February 4, 2026

Utsman bin Affan: Ramadhan Sang Khalifah Pemalu, Ibadah Tanpa Henti hingga Syahid dalam Puasa

  • February 4, 2026
  • 4 min read
Utsman bin Affan: Ramadhan Sang Khalifah Pemalu, Ibadah Tanpa Henti hingga Syahid dalam Puasa

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu adalah sosok yang namanya selalu disebut dengan nada lembut dalam sejarah Islam. Ia bukan hanya menantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tetapi juga sahabat setia yang menghabiskan hidupnya dalam ketulusan iman, kesantunan akhlak, dan pengabdian tanpa pamrih. Ketika amanah kepemimpinan umat berada di pundaknya sebagai khalifah ketiga, ia menjalaninya dengan hati yang sama seperti ketika masih menjadi seorang saudagar: tenang, pemalu, dan penuh rasa takut kepada Allah.

Ia lahir di Makkah pada tahun 574 M dari kabilah Bani Umayyah, salah satu kabilah terpandang Quraisy. Ayah dan ibunya berasal dari garis keturunan bangsawan, namun kemuliaan Utsman tidak berhenti pada nasab. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mengajaknya memeluk Islam, Utsman menerimanya tanpa ragu, menjadikannya bagian dari as-sabiqunal awwalun, generasi awal yang menegakkan Islam di saat tekanan dan siksaan masih begitu kuat. Sejak itu, hidupnya seolah hanya memiliki satu orientasi: mencari rida Allah dan Rasul-Nya.

Julukan Dzunnurain, pemilik dua cahaya, melekat padanya karena keistimewaan yang tidak dimiliki sahabat lain. Ia menikahi dua putri Rasulullah secara berturut-turut, Ruqayyah dan kemudian Ummu Kultsum. Rasulullah bahkan bersabda bahwa seandainya ia memiliki putri ketiga, niscaya akan dinikahkan pula dengan Utsman. Kedekatan spiritual dan emosional ini membentuk kepribadian Utsman yang luar biasa halus. Ia dikenal sangat pemalu, hingga Rasulullah sendiri menghormatinya dengan sikap khusus. Dalam riwayat sahih, Nabi membetulkan pakaiannya ketika Utsman masuk, seraya berkata bahwa beliau malu kepada seorang yang bahkan para malaikat pun malu kepadanya.

Sebagai saudagar kaya, Utsman adalah potret manusia yang berhasil menundukkan harta di bawah kendali iman. Kekayaannya tidak pernah membuatnya lalai, justru menjadi sarana ibadah. Ia membiayai pasukan Tabuk di masa Rasulullah, membeli dan mewakafkan sumur Raumah agar kaum Muslimin tidak lagi kesulitan air, serta tak terhitung sedekah yang ia keluarkan secara sembunyi-sembunyi. Kekhalifahannya yang berlangsung selama dua belas tahun dipenuhi pembangunan, perluasan wilayah, dan salah satu jasa terbesarnya: pengumpulan dan standarisasi mushaf Al-Qur’an agar bacaan umat Islam tetap terjaga hingga akhir zaman.

Ketika bulan Ramadhan tiba, Utsman bin Affan seakan memasuki dunia yang sepenuhnya berbeda. Siang dan malamnya dipenuhi ibadah. Al-Qur’an menjadi sahabat terdekatnya; diriwayatkan ia mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat shalat, dan di bulan Ramadhan kebiasaan itu semakin intens. Ia membaca bukan sekadar dengan lisan, tetapi dengan hati yang tunduk dan jiwa yang bergetar. Ayat-ayat Allah bukan hanya dilantunkan, melainkan dihidupi.

Ramadhan juga menjadi musim kedermawanannya yang paling subur. Pintu rumahnya terbuka bagi fakir miskin, budak-budak dibebaskan, dan harta mengalir tanpa perhitungan. Namun, kesibukan ibadah pribadi tidak membuatnya lalai dari tanggung jawab sosial dan politik. Sebagai khalifah, ia tetap mengurusi urusan umat, menyelesaikan persoalan pemerintahan, dan memastikan keadilan berjalan, meski fitnah mulai berhembus dan tekanan semakin berat. Puasanya dijaga dengan penuh kehati-hatian, lisannya bersih, hatinya jernih, dan doanya panjang di sepertiga malam.

Ujian terbesar datang di penghujung hidupnya. Fitnah tentang nepotisme disebarkan secara sistematis oleh Abdullah bin Saba’, sosok yang dikenal dalam banyak riwayat sebagai provokator utama pemberontakan. Narasi dusta ini menyulut kemarahan sebagian kelompok, terutama dari Mesir, hingga mereka mengepung rumah Utsman di Madinah. Meski memiliki pendukung dan kesempatan untuk melawan, Utsman menolak menumpahkan darah sesama Muslim demi mempertahankan jabatannya. Baginya, keselamatan umat lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

Dalam keadaan tertekan, Utsman kembali pada kebiasaan lamanya: membaca Al-Qur’an. Ayat dari Surah Ali ‘Imran tentang tawakal dan kecukupan pertolongan Allah menjadi penguat hatinya. Dikisahkan ia tertidur dalam keadaan berpuasa dan bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama Abu Bakar dan Umar. Dalam mimpi itu, mereka mengajaknya berbuka bersama. Sebuah isyarat yang hanya dapat dimaknai sebagai undangan menuju pertemuan terakhir.

Tak lama setelah terbangun, para pemberontak menerobos masuk. Dalam keadaan berpuasa dan membaca Al-Qur’an, darah Utsman bin Affan tertumpah, membasahi mushaf yang sedang ia baca. Ia wafat sebagai syahid, menghadap Allah dalam kondisi paling mulia: berpuasa, berdzikir, dan berserah diri sepenuhnya.

Kisah Utsman bin Affan adalah cermin bagi umat Islam tentang bagaimana iman, kekuasaan, dan harta dapat berjalan seiring tanpa saling menodai. Ramadhan dalam hidupnya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan puncak pengabdian yang memadukan ibadah personal dan tanggung jawab sosial. Ia pergi dengan tenang, meninggalkan warisan keteladanan yang tak pernah usang: bahwa kemuliaan sejati lahir dari hati yang lembut, tangan yang dermawan, dan jiwa yang sepenuhnya bergantung kepada Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *