February 4, 2026

Amnesty Internasional Desak Israel Izinkan Armada Global Sumud Flotilla ke Gaza

  • September 2, 2025
  • 3 min read
Amnesty Internasional Desak Israel Izinkan Armada Global Sumud Flotilla ke Gaza

Barcelona, Gatranews.id – Amnesty Internasional menyerukan kepada pemerintah Israel agar mengizinkan armada Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan untuk memasuki Jalur Gaza. Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di London itu menegaskan bahwa setiap upaya untuk menghalangi misi kemanusiaan ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Amnesty bahkan menyebut krisis di Gaza sebagai salah satu bencana kemanusiaan buatan manusia terburuk di dunia modern dan menilai kondisi yang terjadi saat ini merupakan bentuk genosida yang sedang berlangsung.

Global Sumud Flotilla sendiri merupakan armada internasional yang terdiri dari lebih dari 20 kapal dengan membawa bantuan medis, pangan, serta relawan dari berbagai negara. Sekitar 200 aktivis, politisi, seniman, dan tokoh publik dari 44 negara bergabung dalam misi solidaritas ini. Beberapa tokoh ternama yang ikut serta di antaranya aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg, aktor Irlandia Liam Cunningham, aktor Spanyol Eduardo Fernandez, serta mantan Wali Kota Barcelona Ada Colau. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa perjuangan membuka blokade Gaza bukan hanya isu kawasan, melainkan kepedulian global terhadap hak asasi manusia.

Armada ini sempat berangkat dari Barcelona pada 31 Agustus 2025, namun terpaksa kembali ke pelabuhan sehari kemudian akibat cuaca buruk. Meski demikian, para pengorganisir menegaskan bahwa misi akan tetap dilanjutkan setelah kondisi memungkinkan. Mereka menekankan bahwa setiap kapal yang berlayar menuju Gaza adalah simbol harapan sekaligus perlawanan terhadap ketidakadilan, sehingga tidak ada alasan untuk menyerah meski menghadapi risiko besar.

Misi flotilla menuju Gaza bukanlah hal baru. Sejak lebih dari satu dekade lalu, berbagai upaya serupa kerap menghadapi intervensi militer Israel. Pada Juni 2025, kapal “Madleen” milik Freedom Flotilla Coalition dicegat di perairan internasional dan dipaksa berlabuh di pelabuhan Israel. Tindakan tersebut memicu kecaman dunia internasional karena dianggap melanggar hukum laut internasional. Amnesty Internasional memperingatkan bahwa pengulangan tindakan serupa terhadap Global Sumud Flotilla hanya akan memperdalam isolasi diplomatik Israel dan memperburuk reputasinya di mata dunia.

Kondisi di Jalur Gaza sendiri semakin memprihatinkan. Sejak operasi militer besar-besaran dimulai pada Oktober 2024, ribuan infrastruktur vital hancur, akses pangan dan air bersih terputus, serta rumah sakit lumpuh akibat kekurangan listrik dan obat-obatan. Laporan organisasi kemanusiaan menyebut lebih dari 30.000 warga sipil tewas dan jutaan lainnya hidup dalam kondisi darurat. Blokade laut dan darat yang diberlakukan Israel membuat lebih dari 80 persen penduduk Gaza kini bergantung sepenuhnya pada bantuan internasional untuk bertahan hidup.

Global Sumud Flotilla lahir dari inisiatif berbagai jaringan internasional, termasuk Freedom Flotilla Coalition (FFC), Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, hingga Sumud Nusantara. Dengan dukungan lebih dari 50 kapal dari 44 negara, misi ini disebut sebagai salah satu upaya solidaritas terbesar dalam sejarah modern untuk menembus blokade Gaza. Partisipasi luas dari aktivis, politisi, akademisi, tokoh agama, hingga seniman memperlihatkan besarnya perhatian masyarakat sipil dunia terhadap penderitaan rakyat Palestina.

Dengan semakin besarnya tekanan dari masyarakat internasional dan organisasi hak asasi manusia, termasuk Amnesty Internasional, kini perhatian tertuju pada sikap Israel terhadap armada kemanusiaan terbesar dalam sejarah solidaritas global untuk Palestina ini. Apakah Israel akan mengizinkan perjalanan damai tersebut atau kembali menghalanginya, dunia sedang menunggu jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *