February 4, 2026

Greenpeace Kecam Teror Bangkai Ayam ke Rumah Iqbal Damanik, Diduga Upaya Pembungkaman Kritik Iklim

  • January 2, 2026
  • 3 min read
Greenpeace Kecam Teror Bangkai Ayam ke Rumah Iqbal Damanik, Diduga Upaya Pembungkaman Kritik Iklim

Jakarta, Gatranews.id – Greenpeace Indonesia mengecam keras aksi teror berupa pengiriman bangkai ayam ke rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik. Peristiwa ini terjadi di Jakarta pada Selasa, 30 Desember 2025, dan diduga kuat berkaitan dengan aktivitas advokasi dan kritik publik yang dilakukan Greenpeace terhadap kebijakan pemerintah, khususnya dalam penanganan banjir di Sumatera dan isu krisis iklim.

Bangkai ayam tersebut ditemukan di teras rumah Iqbal pada Selasa pagi sekitar pukul 05.30 WIB dalam kondisi tanpa pembungkus. Di kaki ayam terikat plastik berisi secarik kertas bertuliskan pesan bernada ancaman, “Jagalah ucapanmu apabila Anda ingin menjaga keluargamu, mulutmu harimaumu.” Sebelumnya, pada dini hari, Iqbal sempat mendengar suara benda jatuh di teras rumahnya, namun baru diketahui beberapa jam kemudian oleh anggota keluarganya. Iqbal kemudian mendokumentasikan temuan tersebut sebagai bukti.

Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menilai kiriman bangkai ayam ini sebagai bentuk teror dan upaya pembungkaman terhadap pengkampanye lingkungan. Menurutnya, kejadian ini tidak berdiri sendiri karena terdapat pola serupa yang juga dialami oleh masyarakat sipil lainnya dalam beberapa waktu terakhir. “Sulit untuk tak mengaitkan kiriman bangkai ayam ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritik atas situasi Indonesia saat ini. Ada satu kemiripan pola yang kami amati, sehingga kami menilai ini teror yang terjadi sistematis terhadap orang-orang yang belakangan banyak mengkritik pemerintah ihwal penanganan bencana Sumatera,” ujar Leonard.

Sebelumnya, disjoki asal Aceh, DJ Donny, mengungkap melalui media sosial bahwa dirinya juga menerima kiriman bangkai ayam. Sementara itu, pemengaruh dan kreator konten Sherly Annavita melaporkan adanya vandalisme terhadap mobil pribadinya serta kiriman telur busuk ke tempat tinggalnya. Keduanya, seperti halnya Iqbal Damanik, juga menerima surat atau pesan bernada ancaman.

Dalam beberapa waktu terakhir, Iqbal Damanik aktif menyuarakan kritik terhadap respons pemerintah dalam menangani banjir besar di Sumatera melalui akun media sosial pribadinya. Kritik tersebut, menurut Greenpeace, didasarkan pada temuan lapangan pascabencana, riset, serta analisis organisasi terkait kaitan banjir dengan deforestasi dan alih fungsi lahan yang berlangsung menahun. Aktivitas ini juga diiringi meningkatnya serangan digital dan pesan ancaman yang diterima Iqbal melalui media sosial.

Leonard Simanjuntak menegaskan bahwa kritik yang disampaikan Greenpeace bukan bermaksud menyerang, melainkan lahir dari keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban bencana. “Kritik publik, termasuk pengkampanye kami, terhadap cara pemerintah menangani banjir Sumatera ini sebenarnya lahir dari keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban. Apalagi di balik banjir Sumatera ini ada persoalan perusakan lingkungan, yakni deforestasi dan alih fungsi lahan yang terjadi menahun, yang terjadi atas andil pemerintah juga,” katanya. Ia juga menyinggung rencana pembukaan jutaan hektare lahan di Papua yang dinilai akan merugikan Masyarakat Adat dan memperparah dampak krisis iklim.

Greenpeace Indonesia menilai maraknya teror terhadap aktivis, jurnalis, dan pegiat media sosial sebagai ancaman serius bagi demokrasi. Kritik publik, menurut Greenpeace, merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi dan seharusnya dipandang sebagai pengingat agar kekuasaan tetap akuntabel. “Upaya teror tak akan membuat kami gentar. Greenpeace akan terus bersuara untuk keadilan iklim, HAM, dan demokrasi,” tutup Leonard Simanjuntak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *