February 4, 2026

Indonesia Business Leadership Forum 2025: Menavigasi Peluang Kepemimpinan Korporat di Tahun 2026

  • November 28, 2025
  • 3 min read
Indonesia Business Leadership Forum 2025: Menavigasi Peluang Kepemimpinan Korporat di Tahun 2026

Jakarta, Gatranews.id – Puluhan komisaris dan direktur dari perusahaan nasional maupun multinasional hadir dalam Indonesia Business Leadership Forum yang diselenggarakan oleh Kubik Leadership pada 27 November 2025 di Palm Court, Hotel Four Seasons Jakarta. Acara ini mengangkat tema “Navigating Corporate Leadership Opportunities 2026” sebagai respons terhadap tantangan bisnis yang diprediksi muncul di berbagai industri pada tahun mendatang. Kubik Leadership, yang dikenal sebagai mitra solusi korporasi dan institusi di bidang leadership dan pengembangan sumber daya manusia, menyelenggarakan forum ini untuk membuka ruang bagi para pemimpin melakukan reorientasi, inovasi, dan reposisi organisasi di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Acara dibuka oleh Atok R Aryanto, Direktur Kubik Leadership, yang menegaskan, “Forum ini dirancang bukan sebagai seminar satu arah, tetapi sebagai ruang dialog dan refleksi bagi para pemimpin sehingga mengusung konsep rangkaian sesi presentasi dan diskusi kepemimpinan yang mencakup keynote speaker, best practice sharing, panel discussion dan leadership outlook. Tujuan utama Forum ini membangun kesiapan para pemimpin organisasi dalam mewujudkan peluang dan menghadapi berbagai tantangan khususnya di tahun 2026 mendatang.”

Dalam keynote speech, Dr. M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, menjelaskan kondisi ekonomi global dan implikasinya bagi Indonesia. Ia menuturkan, “Memasuki 2026, ekonomi Indonesia bergerak dalam landscape global yang semakin tidak stabil, ditandai oleh eskalasi geopolitik, proteksionisme yang meluas, serta volatilitas harga energi dan pangan yang mendorong tekanan biaya secara berkepanjangan. Dalam kondisi seperti ini menjaga pertumbuhan di kisaran 5% bukan sekadar menambah injeksi fiskal, tetapi memastikan kualitas eksekusi anggaran, stabilitas nilai tukar, dan konsistensi kebijakan moneter. Industri manufaktur juga menghadapi persaingan global yang semakin ketat di tengah tekanan biaya dan produktivitas. Karena itu, 2026 menuntut dunia usaha memperkuat ketajaman analisis, kehati-hatian dalam ekspansi, dan pengambilan keputusan berbasis data untuk menjaga profitabilitas dan daya saing jangka panjang.”

Sesi best practice sharing menghadirkan Dr. Ir. Aloysius Budi Santoso M.M, Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk. Ia menekankan pentingnya strategi human capital yang komprehensif. “Isu strategis dari human capital yang ada saat ini terdiri dari organization, people, dan culture. Oleh karena itu, Astra menerapkan Astra People Strategy yaitu Strive to build agile organization, quality of people and strong company culture. Dalam menciptakan organisasi yang agile, Astra telah mempersiapkan melalui dua aspek yaitu organizational agility initiatives dan expert track initiatives. Sedangkan dalam mengembangkan kualitas dari people di dalam Astra menyiapkan program Astra Future Leaders. Terakhir, untuk membuat budaya organisasi di Astra menjadi fondasi transformasi organisasi, diperkuat catur dharma menjadi Astra Values,” ujarnya.

Diskusi panel berlangsung dinamis dan dimoderatori oleh Atok R Aryanto. Dr. Rizal menambahkan, “Situasi global yang menekan justru membuka ruang strategis bagi korporasi yang mampu bergerak cepat dan responsif. Dengan demikian, 2026 bukan sekadar tahun penuh risiko, melainkan momentum untuk memperkuat value creation agar korporasi mampu mengamankan posisi kompetitif di tengah disrupsi global yang semakin cepat.”

Sesi terakhir membahas leadership outlook 2026 dengan Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia sekaligus Co-Founder Kubik Leadership. Ia menekankan kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan di masa depan: “Di tahun depan, kepemimpinan yang dibutuhkan adalah yang pertama kepemimpinan yang menciptakan masa depan yang berdampak besar bukan sekedar operasional. Kedua, pemimpin yang mampu mengelola paradox kepemimpinan, di antaranya paradox goal, innovation, people approach, execution, dan relation dynamic. Ketiga, kepemimpinan yang bisa membangun well-being tim melalui mengeliminasi lack of fulfilment, di mana yang harus dieliminasi di antaranya kerja tanpa jiwa, stress & lelah batin, pudarnya integritas, kerja setengah hati, dan kehabisan energi.”

Acara ditutup dengan syukuran sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan Kubik Leadership selama 26 tahun di Indonesia, menegaskan komitmennya menjadi penggerak keberhasilan para leader dalam menularkan semangat suksesmulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *