Kongres Alumni Elektro ITS Soroti AI dan Masa Depan Industri
Jakarta, Gatranews.id – Kongres Ikatan Alumni Elektro ITS (ELITS) di Jakarta menghadirkan diskusi hangat tentang peran kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai bidang. Ratusan alumni lintas generasi hadir, mulai dari pelaku industri, pejabat, hingga tokoh publik.
Tema besar yang diusung, “Elektro vs Artificial Intelligence: Powering the Future”, menjadi pusat perhatian. AI dipandang bukan lagi sekadar tren, melainkan arus utama yang akan menentukan arah pembangunan.
Kepala Pusat Studi Kecerdasan Artifisial ITS, Adhi Dharma Wibawa menekankan pentingnya kesiapan Indonesia. Ia menyebut infrastruktur dan regulasi masih menjadi pekerjaan rumah besar.
“Bayangkan kita ingin membuat ChatGPT berbahasa Jawa. Itu butuh hardware mahal dan dataset besar. Sementara negara maju sudah jauh melangkah,” katanya.
Adhi juga menyoroti kelemahan pasokan listrik dan regulasi etika. Menurut dia, anak-anak sudah menggunakan aplikasi AI tanpa batasan usia yang jelas.
“Harus ada tata krama penggunaan AI sejak dini,” ujarnya.
AI Sebagai Inovasi Global
Head of Enterprise Sales Google Indonesia, Adir Ginting menilai AI kini sudah menjadi motor utama inovasi. Menurutnya, investasi besar perusahaan global menunjukkan AI bukan sekadar hype.
“Google saja menaikkan investasi dari US$75 miliar menjadi US$85 miliar. AI akan stay, akan jadi bagian hidup kita,” ungkapnya.
Oleh karena itu, ia mendorong ELITS membangun ekosistem bersama agar relevan dengan perubahan global. “Kalau masuk ke ekosistem, akan lahir economies of scale,” tambahnya.
Strategi Telkom dan Ekosistem Nasional
Direktur IT Digital Telkom Indonesia, Faizal Rochmad Djoemadi, menjelaskan strategi Telkom membangun empat platform utama: AI, IoT, cloud, dan keamanan siber.
“Telkom tidak bisa sendirian. Kita butuh akademisi, startup, regulator, dan media. Itu konsep pentahelix,” katanya.
Faizal juga menyoroti sektor transportasi yang pertumbuhan digitalisasinya mencapai 33%.
“IoT untuk sensor, AI untuk rute, cloud untuk data, security untuk proteksi. Transportasi harus jadi prioritas,” ujarnya.
Guyub ala Cak Lontong
Kongres juga melantik Lies Hartono atau Cak Lontong sebagai Ketua Umum ELITS 2025. Dengan gaya humor, ia menekankan pentingnya sinergi antaralumni.
“Tujuannya satu, merangkul lebih banyak alumni, bersinergi, lebih solid dan kompak,” katanya.
Cak Lontong juga menyampaikan rencana mendukung riset kampus, termasuk pengembangan mobil otonom.
“Bukan mobil rusak, ya, tapi mobil tanpa sopir,” ujarnya disambut tawa audiens.
Harapan dari Alumni Daerah
Ketua Alumni Elektro ITS Jawa Timur, Dian Purnomo, mengapresiasi forum ini sebagai ajang jejaring. Ia menilai AI kini sudah digunakan bahkan oleh anak-anak sekolah dasar.
“Perkembangan AI begitu masif, tapi harus diikuti kesiapan pemerintah. Infrastruktur, SDM, dan etika harus disiapkan,” katanya.
Dian berharap kongres menjadi wadah sinergi lintas sektor. “Kalau AI terlibat dalam proses bisnis alumni, daya saing kita akan lebih kuat,” ujarnya.
Diskusi panjang itu menghasilkan pesan jelas: AI harus dimaknai bukan hanya sebagai teknologi, melainkan peluang untuk kolaborasi. Alumni elektro ITS diingatkan agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen inovasi.
“AI memang bisa menggantikan banyak pekerjaan. Tapi jangan sampai menggantikan semangat kita untuk bersinergi,” tutur Cak Lontong menutup acara.
