AstraZeneca Indonesia dan Kimia Farma Trading & Distribution Perkuat Transformasi Layanan Kesehatan Primer
Jakarta, Gatranews.id – AstraZeneca Indonesia menjalin kemitraan strategis dengan Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD) melalui perjanjian distributor eksklusif khusus.
Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan layanan kesehatan primer di Indonesia, terutama dalam penanganan asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menegaskan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen AstraZeneca dalam memperluas akses dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi pasien dengan penyakit pernapasan kronis.
“Kemitraan dengan KFTD ini menegaskan dedikasi kami untuk memperkuat layanan kesehatan primer dan memastikan pasien asma serta PPOK mendapatkan perawatan terbaik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (12/2).
Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman (MoU) yang sebelumnya ditandatangani dengan Kementerian Kesehatan. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem layanan kesehatan, mulai dari skrining dan diagnosis dini Penyakit Tidak Menular (PTM), peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, hingga optimalisasi pengelolaan penyakit dengan pengobatan inovatif berbasis panduan medis.
Esra menambahkan bahwa kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah sangat penting untuk memperkuat sistem layanan kesehatan primer di Indonesia.
“Kami berharap sinergi ini dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer sehingga memberikan dampak positif bagi pasien asma dan PPOK di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Selain itu, kolaborasi ini juga menjadi langkah strategis dalam menghadapi tantangan kesehatan yang terus berkembang di masyarakat. AstraZeneca dan KFTD berkomitmen untuk mendistribusikan produk kesehatan inovatif dan berkualitas tinggi guna memastikan akses yang lebih luas bagi pasien yang membutuhkan.
“Dengan memanfaatkan kekuatan bersama, kami dapat membangun ekosistem kesehatan yang lebih kuat, memberikan manfaat bagi pasien maupun tenaga medis di seluruh Indonesia,” tambah Esra.
Melalui kerja sama ini, diharapkan lebih dari 10.500 Puskesmas yang tersebar di 560 Dinas Kesehatan Provinsi dapat semakin meningkatkan akses pasien terhadap pengobatan dan perawatan asma serta PPOK.
Plt Direktur Utama sekaligus Direktur Operasional PT Kimia Farma Trading & Distribution, Tomy Faisal, menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memastikan ketersediaan obat-obatan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
“Kami sangat antusias dan berterima kasih kepada AstraZeneca atas kerja sama ini. Melalui kemitraan ini, kami berharap dapat memperluas akses masyarakat terhadap pengobatan yang mereka butuhkan. Kami bangga menjadi bagian dari inisiatif ini dan optimis bahwa sinergi ini akan memberikan dampak yang positif,” ujar Tomy.
Tantangan dan Upaya Peningkatan Penanganan Asma di Indonesia
Berdasarkan Global Asthma Report 2022, prevalensi gejala asma secara global tercatat sebesar 9,1% pada anak-anak, 11% pada remaja, dan 6,6% pada orang dewasa. Angka ini bervariasi berdasarkan tingkat pendapatan negara, dengan prevalensi lebih rendah di negara berpendapatan menengah ke bawah dan lebih tinggi di negara maju.
Sementara itu, data dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menunjukkan bahwa pada tahun 2023, jumlah penderita asma di Indonesia mencapai lebih dari 12 juta kasus, atau sekitar 4,5% dari total populasi. Pada tahun yang sama, prevalensi PPOK di Indonesia mencapai 5,6% atau sekitar 4,8 juta penderita.
Sayangnya, penanganan asma di tingkat layanan kesehatan primer masih dapat ditingkatkan agar lebih selaras dengan panduan klinis terkini. Salah satu tantangan utama adalah belum optimalnya penggunaan Inhaled Corticosteroids (ICS), yang merupakan terapi standar dalam pengobatan asma.
Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih intensif untuk meningkatkan diagnosis yang tepat serta memperluas akses terhadap pengobatan yang sesuai. Pengelolaan asma yang optimal mencakup kombinasi terapi, termasuk penggunaan kortikosteroid inhalasi untuk mengendalikan peradangan serta bronkodilator inhalasi guna melegakan saluran napas.
Melalui kerja sama ini, AstraZeneca Indonesia dan KFTD berharap dapat memperkuat layanan kesehatan primer dan meningkatkan kualitas hidup para pasien dengan penyakit pernapasan kronis di Indonesia.
