February 4, 2026

Belajar dari Buku Broken Strings: Dampak Child Grooming yang Dialami Aurelie Moeremans

  • January 18, 2026
  • 3 min read
Belajar dari Buku Broken Strings: Dampak Child Grooming yang Dialami Aurelie Moeremans

Buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans menjadi sorotan publik setelah mengungkap pengalaman traumatisnya sebagai korban child grooming sejak usia remaja. Memoar yang dirilis pada akhir 2025 tersebut tidak hanya memuat kisah personal seorang publik figur, tetapi juga membuka ruang diskusi luas mengenai bahaya manipulasi psikologis terhadap anak di bawah umur yang masih sering luput dari perhatian masyarakat.

Dalam buku tersebut, Aurelie secara jujur menceritakan bagaimana ia mengalami pendekatan emosional dari seorang pria dewasa ketika masih berusia 15 tahun. Hubungan yang pada awalnya terasa penuh perhatian perlahan berubah menjadi relasi yang tidak sehat, diwarnai kontrol, manipulasi, serta tekanan emosional yang membuatnya kehilangan rasa aman dan kepercayaan diri. Dampak dari pengalaman itu tidak berhenti saat hubungan berakhir, tetapi membekas hingga ia dewasa, memengaruhi kesehatan mental, relasi sosial, dan pandangannya terhadap diri sendiri.

Kisah dalam Broken Strings menjadi relevan karena menggambarkan pola child grooming yang kerap terjadi tanpa disadari korban maupun lingkungan sekitar. Sejumlah psikolog menjelaskan bahwa child grooming merupakan proses manipulasi bertahap yang dilakukan pelaku untuk membangun ketergantungan emosional pada anak. Pelaku biasanya memosisikan diri sebagai sosok pelindung, pendengar, atau figur yang dianggap paling memahami korban, hingga akhirnya anak sulit membedakan perhatian tulus dan eksploitasi. Praktik ini tidak selalu melibatkan kekerasan fisik di awal, sehingga sering dianggap sebagai hubungan biasa.

Setelah buku tersebut viral dan dibahas luas di media sosial, respons publik pun bermunculan. Banyak pembaca, khususnya perempuan muda, mengaku menemukan keberanian untuk mengenali dan mengakui pengalaman serupa yang pernah mereka alami. Aurelie sendiri menyampaikan bahwa ia terharu melihat banyaknya pesan dari penyintas yang merasa tidak lagi sendirian setelah membaca kisahnya. Media nasional seperti Kompas dan Detik mencatat bahwa buku ini memicu percakapan publik mengenai pentingnya literasi relasi sehat dan perlindungan anak dari kejahatan berbasis manipulasi emosional.

Dampak dari terbitnya Broken Strings juga menarik perhatian lembaga negara. Komisi Perlindungan Anak Indonesia menilai buku tersebut sebagai bentuk edukasi publik yang efektif karena menyampaikan isu sensitif dengan bahasa personal yang mudah dipahami. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahkan menyatakan keinginannya untuk berdialog langsung dengan Aurelie guna memperkuat kampanye pencegahan child grooming dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang mekanisme pelaporan serta perlindungan korban.

Di sisi lain, para ahli kesehatan mental menegaskan bahwa kasus yang dialami Aurelie bukanlah kejadian tunggal. Dengan berkembangnya media sosial dan komunikasi digital, anak dan remaja semakin rentan menjadi sasaran pelaku grooming, terutama ketika kurang mendapat pendampingan atau pengawasan. Edukasi kepada orang tua, guru, dan anak dianggap sebagai langkah paling penting untuk mencegah praktik ini, termasuk mengenali tanda-tanda manipulasi emosional, perubahan perilaku anak, serta pentingnya komunikasi terbuka di lingkungan keluarga.

Melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans tidak hanya merekam luka masa lalunya, tetapi juga mengubah pengalaman tersebut menjadi suara peringatan bagi masyarakat. Buku ini menegaskan bahwa child grooming adalah masalah nyata yang dapat menimpa siapa saja, tanpa memandang latar belakang. Keberanian untuk berbicara, dukungan lingkungan, serta sistem perlindungan yang kuat menjadi kunci agar pengalaman serupa tidak terus terulang dan anak-anak dapat tumbuh dalam relasi yang aman dan sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *