Pertina Protes Pengakuan KOI terhadap Organisasi Tinju Baru, Desak Erick Thohir Bertindak
Jakarta, Gatranews.id – Dunia tinju amatir Indonesia tengah dilanda kisruh. Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina), induk organisasi resmi yang berdiri sejak 1959, memprotes keras keputusan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang memberikan pengakuan kepada organisasi tinju baru meski tidak diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Pertina menilai keputusan itu janggal, sarat kepentingan pribadi, dan berpotensi merugikan para atlet serta pelatih yang selama ini bernaung di bawah mereka.
Keputusan Janggal KOI
Wakil Ketua Umum PP Pertina, Ivanhoe Semen, mengungkapkan kekecewaannya terhadap langkah KOI. Menurut dia, larangan terhadap Pertina dilakukan tanpa proses komunikasi yang jelas.
“Polemik ini bermula dari keputusan KOI yang melarang Pertina dengan alasan tidak berafiliasi dengan badan tinju dunia, Lo WB,” kata Ivanhoe dalam keterangannya, Kamis (25/9/2025). “Keputusan ini janggal, karena dilakukan tanpa pemberitahuan atau peringatan yang memadai.”
Nada serupa disampaikan Sri Syahril dari PP Pertina. Ia menilai pelarangan tersebut terlalu mudah dan tanpa alasan kuat. “Kami menduga ada kepentingan dan ambisi pribadi di balik semua ini,” ucapnya.
Dugaan Konspirasi dan Organisasi “Bayangan”
Pertina menduga munculnya organisasi baru itu tak lepas dari adanya konspirasi. Organisasi yang cepat mendapat pengakuan KOI tersebut disebut didirikan oleh eks-pengurus Pertina.
“Ini seperti ‘anak kandung Pertina yang durhaka’. Mereka mengkhianati organisasi yang membesarkan nama mereka,” ujar Sri Syahril.
Pertina menduga langkah tersebut bermotifkan perebutan jabatan serta klaim atas atlet-atlet binaan. “Ada oknum yang memanfaatkan kedekatan dengan pengurus KOI untuk merebut posisi strategis, seperti sekretaris jenderal, sambil mengklaim hasil kerja keras pelatih dan atlet Pertina,” imbuhnya.
Atlet Jadi Korban
Ivanhoe menilai konflik ini bertentangan dengan pesan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan olahraga seharusnya menjadi pemersatu, bukan pemecah belah.
“Pesan Presiden terabaikan. Olahraga justru dijadikan alat kepentingan pribadi,” kata Ivanhoe.
Menurut Pertina, kondisi ini merugikan banyak pihak, khususnya atlet dan pelatih. Mereka yang bertahun-tahun berlatih dari nol terancam kehilangan pengakuan atas jerih payah mereka.
Pertina membandingkan situasi ini dengan kasus pelarangan PSSI oleh FIFA pada 2015. Bedanya, larangan terhadap Pertina bukan karena intervensi pemerintah, melainkan dugaan kesewenang-wenangan internal.
Desak Menpora Turun Tangan
Merespons polemik ini, Pertina bersama para loyalisnya menyerukan perlawanan. “Kita tidak mau sejarah panjang Pertina hilang dan ditenggelamkan oleh para pembegal. Kalau dibiarkan, hanya ada satu kata: lawan!” tegas Ivanhoe.
Pertina juga menaruh harapan pada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir untuk segera bertindak. Erick dinilai memiliki komitmen memperbaiki tata kelola olahraga, termasuk setelah mencabut Permenpora Nomor 14 Tahun 2025 yang sebelumnya menuai kritik.
“Saya yakin Menpora akan bijak melihat persoalan ini dan segera mengambil keputusan tegas terhadap pembelahan yang terjadi. Jangan sampai wajah olahraga tinju tanah air rusak oleh perbuatan oknum-oknum tertentu,” ujar Ivanhoe.
Ego Sektoral Hambat Prestasi
Pertina menegaskan bahwa polemik ini menjadi pengingat bahwa ego sektoral dan ambisi pribadi masih menjadi penghalang besar bagi kemajuan olahraga nasional.
“Kalau olahraga terus dipenuhi intrik, bagaimana kita mau fokus melahirkan atlet juara dunia?” kata Sri Syahril.
