
Mahasiswa Polman Bandung Bawa Konsep Ekonomi Sirkular ke Desa Parungserab
Pengelolaan sampah organik menjadi tantangan yang masih dihadapi sejumlah wilayah perdesaan. Di Desa Parungserab, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, persoalan tersebut coba dijawab mahasiswa Politeknik Manufaktur Bandung (Polman Bandung) melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular.
Gagasan itu mengantarkan Tim Unit Kegiatan Mahasiswa Kewirausahaan dan Kreativitas (UKM KWU) Polman Bandung menjadi salah satu penerima pendanaan nasional Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026.
Kepastian tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti Nomor 1752/DST/B2/DT.01.01/2026 tertanggal 21 Mei 2026.
Alih-alih memandang sampah sebagai limbah yang harus dibuang, tim mahasiswa tersebut merancang skema pemanfaatan sampah organik dan sisa makanan menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Program yang diusung bertajuk “Penguatan Ekonomi Sirkular Desa melalui Pemanfaatan Sampah Organik dan Sisa Makanan Berbasis Budidaya Maggot dan Pakan Pelet di Desa Parungserab.”
Ketua Tim PPK Ormawa UKM KWU Polman Bandung, Muhammad Risky, mengatakan program tersebut disusun berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di RT 01 RW 08, Desa Parungserab.
Dari hasil pengamatan di lapangan, mahasiswa menemukan adanya timbulan sampah organik yang berpotensi untuk diolah dan dimanfaatkan kembali.
Dalam rancangan program tersebut, sampah organik akan digunakan sebagai media budidaya maggot atau Black Soldier Fly (BSF). Maggot kemudian dapat dikembangkan sebagai sumber bahan pakan, sementara hasil pengolahan berikutnya diarahkan untuk menghasilkan pakan ternak dan pelet ikan.
Proses pengolahan juga akan didukung teknologi tepat guna berupa mesin pencacah sampah dan mesin pencetak pelet.
Dengan pendekatan tersebut, program tidak hanya diarahkan untuk mengurangi sampah yang berakhir sebagai limbah, tetapi juga membangun rantai ekonomi baru di tingkat desa.
Sampah organik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi diharapkan dapat masuk kembali ke dalam siklus produksi. Pada saat yang sama, masyarakat memperoleh peluang untuk mengembangkan usaha berbasis pengolahan sampah dan pakan.
Tim PPK Ormawa tersebut terdiri atas Muhammad Risky sebagai ketua bersama 14 mahasiswa lainnya. Mereka didampingi Khariful Syukri, S.T., M.A.B. sebagai dosen pendamping serta Tendy Muslihin, S.Tr.T., M.B.A. sebagai dosen pembina UKM KWU.
Program ini juga melibatkan Pemerintah Desa Parungserab dan masyarakat setempat sejak tahap perencanaan.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting karena keberhasilan program ekonomi sirkular di tingkat desa tidak hanya bergantung pada teknologi pengolahan, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama.
Bagi tim mahasiswa, lolos pendanaan PPK Ormawa 2026 bukan merupakan akhir dari program. Sebaliknya, pencapaian tersebut menjadi awal implementasi gagasan yang telah disusun berdasarkan kondisi di lapangan.
Mengusung semangat “Movement for Better Greenery” (MBG), Tim PPK Ormawa UKM KWU Polman Bandung menargetkan program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan dan mendorong kemandirian masyarakat Desa Parungserab.
Keberhasilan program nantinya akan sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam mengelola sistem tersebut secara mandiri setelah pendampingan mahasiswa berakhir.
Melalui pendekatan ekonomi sirkular, mahasiswa Polman Bandung berupaya menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak semata-mata merupakan masalah lingkungan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi pemberdayaan dan penciptaan nilai ekonomi di tingkat masyarakat.
You may also like
Archives
- September 2026
- August 2026
- July 2026
- June 2026
- May 2026
- April 2026
- March 2026
- February 2026
- January 2026
- December 2025
- November 2025
- October 2025
- September 2025
- August 2025
- July 2025
- June 2025
- May 2025
- April 2025
- March 2025
- February 2025
- January 2025
- December 2024
- November 2024
- October 2024
- September 2024
- August 2024
- July 2024

Leave a Reply