Terobosan Medis: Teknologi CRISPR Berpotensi Hapus HIV dari Tubuh Manusia
Jakarta, Gatranews.id – Dunia medis kembali mencatatkan terobosan besar. Sejumlah ilmuwan berhasil menggunakan teknologi pengeditan gen CRISPR-Cas9 untuk menghapus DNA HIV dari tubuh inang secara permanen.
Penemuan ini membuka peluang baru bagi penyembuhan total HIV/AIDS, yang selama ini hanya dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral (ARV) seumur hidup.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel T CD4+. Setelah menginfeksi, virus ini akan menyisipkan materi genetiknya ke dalam DNA sel manusia dan menciptakan cadangan laten (viral reservoir) yang sulit dijangkau oleh obat.
Selama puluhan tahun, terapi ARV digunakan untuk menekan replikasi virus, namun tidak mampu menghapus virus dari tubuh sepenuhnya. Ketika pengobatan dihentikan, virus akan aktif kembali.
CRISPR-Cas9: Gunting Genetik untuk Hapus HIV
Teknologi CRISPR-Cas9, yang dikenal sebagai “gunting genetik”, dikembangkan untuk memotong bagian spesifik dari DNA. Dalam konteks HIV, CRISPR diprogram untuk menargetkan provirus HIV yang tertanam dalam genom sel imun.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim dari Excision BioTherapeutics di Amerika Serikat menggunakan terapi CRISPR bernama EBT-101. Terapi ini telah memasuki uji klinis fase 1/2 pada manusia dan menunjukkan bahwa gen HIV dapat dihapus dari sel target tanpa merusak DNA lainnya.
Hasil pre-klinis pada hewan juga cukup menjanjikan. Dalam studi pada tikus dan monyet, penggunaan CRISPR menunjukkan penghapusan virus HIV/SIV dari berbagai organ tubuh dan tidak ditemukan tanda-tanda virus kembali aktif setelah terapi dihentikan.
Teknologi Pelengkap: Nanopartikel Lipid
Sementara itu, tim peneliti dari Australia berhasil mengembangkan sistem nanopartikel lipid (LNP) untuk mengirimkan terapi gen ke sel-sel imun reservoir secara efisien. Teknologi ini memungkinkan pendekatan “shock and kill”, yakni membangunkan virus laten lalu menghancurkannya dengan bantuan sistem kekebalan tubuh.
LNP juga dipuji karena berhasil mencapai jaringan sulit seperti otak dan sistem limfa, yang selama ini menjadi tantangan besar dalam terapi HIV.
Proses Uji Klinis Masih Berjalan
Meskipun hasil awal sangat menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa terapi ini masih dalam tahap uji coba. Efek jangka panjang, potensi efek samping, dan efektivitas penghapusan total virus masih harus dievaluasi lebih lanjut.
Uji klinis EBT-101 saat ini tengah melibatkan sejumlah pasien di Amerika Serikat, dan belum tersedia untuk publik secara luas.
“Ini bukan sekadar pengobatan, ini potensi penyembuhan,” kata para peneliti dalam laporan resminya.
Tanggapan Pakar
Dr. William Jacobs Jr., peneliti HIV dari Albert Einstein College of Medicine, mengatakan bahwa pendekatan ini “sangat menjanjikan”, namun tetap perlu pendekatan hati-hati.
“CRISPR adalah alat yang sangat kuat, tetapi kita masih harus memastikan bahwa kita tidak merusak bagian DNA penting lainnya,” ujarnya kepada New York Post.
Harapan Baru bagi Penderita HIV
Jika teknologi ini terbukti aman dan efektif, maka akan membuka jalan bagi pendekatan once-and-done treatment, yaitu penyembuhan satu kali tanpa perlu terapi lanjutan seumur hidup. Ini akan menjadi terobosan monumental dalam sejarah pengobatan HIV.
Namun, dengan uji klinis yang masih berjalan, para pasien dan masyarakat global diminta untuk tetap bersabar dan mengedepankan informasi dari sumber terpercaya.
