Petugas Pos Datangi Rutan, Menembus Jeruji Demi Salurkan BLT Kesra
Manado, Gatranews.id – Pengalaman tak biasa mewarnai tugas dua juru bayar PT Pos Indonesia (Persero) di Manado, awal pekan ini. Di tengah rutinitas penyaluran Bantuan Langsung Tunai Kesejahteraan Rakyat (BLT Kesra), Geovanny Bolang dan Roni justru dibawa situasi hingga ke balik pintu besi Rumah Tahanan (Rutan) Malendeng. Momen itu menjadi catatan tersendiri bagi keduanya. Sekaligus, menggambarkan wajah lain dari program bantuan pemerintah yang kerap menyimpan kisah kecil namun sarat makna.
Pagi itu, keduanya berangkat dari Kantorpos KCU Manado dengan daftar penerima yang harus diselesaikan melalui skema door to door. Di antara nama itu tercantum Toppan Bawotong, warga Kelurahan Pandu. Setibanya di lokasi, keduanya justru disambut informasi tak biasa. Kepala lingkungan setempat memberitahu bahwa Toppan sedang terjerat kasus hukum dan kini menghuni Rutan Malendeng.
Sebagai mitra pemerintah dalam distribusi BLT Kesra, keduanya tak memiliki banyak waktu berpikir. Berbekal surat tugas, mereka langsung mengarahkan sepeda motor ke rutan yang berjarak beberapa kilometer dari lokasi awal. Di gerbang rutan, pemeriksaan berlapis memberi nuansa berbeda dari kunjungan lapangan biasanya. Namun prosesnya berjalan tanpa hambatan berarti. BLT Kesra senilai Rp900 ribu akhirnya diserahkan kepada penerima hak, meski berada di balik jeruji.
Bagi Geovanny, pengalaman itu menjadi yang pertama, sekaligus pengingat bahwa tugas pelayanan publik kerap membawa mereka ke situasi tak terduga. Ia menyebut tugas petugas Pos bukan sekadar mengantarkan bantuan, tetapi memastikan seluruh penerima—apa pun kondisinya—tetap mendapat haknya.
“Mempercepat penyaluran BLT Kesra ini, kami turun ke lapangan untuk melayani masyarakat yang belum menerima penyaluran dana BLT Kesra. Salah satu warga di Kelurahan Pandu terkonfirmasi berada di rumah tahanan karena terjerat hukum. Kami sebagai petugas Pos harus tetap melayani, walaupun ada di rumah tahanan,” ujar Geovanny dalam keterangannya pada Kamis (11/12).
Di ruang kunjungan rutan itulah, Toppan menerima bantuan untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya. Ia tampak terharu, sekaligus bingung memegang dana bantuan yang tak disangka tiba dari tangan petugas Pos.
“Terus terang saya belum pernah menerima bantuan seperti ini. Ketika saya menerima bantuan ini, saya merasa bersyukur. Uangnya akan saya pergunakan sebaik-baiknya untuk keluarga saya,” kata Toppan.
Program BLT Kesra sendiri disalurkan melalui tiga mekanisme. Pertama, pencairan langsung di Kantorpos terdekat. Kedua, penyaluran kepada komunitas tertentu. Ketiga, pendistribusian door to door, yang memungkinkan petugas mencapai penerima yang tak dapat hadir ke kantor pos. Dalam kasus Toppan, mekanisme terakhir itu membawa petugas Pos ke tempat yang jarang mereka sambangi: sebuah ruang tahanan.
Kisah singkat ini bukan sekadar cerita unik dalam proses penyaluran bantuan. Ia sekaligus menegaskan bahwa distribusi bantuan sosial bukan hanya soal angka dan target, tetapi juga tentang menjangkau mereka yang berada di pinggir kehidupan—termasuk yang sementara waktu hidup di balik tembok rutan.
