatan nasional.
Faktor Risiko dan Tantangan Pengendalian
Faktor utama yang memicu hipertensi di Indonesia meliputi kebiasaan merokok, obesitas, konsumsi garam berlebihan, serta faktor genetik. Namun, belum adanya kebijakan pemerintah yang secara eksplisit melarang merokok dan kurangnya promosi hidup sehat masih menjadi kendala besar dalam pengendalian penyakit ini.
“Masalah utama di Indonesia mirip dengan negara-negara Asia Pasifik lainnya. Tingkat diagnosis masih rendah, kepatuhan pasien terhadap pengobatan kurang, dan konsumsi makanan tinggi garam masih menjadi kebiasaan. Selain itu, akses ke layanan kesehatan yang terbatas serta faktor sosial-ekonomi juga menjadi hambatan,” jelas dr. Eka.
Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan hipertensi adalah fenomena clinical inertia, yaitu kurangnya intensifikasi pengobatan oleh tenaga medis sesuai pedoman yang berlaku. “Tenaga medis harus lebih aktif dalam memberikan terapi yang sesuai untuk menekan angka hipertensi di Indonesia,” tegasnya.
Peran Genomik dalam Pencegahan Hipertensi
Pendekatan terbaru dalam dunia medis menunjukkan bahwa hipertensi juga bisa dilihat dari sisi genomik. Studi mengungkapkan bahwa 60,1% kasus hipertensi berkaitan dengan faktor genetik. Tes genomik kini semakin berkembang untuk membantu mendeteksi risiko hipertensi lebih dini, sehingga memungkinkan pencegahan dan pengobatan yang lebih personal.
“Tes genomik dapat mengidentifikasi gen spesifik yang berhubungan dengan hipertensi. Dengan begitu, kita bisa melakukan intervensi lebih awal sebelum penyakit berkembang lebih jauh,” kata dr. Eka.
Strategi Pengendalian Hipertensi di Indonesia
Untuk menekan angka hipertensi di Indonesia, sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) perlu diperkuat di layanan kesehatan primer. Ini mencakup penyediaan pedoman hipertensi berbasis bukti terbaru, pelatihan tenaga medis, serta sistem distribusi obat yang lebih baik agar pasien mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan.
“Program pengendalian hipertensi harus dievaluasi secara berkala agar efektivitasnya tetap terjaga. Ini mencakup pemantauan di komunitas serta pusat pelayanan kesehatan,” ungkap Prof. Dr. dr. Teguh A.S. Ranakusuma, Sp.N(K), anggota dewan penasihat InaSH.
Menurutnya, perubahan pola pikir dari pendekatan kuratif ke preventif menjadi langkah krusial. “Pencegahan sejak dini, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi seperti usia di atas 40 tahun, obesitas, diabetes, dan riwayat keluarga hipertensi, harus menjadi prioritas utama,” tambahnya.
InaSH sebagai organisasi di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terus berupaya meningkatkan edukasi mengenai hipertensi. Upaya ini mencakup penerbitan buku panduan Penatalaksanaan Hipertensi pada Periode Peripartum, penyelenggaraan pertemuan ilmiah tingkat Asia Pasifik, serta berbagai pelatihan untuk tenaga medis dan masyarakat.
Dengan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan pengendalian hipertensi di Indonesia dapat mencapai target yang lebih baik. Kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat dan deteksi dini harus menjadi agenda utama dalam upaya menurunkan prevalensi hipertensi secara nasional.
