Industri Nasional Tumbuh Positif di Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran
Jakarta, Gatranews.id – Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan capaian sektor industri sepanjang satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menegaskan, arah pembangunan nasional kini semakin menunjukkan komitmen kuat menuju kemandirian ekonomi bangsa.
Menurut Agus, Kementerian Perindustrian berperan sebagai penggerak utama pemerataan ekonomi melalui penguatan sektor industri.
“Kami ingin menunjukkan kontribusi nyata sektor industri dalam membangun Indonesia yang maju, mandiri, dan sejahtera,” ujarnya dalam Konferensi Pers 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta, Senin (20/10).
Pertumbuhan Industri Tetap Ekspansif
Sektor industri manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja positif di tengah tekanan geoekonomi dan geopolitik global. Pada periode Triwulan IV 2024 hingga Triwulan II 2025, sektor Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) tumbuh 4,94% secara tahunan. Kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 17,24%.
Nilai ekspor sektor IPNM selama Oktober 2024–Agustus 2025 mencapai US$202,9 miliar. Angka ini setara 78,75% dari total ekspor nasional sebesar US$257,6 miliar. Sementara itu, realisasi investasi sektor manufaktur tercatat Rp568,4 triliun atau 40,72% dari total investasi nasional.
Hingga Februari 2025, sektor IPNM juga menyerap 19,55 juta tenaga kerja atau 13,41% dari total tenaga kerja nasional.
“Kinerja positif ini menunjukkan sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung perekonomian,” ujar Agus.
Optimisme Dunia Usaha
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada September 2025 berada di level 53,02. Angka ini menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek industri nasional. Purchasing Managers Index (PMI) juga mencatatkan angka ekspansif 50,4 pada bulan yang sama.
Rata-rata utilisasi kapasitas IPNM sepanjang Oktober 2024–Agustus 2025 mencapai 62%. Kondisi ini menandakan masih luasnya ruang ekspansi bagi industri nasional.
Subsektor yang mencatat pertumbuhan tinggi antara lain Industri Logam Dasar (12,27%), Industri Kulit dan Alas Kaki (8,13%), serta Industri Makanan dan Minuman (6,18%). Adapun sektor seperti Industri Barang Logam, Elektronik, Kimia, Farmasi, dan Mesin tumbuh di kisaran 5–6%.
Namun, beberapa subsektor masih menghadapi tantangan. Industri Furnitur, Kertas, Karet, dan Plastik tumbuh di bawah rata-rata nasional. Sementara Industri Kayu dan Industri Alat Angkutan mencatat pertumbuhan negatif masing-masing -1,18% dan -1,91%.
“Kondisi ini menunjukkan masih perlunya penguatan daya saing dan efisiensi produksi di sejumlah subsektor,” kata Agus.
Kontribusi Sektor Agro dan Kimia
Sektor industri agro turut berperan besar terhadap perekonomian. Pada periode Triwulan IV 2024 hingga Triwulan II 2025, kontribusinya terhadap PDB mencapai 8,98%. Sektor ini menyerap 9,83 juta tenaga kerja, dengan nilai ekspor mencapai US$60,22 miliar dan investasi sebesar Rp155,25 triliun.
Sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil juga tumbuh positif 4,75%. Kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 3,87%, dengan ekspor US$47,95 miliar dan investasi Rp136,26 triliun. Sektor ini menyerap 6,71 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.
Sementara itu, sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika mencatat pertumbuhan 4,86%. Sektor ini menyumbang 4,27% terhadap PDB dan menarik investasi Rp266,95 triliun.
“Kinerja sektor logam dan mesin menunjukkan fondasi industri dasar yang semakin kuat,” ujar Agus.
Penguatan IKM dan Kawasan Industri
Sektor Industri Aneka mencatat pertumbuhan 5,86% dan menyumbang 0,12% terhadap PDB nasional. Investasi yang terserap mencapai Rp9,90 triliun dengan penyerapan tenaga kerja 1,15 juta orang. Ekspor sektor ini mencapai US$9,38 juta.
Pemerintah juga memperkuat Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui berbagai program. Di antaranya fasilitasi kewirausahaan kepada 10.623 IKM, revitalisasi 112 sentra IKM, serta kemitraan 66 IKM dengan sektor lain.
“Penguatan IKM menjadi langkah penting untuk memperluas basis industri nasional,” kata Agus.
Di sisi lain, dalam satu tahun terakhir terdapat penambahan sembilan kawasan industri baru. Empat di antaranya berlokasi di luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat.
Total luas lahan kawasan industri meningkat 4,81% atau setara 4.468 hektar. Jumlah tenan juga bertambah 132 perusahaan. Peningkatan ini berkontribusi pada pertumbuhan investasi sebesar Rp571,58 triliun dan penyerapan tenaga kerja hingga 310.000 orang.
Agus menegaskan, sektor industri akan terus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. “Kami optimistis industri Indonesia akan semakin tangguh, berdaya saing, dan inklusif,” ujarnya.
