Kapolres Brebes Bedah Buku Santri Brambang, Polisi Bersyiar Lewat Seni Religi dan Pendekatan Humanis
Ketika polisi memegang rabana, yang ditegaskan bukan semata hukum, melainkan cinta; bukan kuasa, melainkan keteladanan. Rabana menjadi simbol syiar, pendekatan kultural, dan bahasa kemanusiaan dalam merawat ketertiban sosial.
Nilai inilah yang mengemuka dalam bedah buku “Santri Brambang” Polres Brebes: Falsafah, Syiar, dan Pengabdian yang digelar oleh Polres Brebes.
Kapolres Brebes AKBP Lilik Ardiansyah menyampaikan bahwa setiap anggota Polri memiliki tugas, visi, dan misi untuk membantu, melindungi, serta mengayomi masyarakat melalui pendekatan yang lebih humanis dan religius.
Menurutnya, momentum hadirnya buku ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan sehingga memiliki makna yang lebih dalam bagi institusi kepolisian.
“Dengan menyambutnya bulan suci Ramadhan tahun ini, bertepatan dengan adanya buku ini, nantinya akan menjadikan role model bagi setiap polres agar lebih dekat dengan para santri, para ulama, dan tokoh pemuka agama lainnya,” kata AKBP Lilik dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis, 12 Februari.
Ia menambahkan, selain mengedepankan pendekatan humanis, Polri juga berupaya semakin menyatu dengan kearifan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat Brebes. Hal tersebut diwujudkan melalui pembentukan grup hadrah Polres Brebes yang kemudian diangkat dalam buku Santri Brambang, sebagai simbol perpaduan nilai keagamaan, budaya, dan pengabdian.
“Ini bukan kisah tentang kesempurnaan, melainkan sebagai anak bangsa yang menggunakan seragam bhayangkara dengan tiga identitas yang dianggap terpisah, sebagai prajurit yang taat hukum, sebagai santri haus ilmu yang taat dengan Tuhannya dan sebagai bagian masyarakat yang mencintai budaya serta kearifan lokal,” ungkap AKBP Lilik.
Ia berharap, kehadiran buku Santri Brambang dapat mendorong anggota kepolisian, khususnya di wilayah Polres Brebes, untuk lebih menggali ilmu keagamaan melalui jalan syiar yang membumi dan menyentuh hati. Menurutnya, dakwah tidak selalu harus disampaikan lewat mimbar atau ceramah yang kaku, melainkan bisa melalui seni sholawat yang penuh makna.
“Dengan lahirnya buku ini, bahwa pengabdian yang tulus dari sebuah cinta yang tulus, bahwa penegakan hukum akan menemukan rohnya ketika disinari oleh kelembutan spiritual,” ucapnya.
Sementara itu, KH Subhan Ma’mun Rois PBNU yang juga pimpinan Pondok Pesantren Asalfiyah Brebes menilai buku Santri Brambang sebagai cerminan wajah Polri yang dekat dengan santri dan ulama, khususnya di wilayah Brebes, Jawa Tengah. Ia menilai langkah tersebut sebagai kelebihan dan inovasi positif dalam membangun hubungan harmonis antara aparat dan masyarakat.
“Ini adalah sebuah kelebihan yang dilakukan oleh anggota Polri dengan membentuk sebuah grup seni religi yang tertuang dalam buku ‘Santri Brambang’. Selain cinta dengan sholawat, para anggota bhayangkara (polisi) dapat lebih tulus dan ikhlas dalam menjalankan tugas negara untuk kepentingan masyarakat Indonesia,” katanya.
