BEV Impor Himpit Industri Komponen Dalam Kendaraan Bermotor
Jakarta, Gatranews.id – Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara mengatakan bahwa peningkatan volume penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) impor mengganggu keseimbangan industri otomotif nasional. Pasalnya, kendaraan listrik ini tidak memiliki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).
“Isu yang muncul kendaraan listrik yang kandungan lokalnya sangat rendah sekarang volumenya meningkat. Ini akan mengganggu keseimbangan industri dalam negeri kita,” ucap Kukuh dalam diskusi Forwin di Jakarta, Senin (25/8).
Menurutnya, dampak langsung dari kondisi ini akan terasa juga pada industri komponen kendaraan bermotor. Apalagi, sektor ini lebih banyak diisi oleh Industri Kecil dan Menengah (IKM).
“Dampaknya jadi ke kandungan lokal yang berperan banyak untuk industri kendaraan bermotor kita, karena ini ada tier satu, tier dua dan sebagainya. Kalau kemudian ini semakin menurun (penjualan mobil buatan lokal) dan ini sudah terjadi, kami mendapat banyak pertanyaan mengenai industri komponen,” ucapnya.
Ia menyampaikan, banyak keluhan muncul dari industri komponen. Padahal, Gaikindo tidak secara langsung menaungi perusahaan-perusahaan itu.
“Beberapa perusahaan komponen sudah mengeluhkan, kalau kita terus-terusan volume penjualannya seperti ini, kita berat karena suplainya semakin menurun,” ujar Kukuh.
Ia juga menyoroti penurunan volume penjualan mobil buatan dalam negeri dengan TKDN tinggi. Hal itu turut berdampak pada rantai pasok komponen.
Meski kinerja industri komponen kendaraan bermotor masih bisa ditolong dengan pasar ekspor, ke depan tidak bisa lagi diandalkan. Pasar domestik perlu menjadi pasar utama industri nasional.
“Saya belum mengonfirmasi angkanya. Tetapi ada perusahaan yang volume penjualan kendaraan dalam negerinya menurun. Suplai mereka juga menurun. Ini memang khawatiran sekali,” terangnya.
Diketahui, Gaikindo mencatat penjualan mobil pada tahun 2024 mencapai 865.723 unit. Angka ini merupakan penjualan secara wholesales yang mana turun 13,9% dibandingkan tahun 2023.
Wholesales merupakan penjualan barang dalam jumlah besar kepada pihak lain. Bukan konsumen akhir, melainkan pengecer, bisnis lain atau industri (B2B).
