Davina Karamoy Buka Suara soal Isu Selingkuh dengan Eks Menpora Dito Ariotedjo, Ini Fakta Sebenarnya
Jakarta, Gatranews.id – Nama aktris Davina Karamoy menjadi sorotan publik setelah terseret isu perselingkuhan dengan eks Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo. Isu tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu beragam spekulasi, meski tidak pernah disertai bukti konkret. Kabar itu berkembang begitu cepat dan menempatkan Davina dalam tekanan besar, terutama di tengah kariernya yang sedang berada di puncak popularitas.
Gosip tersebut bermula dari unggahan seorang warganet di aplikasi Threads melalui akun @jconnectiontalks. Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan, “Ingpoh: ada eks menteri yang terlibat hubungan asmara dengan aktris yang sering main padel. Kabarnya, si eks menteri digugat cerai oleh istrinya.” Unggahan itu tidak menyebutkan nama secara langsung, namun warganet di kolom komentar segera berspekulasi dan mengaitkannya dengan Davina Karamoy serta Dito Ariotedjo. “Davina Karamoy kayaknya,” tulis salah satu akun, sementara akun lain menimpali, “Dito ya guys, eks menteri olahraga. Tuh gue bantu jawab.”
Sejak saat itu, isu tersebut berkembang liar dan menyebar ke berbagai platform media sosial. Sejumlah klaim tak terverifikasi bermunculan, mulai dari pengakuan warganet yang mengaku pernah melihat unggahan istri Dito Ariotedjo yang menyinggung perselingkuhan, hingga rumor bahwa sang istri melaporkan persoalan rumah tangga tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Klaim tersebut bahkan dikaitkan dengan isu reshuffle kabinet yang terjadi pada September lalu. Selain itu, warganet juga menyoroti beberapa momen kebersamaan Davina dan Dito, seperti bermain padel, menonton konser bersama, hingga beredarnya video yang menampilkan keduanya keluar dari lokasi yang sama dalam waktu berdekatan. Davina juga disebut pernah berolahraga di Gedung Kemenpora, yang kemudian dijadikan bahan spekulasi tambahan.
Isu ini semakin diperbincangkan karena dikaitkan dengan peran Davina dalam film “Ipar Adalah Maut” yang tayang pada 2024. Dalam film tersebut, Davina memerankan karakter Rani, seorang perempuan yang berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri. Tak sedikit warganet yang menuding Davina membawa karakter Rani ke dunia nyata, meski anggapan tersebut jelas tidak berdasar karena peran dalam film tidak dapat disamakan dengan kehidupan pribadi seorang aktor.
Menanggapi tudingan yang semakin meluas, Davina Karamoy akhirnya angkat bicara melalui akun TikTok pribadinya. Ia merespons komentar warganet yang mendesaknya untuk segera memberikan klarifikasi dengan menuliskan, “Apa yang perlu diklarifikasi, aku pun bingung hahaha.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Davina tidak merasa terlibat dalam isu yang dituduhkan kepadanya. Ia juga menyampaikan sikap tegas apabila gosip tersebut terus berkembang dan merugikan dirinya. “Sampe isunya semakin kelewatan, harus dibawa ke jalur hukum ya,” tulis Davina.
Klarifikasi tersebut membuat banyak penggemar Davina merasa lega. Sejumlah netizen menilai isu perselingkuhan itu sebagai informasi palsu dan bentuk pembunuhan karakter terhadap figur publik. Hingga kini, tidak ada bukti autentik yang membenarkan tudingan tersebut. Tidak pula ditemukan pernyataan resmi dari Dito Ariotedjo maupun pihak keluarganya terkait isu perselingkuhan atau gugatan cerai yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Davina Karamoy sendiri memulai kariernya di industri hiburan Indonesia pada 2018 melalui sinetron “Tukang Ojek Pengkolan”. Namanya mulai dikenal luas setelah memerankan karakter Nelly Sukma dalam serial web “7 Hari Sebelum 17 Tahun”. Popularitas aktris kelahiran 2002 itu semakin melejit setelah membintangi film “Ipar Adalah Maut” pada 2024. Perannya sebagai Rani menuai banyak pujian dan mengantarkannya meraih tiga penghargaan bergengsi di ajang Indonesian Movie Actors Awards 2024, yakni Pemeran Pendukung Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Wanita Terfavorit, serta Pasangan Terfavorit bersama Deva Mahenra.
Hingga saat ini, isu perselingkuhan yang menyeret nama Davina Karamoy masih sebatas rumor yang berkembang di media sosial tanpa dasar fakta yang jelas. Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi informasi di ruang digital, terutama yang berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang, agar tidak terjebak pada spekulasi yang dapat merugikan pihak lain.
