February 4, 2026

Tewasnya Abu Obeida dan Realitas Gencatan Senjata yang Runtuh di Gaza

  • December 30, 2025
  • 3 min read
Tewasnya Abu Obeida dan Realitas Gencatan Senjata yang Runtuh di Gaza

Gaza, Gatranews.id – Kematian Abu Obeida, juru bicara utama sayap militer Hamas, Izz el-Din al-Qassam Brigades, kembali menegaskan rapuhnya makna gencatan senjata dalam konflik Israel–Palestina. Hamas secara resmi mengonfirmasi bahwa sosok yang selama hampir dua dekade menjadi wajah komunikasi perlawanan bersenjata itu tewas akibat serangan Israel, meskipun serangan tersebut terjadi di tengah periode yang disebut sebagai gencatan senjata dan upaya penurunan eskalasi.

Abu Obeida dikenal luas sebagai figur simbolik yang selalu tampil tertutup, menyampaikan pernyataan resmi Hamas terkait operasi militer, gencatan senjata, hingga negosiasi pertukaran tahanan. Identitas aslinya, Hudhayfa Samir al-Kahlout, baru diungkap ke publik setelah kematiannya. Selama bertahun-tahun, ia menjadi salah satu target paling diburu Israel, bukan karena perannya di medan tempur, melainkan karena pengaruhnya dalam membentuk narasi perlawanan Palestina di tingkat regional dan internasional.

Menurut pernyataan Hamas dan laporan media internasional, Abu Obeida tewas dalam serangan udara Israel yang menargetkan kawasan permukiman di Gaza. Serangan tersebut dilakukan beberapa waktu setelah Israel mengumumkan komitmen terhadap gencatan senjata terbatas. Bagi Israel, operasi itu diklaim sebagai bagian dari upaya “keamanan” dan penargetan tokoh kunci Hamas. Namun bagi Palestina dan banyak pengamat hukum internasional, serangan tersebut mencerminkan pola lama: gencatan senjata yang tidak pernah benar-benar menghentikan kekerasan dari pihak pendudukan.

Kematian Abu Obeida menyoroti ketimpangan mendasar dalam konflik ini. Israel, sebagai kekuatan pendudukan dengan keunggulan militer absolut, tetap melakukan serangan presisi, pembunuhan terarah, dan operasi udara, bahkan ketika perjanjian penghentian tembak-menembak diumumkan. Sebaliknya, Palestina hidup dalam kondisi blokade, pendudukan, dan pengawasan militer yang terus-menerus, tanpa perlindungan efektif bagi warga sipil maupun tokoh politik dan militer mereka.

Dalam kerangka hukum humaniter internasional, tindakan Israel memicu pertanyaan serius. Gencatan senjata seharusnya menghentikan penggunaan kekuatan bersenjata dan melindungi nyawa manusia, bukan menjadi jeda taktis untuk melanjutkan pembunuhan terarah. Ketika tokoh seperti Abu Obeida tewas dalam serangan yang dilakukan di luar pertempuran terbuka, kritik terhadap praktik impunitas Israel kembali menguat, terutama karena minimnya mekanisme akuntabilitas internasional.

Bagi Hamas dan sebagian besar masyarakat Palestina, kematian Abu Obeida diposisikan sebagai bagian dari rangkaian panjang pembunuhan sistematis terhadap figur-figur Palestina sejak berdirinya negara Israel. Dalam narasi ini, Zionisme tidak dipandang sekadar sebagai ideologi politik, melainkan sebagai proyek kolonial yang mempertahankan eksistensinya melalui kekerasan, pengusiran, dan dominasi militer atas penduduk asli Palestina. Kematian Abu Obeida, dengan demikian, tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi simbol lanjutan dari konflik yang berakar pada penjajahan yang belum berakhir.

Meski Israel dapat mengklaim keberhasilan taktis dengan menewaskan seorang juru bicara penting Hamas, para analis menilai dampak strategisnya terbatas. Sejarah menunjukkan bahwa kematian tokoh simbolik Palestina jarang menghentikan perlawanan, dan sering kali justru memperkuat narasi martir serta memperpanjang siklus kekerasan. Hamas sendiri telah menunjuk juru bicara baru dan menegaskan bahwa kematian Abu Obeida tidak akan mengubah arah perjuangan mereka.

Tewasnya Abu Obeida pada akhirnya menjadi cermin dari kegagalan gencatan senjata yang tidak disertai keadilan. Selama Israel terus memperlakukan perjanjian sebagai alat militer sementara, dan selama pendudukan serta penyangkalan hak rakyat Palestina tetap berlangsung, kematian demi kematian akan terus terjadi. Abu Obeida hanyalah satu nama dalam daftar panjang korban konflik yang akar masalahnya belum pernah benar-benar diselesaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *