Inara Rusli Ingin Berdamai dengan Wardatina Mawa, Fakta Sebenarnya Terungkap
Jakarta, Gatranews.id – Konflik antara Inara Rusli dan Wardatina Mawa kembali menjadi perhatian publik setelah muncul pernyataan berbeda terkait keinginan untuk berdamai. Inara Rusli secara terbuka menyampaikan niatnya untuk menyelesaikan persoalan yang melibatkan dirinya, Insanul Fahmi, dan Wardatina Mawa secara baik-baik. Ia mengaku ingin mengakhiri polemik yang berlarut-larut dan berdampak luas, tidak hanya pada dirinya secara pribadi tetapi juga pada keluarga serta anak-anak yang terlibat secara tidak langsung.
Dalam keterangannya, Inara Rusli menyebut bahwa upaya komunikasi telah ia coba lakukan, namun menemui kendala karena merasa tidak memiliki akses langsung untuk menghubungi Wardatina Mawa. Inara bahkan menyatakan bahwa dirinya diblokir sehingga sulit menyampaikan maksud baik secara personal. Menurut Inara, niat berdamai tersebut murni untuk meredam konflik dan menghindari eskalasi masalah yang semakin melebar ke ranah publik maupun hukum.
Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Wardatina Mawa. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memblokir Inara Rusli dan tidak pernah menerima pesan, telepon, maupun permintaan pertemuan dari pihak Inara. Wardatina menyampaikan bahwa sejak awal ia terbuka terhadap komunikasi, tetapi dengan syarat dilakukan secara jelas dan melibatkan keluarga, bukan sekadar percakapan sepihak yang menurutnya tidak akan menyelesaikan akar persoalan.
Perselisihan ini berawal dari terungkapnya fakta bahwa Insanul Fahmi, yang merupakan suami sah Wardatina Mawa, diduga menikah siri dengan Inara Rusli pada Agustus 2025. Pengakuan tersebut memicu kegaduhan karena pada saat yang sama Insanul masih terikat pernikahan secara hukum dan agama dengan Wardatina. Situasi ini memunculkan tuduhan perselingkuhan dan perebutan suami orang yang kemudian berkembang menjadi konflik terbuka di ruang publik.
Wardatina Mawa kemudian menempuh jalur hukum dengan melaporkan Inara Rusli ke pihak kepolisian atas dugaan perzinaan. Dalam laporannya, Wardatina menyertakan sejumlah bukti, termasuk rekaman CCTV, yang menurutnya menunjukkan adanya hubungan terlarang. Di sisi lain, Inara Rusli juga mengambil langkah hukum dengan melaporkan dugaan penyebaran rekaman CCTV rumah pribadinya tanpa izin ke Bareskrim Polri, karena dinilai melanggar privasi dan hukum yang berlaku.
Inara Rusli sendiri membantah tuduhan sebagai pihak yang merusak rumah tangga orang lain. Ia menyatakan bahwa pada awal menjalin hubungan, dirinya tidak mengetahui secara utuh status pernikahan Insanul Fahmi. Inara juga menegaskan bahwa hubungannya didasari pernikahan siri, sehingga ia merasa tidak sepenuhnya bersalah seperti yang dituduhkan kepadanya oleh publik maupun pihak Wardatina.
Sementara itu, Wardatina Mawa berulang kali menegaskan bahwa luka yang dialaminya tidak hanya bersifat personal, tetapi juga menyangkut kehancuran rumah tangga dan dampak psikologis bagi keluarga. Ia menyatakan bahwa yang ia harapkan bukan sekadar pernyataan damai di media, melainkan tanggung jawab dan permintaan maaf yang jelas atas peristiwa yang telah terjadi. Wardatina juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan proses hukum dan menyelesaikan persoalan sesuai jalur yang telah ia tempuh.
Upaya damai melalui pendekatan kekeluargaan dan mekanisme restorative justice sempat diupayakan oleh pihak Inara Rusli dan Insanul Fahmi, namun hingga kini belum mendapatkan respons yang diharapkan dari Wardatina Mawa. Perbedaan persepsi mengenai komunikasi dan itikad baik menjadi salah satu faktor utama gagalnya pertemuan atau dialog langsung antara kedua belah pihak.
Hingga saat ini, konflik Inara Rusli dan Wardatina Mawa masih bergulir dan menjadi perhatian publik karena melibatkan isu sensitif seperti pernikahan siri, dugaan perselingkuhan, penyebaran rekaman pribadi, serta proses hukum yang sedang berjalan. Meski Inara Rusli menyatakan keinginannya untuk berdamai, fakta di lapangan menunjukkan bahwa penyelesaian konflik ini masih menghadapi jalan panjang akibat perbedaan versi, luka emosional, dan proses hukum yang belum selesai.
