January 12, 2026

Industri Otomotif Dinilai Perlu Insentif untuk Jaga Tenaga Kerja dan Produksi

  • November 30, 2025
  • 3 min read
Industri Otomotif Dinilai Perlu Insentif untuk Jaga Tenaga Kerja dan Produksi

Jakarta, Gatranews.id – Kementerian Perindustrian menilai industri otomotif membutuhkan insentif baru. Kebijakan ini dinilai penting untuk menjaga produksi, investasi, dan tenaga kerja. Pemerintah menilai tekanan penjualan kendaraan berdampak besar pada kondisi industri.

Penjualan kendaraan listrik (EV) memang naik signifikan. Lonjakan terjadi pada periode Oktober hingga Januari 2025. Namun sebagian besar penjualan berasal dari kendaraan impor. Dari total 69.146 unit EV yang terjual pada 2025, sebanyak 73% adalah produk impor. Nilai tambah dan penyerapan tenaga kerjanya pun tidak berada di dalam negeri.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan kenaikan segmen tertentu tidak bisa menjadi dasar menyimpulkan industri sedang kuat. Ia mengatakan penurunan penjualan kendaraan konvensional jauh di bawah angka produksi merupakan sinyal serius.

“Ini fakta yang tidak bisa dihindari. Kami memandang insentif dibutuhkan untuk membalikkan keadaan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (30/11).

Febri mengatakan banyaknya pameran otomotif bukan bukti industri sedang tumbuh. Penyelenggaraan pameran justru menjadi cara industri mempertahankan permintaan di tengah penurunan penjualan.

“Banyak pameran bukan ukuran industri kuat. Itu usaha agar demand tetap ada dan pekerja terhindar dari PHK,” katanya.

Penjualan Turun, Utilisasi Pabrik Terancam

Kemenperin menegaskan indikator kesehatan industri adalah penjualan ke pasar. Data Gaikindo menunjukkan penjualan wholesales pada Januari–Oktober 2025 hanya 634.844 unit. Angka ini turun 10,6% dari tahun sebelumnya. Penjualan retail juga turun 9,6% menjadi 660.659 unit.

Data Ditjen ILMATE menunjukkan tren serupa. Sepanjang Januari–Oktober 2025, produksi kendaraan turun dari 996.741 unit menjadi 957.293 unit. Penurunan terdalam terjadi pada segmen entry yang merosot 40%. Segmen low turun 36%, sementara kendaraan komersial turun 23%. Ketiga segmen ini selama ini menjadi basis produksi utama di dalam negeri.

Menurut Febri, pelemahan pasar mengancam keberlanjutan investasi dan kapasitas pabrik. Penurunan permintaan juga dapat memengaruhi sektor komponen.

“Tanpa intervensi, tekanan ini bisa semakin dalam dan mengganggu struktur industri,” katanya.

Febri menambahkan, insentif tidak hanya penting bagi pelaku industri. Kebijakan ini juga berdampak langsung pada masyarakat. Ia mengatakan insentif dapat menurunkan harga kendaraan, memperbaiki sentimen pasar, dan menjaga daya beli kelompok kelas menengah.

“Usulan kami kemungkinan diarahkan ke segmen menengah-bawah dan didasarkan pada nilai TKDN,” ujarnya.

Komunitas Dukung Insentif untuk Segmen Tepat

Dukungan terhadap rencana insentif juga datang dari komunitas otomotif. Founder Xpander Mitsubishi Owners Club (X-MOC), Sonny Eka Putra, menilai insentif harus diberikan berdasarkan kebutuhan tiap segmen. Ia menilai insentif tidak perlu diberikan untuk kendaraan kelas atas.

“Insentif itu perlu untuk mobil kalangan menengah ke bawah agar tepat sasaran,” katanya.

Sonny menilai mobil hybrid yang umumnya lebih mahal tidak perlu mendapat insentif tambahan. Ia mengatakan konsumen mobil segmen atas pada dasarnya mampu membeli.

“Yang pasti mobil menengah ke atas memang jangan sampai ada insentif,” ujar Sonny.

Ketua Dewan Pengawas Calya Sigra Club (Calsic), Ryan Cayo, menilai insentif bukan sekadar potongan bagi produsen. Ia mengatakan stimulus diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Kebijakan yang berbeda-beda justru membuat pelaku usaha dan konsumen lebih hati-hati. Ini bisa memperlambat pemulihan,” katanya.

Kondisi ini juga berdampak pada pasar mobil bekas. Owner Indigo Auto, Yudy Budiman, mengatakan banyak konsumen menunda pembelian karena menunggu kepastian insentif.

“Di mobil bekas, penurunan mencapai 10–20%,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *