January 12, 2026

Industri Manufaktur Catatkan Kinerja Positif, Tetap Jadi Motor Ekonomi Nasional

  • December 31, 2025
  • 2 min read
Industri Manufaktur Catatkan Kinerja Positif, Tetap Jadi Motor Ekonomi Nasional

Jakarta, Gatranews.id – Sektor industri manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja positif sepanjang 2025. Sektor ini juga terus menjadi penggerak utama perekonomian nasional di tengah dinamika global.

Kementerian Perindustrian mencatat pertumbuhan Industri Pengolahan Nonmigas pada Triwulan I hingga Triwulan III 2025 mencapai 5,17% secara tahunan. Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,01%.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap produk domestik bruto nasional mencapai 17,27%. Capaian tersebut menegaskan posisi strategis sektor manufaktur dalam struktur ekonomi Indonesia.

“Ini menunjukkan peran strategis industri manufaktur sebagai penggerak utama ekonomi nasional,” ujarnya di Jakarta, Selasa (31/12).

Dari sisi perdagangan, kinerja ekspor industri pengolahan nonmigas juga mencatatkan hasil positif. Nilai ekspor pada periode Januari hingga Oktober 2025 mencapai US$187,82 miliar atau sekitar 80,25% dari total ekspor nasional.

Nilai tersebut meningkat 15,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ekspor itu turut mendorong surplus neraca perdagangan hingga mencapai US$33,12 miliar pada Oktober 2025.

Agus menambahkan, sektor manufaktur juga berhasil menyerap tenaga kerja hingga 20,26 juta orang per Agustus 2025. Realisasi investasi industri mencapai Rp552 triliun atau setara 38,49% dari total investasi nasional.

“Rata-rata tingkat utilisasi industri berada di angka 61,2%. Ini menandakan masih terbukanya ruang yang luas untuk peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri,” kata Agus.

Ia menyampaikan, optimisme pelaku industri masih terjaga meski terjadi moderasi pada akhir tahun. Indeks Kepercayaan Industri Desember 2025 tercatat 51,90 dan masih berada di zona ekspansi.

Sementara itu, Purchasing Managers’ Index Manufaktur Indonesia pada November 2025 berada di level 53,3. Angka tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur tetap kuat.

“Pelemahan di akhir tahun bersifat musiman, bukan struktural,” ujar Agus.

Ia menambahkan, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas telah melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sejak Triwulan II 2025, untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir.

Sejumlah subsektor juga mencatatkan kinerja menonjol sepanjang 2025. Industri logam dasar tumbuh 16,04%, diikuti industri mesin dan perlengkapan sebesar 9,97%.

Selain itu, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,24%. Industri makanan dan minuman juga mencatat pertumbuhan 6,23%.

Namun demikian, beberapa subsektor masih mengalami tekanan. Industri kayu, alat angkutan, serta karet dan plastik tercatat mengalami kontraksi.

Di tingkat global, Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dalam nilai Manufacturing Value Added. Nilainya mencapai US$265,07 miliar dan menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Capaian tersebut menempatkan Indonesia pada posisi kelima di Asia. Hal ini memperkuat peran Indonesia sebagai basis manufaktur utama di kawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *