Dugaan Pengaturan Tender di Pertamina, Sosok GS Jadi Sorotan
Jakarta, Gatranews.id – Sosok berinisial GS menjadi perhatian dalam polemik dugaan pengaturan tender proyek di lingkungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Nilai proyek tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$10,9 juta.
Nama GS mencuat seiring munculnya indikasi adanya pihak yang diduga mengatur jalannya proses pengadaan. Sejumlah kalangan mulai mempertanyakan transparansi tender bertajuk “Fluid Engineering Services Management” yang dimenangkan oleh PT BI.
Proses tender itu diduga tidak berjalan sepenuhnya kompetitif. Ada dugaan bahwa pemenang telah diarahkan sejak awal.
Sekretaris Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Hengki Seprihadi, mengatakan pihaknya menerima informasi terkait dugaan keterlibatan individu tertentu dalam proses tersebut. Informasi itu kemudian mengarah pada sosok GS.
“Dari informasi yang kami peroleh, terdapat indikasi koordinasi oleh seseorang berinisial GS dalam proses tender ini,” ujar Hengki.
Hengki menjelaskan, GS disebut kerap mencatut nama “Kando Kantor Slipi” dalam berbagai interaksi di lingkungan Pertamina. Hal ini membuat sejumlah pejabat mengira GS memiliki posisi resmi di kantor tersebut.
Ia juga disebut sering berada di kawasan kantor Slipi sejak pagi hari. Penampilannya yang menyerupai pejabat membuat kehadirannya tidak menimbulkan kecurigaan.
Menurut Hengki, GS juga aktif berinteraksi di lingkungan Pertamina dan SKK Migas. Aktivitas itu diduga menjadi bagian dari upaya memengaruhi proses pengadaan.
Selain itu, sejumlah pertemuan yang diduga berkaitan dengan pengaturan tender disebut berlangsung di Fraser Residence Menteng, Jakarta Pusat. Lokasi tersebut diketahui merupakan tempat tinggal GS.
Pada akhir Juli 2025, GS juga sempat menemui Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman, di kawasan Pasar Santa, Kebayoran Baru. Namun, menurut Hengki, GS tidak memberikan penjelasan saat dimintai klarifikasi.
Sumber lain menyebut GS diduga memiliki kedekatan dengan seorang pejabat BUMN berinisial SH. Nama SH disebut-sebut kerap digunakan GS dalam berbagai komunikasi.
Pejabat tersebut sebelumnya diketahui pernah menjabat di lembaga pengawasan yang menangani pemeriksaan sejumlah institusi. Di antaranya Pertamina, Kementerian ESDM, SKK Migas, hingga bank Himbara.
Nama SH juga diduga dicatut untuk kepentingan proyek dan akses pembiayaan. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi dari pihak-pihak terkait.
Dugaan ini berawal dari temuan CERI terhadap proses pengadaan proyek dengan nomor SPHR 010191A. Berdasarkan dokumen yang dihimpun, proyek itu dimenangkan PT BI melalui surat penunjukan tertanggal 3 Juli 2025.
Nilai kontrak maksimal proyek tersebut mencapai USD10.957.348,24. Masa kerja proyek berlangsung dari 4 September 2025 hingga 3 November 2026.
Hengki menambahkan, pekerjaan drilling fluid service management pada 2025 dibagi menjadi tiga paket. Paket tersebut terdiri dari paket A, paket B, dan paket C.
“Bagi BPK dan aparat penegak hukum, sebetulnya sangat mudah mengungkap dugaan pengaturan tender paket C yang dimenangkan oleh PT BI,” kata Hengki.
Ia membandingkan proses tender paket lain yang dinilai lebih kompetitif. Paket A diikuti tujuh perusahaan dan dimenangkan PT Matra Unikatama.
Sementara itu, paket B dimenangkan konsorsium PT Solstice Energy Services dan PT Prima Hidrokarbon Internusa. Kedua paket tersebut dinilai menunjukkan persaingan harga yang lebih terbuka.
“Begitu kita bandingkan, tentu akan diperoleh harga penawaran yang bersaing menguntungkan Pertamina daripada hasil tender paket C yang dimenangkan oleh PT BI,” pungkas Hengki.
