May 1, 2026

Trump Klaim Negosiasi Perdamaian dengan Iran, Harga Minyak Dunia Turun Drastis

  • March 25, 2026
  • 2 min read
Trump Klaim Negosiasi Perdamaian dengan Iran, Harga Minyak Dunia Turun Drastis

Washington DC, Gatranews.id – Harga minyak dunia merosot tajam pada awal perdagangan Asia, Rabu (25/3). Penurunan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan negosiasi perdamaian dengan Iran sedang berlangsung.

Minyak mentah Brent turun 6,6% menjadi US$97,56 per barel. Sementara minyak mentah AS terkoreksi lebih dari 5,5% ke level US$87,20 per barel.

Trump pada Selasa (24/3) mengatakan pembicaraan untuk mengakhiri perang sedang terjadi saat ini. Ia menyebut pihak yang berdiskusi dengan AS yakni Iran sangat ingin mencapai kesepakatan.

Namun, klaim itu dibantah pejabat di Teheran. Pemerintah Iran pada Senin (23/3) menyebut kabar perundingan dengan AS sebagai berita palsu, di tengah saling serang antara Israel dan Iran yang terus berlanjut.

Dilansir dari BBC, Trump menyatakan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio terlibat dalam pembahasan tersebut. Ia juga mengeklaim serangan gabungan AS dan Israel ke Teheran telah memicu perubahan rezim.

Presiden AS itu kembali menegaskan bahwa para pemimpin Iran sepakat tidak akan memiliki senjata nuklir. Teheran sebelumnya membantah pernah berkomunikasi dengan Washington dan menyebut klaim itu sebagai upaya memanipulasi pasar.

Harga Brent sempat kembali menembus US$100 per barel pada Selasa (24/3). Meski turun, harganya masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu.

Konflik ini memicu krisis energi global. Sejumlah pemerintah mengumumkan langkah-langkah untuk meredam dampaknya terhadap perekonomian.

Harga minyak dan gas melonjak sejak perang dimulai. Iran secara efektif memblokade Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia setiap hari.

Gejolak juga terasa di pasar keuangan global. Pergerakan indeks saham dan komoditas mengalami fluktuasi tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Sejumlah pemimpin perusahaan besar dunia memperingatkan dampak lanjutan konflik. Kepala perusahaan energi Shell menyebut potensi kekurangan pasokan minyak di Eropa bisa terjadi bulan depan.

Chief Executive Officer Shell, Wael Sawan, mengatakan Asia Selatan menjadi kawasan pertama yang terdampak. “Itu kemudian bergeser ke Asia Tenggara, Asia Timur Laut, dan selanjutnya lebih besar ke Eropa saat memasuki April,” ujarnya dalam konferensi energi di Houston.

Sementara itu, CEO perusahaan investasi BlackRock, Larry Fink, memperingatkan risiko resesi global. Ia mengatakan, resesi dapat terjadi jika harga minyak menembus US$150 per barel.

Menurut Fink, harga minyak bisa bertahan di atas US$100, bahkan mendekati US$150 per barel selama bertahun-tahun jika konflik tidak diselesaikan. Kondisi itu akan membawa implikasi mendalam terhadap ekonomi dan berpotensi memicu resesi yang tajam dan dalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *