January 12, 2026

Industri Keramik Nasional Kian Kompetitif Berkat SNI Wajib

  • November 15, 2025
  • 2 min read
Industri Keramik Nasional Kian Kompetitif Berkat SNI Wajib

Jakarta, Gatranews.id – Industri keramik nasional menunjukkan kebangkitan signifikan sepanjang 2025. Kebijakan Antidumping, Safeguard, dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib terbukti memberi dorongan besar bagi pemulihan sektor ini.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto mengatakan, tiga kebijakan pro-industri itu memberi multiplier effect yang kuat bagi pelaku industri. Ia menilai kebijakan itu menjadi fondasi penting bagi penguatan daya saing.

“Tahun ini terdapat tambahan kapasitas produksi baru hingga 25 juta meter persegi dan berhasil menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja baru,” ujar Edy dalam keterangannya pada Sabtu (15/11).

Ia menyebut lonjakan ini menjadi penanda pemulihan nyata sektor keramik nasional. Bahkan, peningkatan kapasitas produksi membuat industri dalam negeri kini mampu sepenuhnya menggantikan keramik impor. Sebelumnya, impor keramik mencapai 80 juta meter persegi per tahun dan membanjiri pasar domestik.

Menurut Edy, perkembangan lain yang ikut mendorong industri adalah sinergi baru antara importir dan produsen lokal melalui skema Original Equipment Manufacturing (OEM). Dengan sistem ini, importir tidak perlu lagi mendatangkan produk dari luar negeri. Mereka bekerja sama dengan pabrik dalam negeri untuk memproduksi keramik dengan merek sendiri.

“Hampir 90 persen importir besar yang bonafid telah menandatangani kontrak OEM dengan industri keramik nasional, dan mereka mengaku lebih puas dibanding mengimpor sendiri,” kata Edy. Ia menyatakan pola ini membuat rantai pasok lebih efisien.

Industri keramik nasional menawarkan sejumlah keunggulan yang membuat OEM semakin diminati. Pertama, kepastian suplai dan ketepatan waktu pengiriman karena tidak ada lagi risiko keterlambatan akibat logistik internasional.

Kedua, harga lebih stabil karena tidak terpengaruh fluktuasi nilai tukar. Ketiga, tersedia pelayanan purna jual serta garansi kualitas yang sulit diperoleh jika importir mengambil barang langsung dari luar negeri.

Keunggulan tersebut membuat ekosistem industri keramik nasional semakin kompetitif. Sektor ini juga memperkuat substitusi impor, terutama di pasar material pembangunan dan properti.

Asaki menilai keberhasilan ini menunjukkan sinergi efektif antara pemerintah, pelaku industri, dan pelaku pasar. Mereka melihat bahwa dukungan regulasi mampu menggerakkan industri sekaligus meningkatkan kapasitas nasional.

Edy berharap kebijakan yang mendukung industri dalam negeri tetap dipertahankan. Ia meyakini pertumbuhan positif dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya jika dukungan masih konsisten.

Dengan permintaan keramik yang terus meningkat dan kemampuan produsen lokal yang semakin kuat, sektor keramik diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak manufaktur nasional pada 2026. Industri ini dipandang memiliki potensi besar untuk menopang daya saing sektor hilir.

Edy juga menegaskan bahwa SNI Wajib sangat proporsional untuk melindungi konsumen. Ia menyebut aturan itu sebagai kebijakan yang mendukung kemajuan industri domestik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *