KSPN Kritik Jersey Timnas dari Produsen Asing, Soroti Dukungan bagi Industri Garmen Nasional
Jakarta, Gatranews.id – Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) menyayangkan keputusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menjalin kerja sama dengan produsen apparel olahraga asal Spanyol, Kelme, sebagai penyedia resmi jersey tim nasional hingga 2030.
Presiden KSPN, Ristadi menilai keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keberpihakan terhadap industri nasional. Menurut dia, sektor tekstil dan garmen dalam negeri saat ini tengah menghadapi tekanan serius.
“Kita tahu industri tekstil garmen merupakan sektor padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja dan saat ini membutuhkan dukungan nyata dari berbagai pihak,” ujar Ristadi dalam keterangan tertulis pada Sabtu (14/33).
Ia mengatakan banyak pabrik garmen menghadapi tantangan berat. Kondisi itu dipicu oleh penurunan permintaan global, meningkatnya biaya produksi, serta persaingan dengan produk impor.
Dalam situasi tersebut, setiap kebijakan atau kerja sama yang melibatkan produksi dalam negeri dinilai penting. Langkah itu diharapkan dapat membantu menjaga keberlangsungan industri sekaligus melindungi jutaan tenaga kerja.
KSPN menilai kerja sama dengan produsen luar negeri berpotensi menghilangkan peluang bagi industri garmen nasional. Padahal, momentum penyediaan jersey tim nasional dinilai memiliki nilai ekonomi dan simbolik yang besar.
Menurut Ristadi, industri tekstil dan garmen Indonesia memiliki kapasitas produksi yang memadai. Dari sisi teknologi, kualitas bahan, hingga pengalaman produksi, industri nasional disebut mampu bersaing.
Ia mencontohkan sejumlah produsen apparel lokal yang dinilai memiliki kualitas baik. Di antaranya Mills, Specs, dan Duraking.
Ristadi juga menyoroti ironi dalam keputusan tersebut. Di satu sisi pemerintah mendorong penggunaan produk dalam negeri untuk memperkuat industri nasional. Namun di sisi lain, organisasi olahraga sebesar PSSI justru menggandeng produsen luar negeri untuk produk yang identik dengan identitas nasional.
Menurut dia, dukungan terhadap industri nasional tidak selalu harus berbentuk kebijakan besar. Keputusan memilih produsen dalam negeri untuk kebutuhan simbolik bangsa dapat memberi dampak psikologis dan ekonomi yang besar.
“Jersey tim nasional bukan sekadar pakaian pertandingan, tetapi juga simbol kebanggaan nasional yang seharusnya dapat menjadi panggung bagi kemampuan industri dalam negeri,” kata Ristadi.
Ia menambahkan, nasionalisme tim nasional tidak hanya tercermin dari semangat pemain di lapangan. Keberpihakan terhadap ekosistem ekonomi nasional juga menjadi bagian penting.
KSPN berharap PSSI dapat meninjau kembali arah kebijakan kerja sama tersebut. Organisasi pekerja itu juga mendorong agar industri tekstil dan garmen nasional dilibatkan dalam rantai produksi dan distribusi apparel tim nasional.
“Sepak bola bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga bagaimana momentum kebanggaan nasional dapat memberi manfaat nyata bagi penguatan industri nasional dan para pekerja,” ujar Ristadi.
