February 4, 2026

Pandji Pragiwaksono Dikecam Setelah Candaan Soal Adat Toraja, Ini Kronologinya

  • November 8, 2025
  • 4 min read
Pandji Pragiwaksono Dikecam Setelah Candaan Soal Adat Toraja, Ini Kronologinya

Jakarta, Gatranews.id — Komika dan aktor Pandji Pragiwaksono tengah menghadapi sorotan tajam publik setelah video lama penampilannya dalam acara stand-up comedy kembali beredar luas di media sosial. Dalam video yang direkam sekitar tahun 2013 itu, Pandji membawakan materi yang menyinggung kebiasaan masyarakat Toraja dalam menggelar upacara adat kematian Rambu Solo’.

Dalam potongan video tersebut, Pandji menyampaikan pandangannya tentang pesta kematian di Toraja yang menurutnya terlalu mewah dan memberatkan ekonomi keluarga. Ia juga menggambarkan praktik menyimpan jenazah di rumah sebelum dimakamkan sebagai hal yang “unik” dan “tidak biasa”. Cuplikan itu kemudian memicu kemarahan banyak pihak karena dianggap melecehkan tradisi dan kepercayaan masyarakat Toraja.

Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) menyampaikan keberatan keras atas isi candaan Pandji. Menurut PMTI, apa yang disampaikan dalam video itu menyesatkan dan dapat menimbulkan stigma negatif terhadap budaya Toraja. Ketua PMTI Wilayah Makassar menjelaskan bahwa Rambu Solo’ bukan pesta berlebihan, melainkan ritual penghormatan terakhir kepada leluhur yang memiliki nilai spiritual tinggi.

Selain PMTI, sejumlah organisasi dan tokoh adat turut menyampaikan kekecewaan. Aliansi Pemuda Toraja bahkan melaporkan Pandji ke Bareskrim Polri atas dugaan penghinaan terhadap suku dan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Mereka menilai candaan Pandji tidak bisa dianggap sekadar humor karena berdampak pada citra dan martabat masyarakat adat.

Tekanan publik semakin besar setelah sejumlah tokoh nasional ikut angkat suara. Anggota DPR RI Ashabul Kahfi meminta Pandji segera memberikan klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka. Ia menilai, sebagai figur publik, Pandji seharusnya memahami bahwa komedi tidak boleh menyinggung identitas budaya yang menjadi bagian dari kekayaan bangsa Indonesia.

Menanggapi berbagai reaksi tersebut, Pandji akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui unggahan video di akun Instagram resminya. Ia mengakui bahwa materi komedi itu dibuat bertahun-tahun lalu tanpa pemahaman yang cukup tentang budaya Toraja. Dalam pernyataannya, Pandji mengatakan tidak bermaksud menghina siapa pun dan menyesal karena telah menyinggung banyak pihak.

“Saya meminta maaf dengan tulus kepada seluruh masyarakat Toraja. Saya sadar bahwa humor tidak boleh menghapus rasa hormat terhadap budaya. Saya akan belajar lebih banyak agar ke depan bisa lebih bijak dalam berkarya,” ujar Pandji.

Pandji juga menyatakan kesediaannya untuk menghadapi dua jalur penyelesaian sekaligus, baik hukum negara maupun hukum adat. Ia mengaku siap datang langsung ke Tana Toraja untuk berdialog dan meminta maaf secara langsung kepada para tokoh adat serta masyarakat setempat.

Beberapa pengamat budaya menilai polemik ini dapat menjadi momentum penting untuk memperbaiki hubungan antara dunia hiburan dan keberagaman budaya Indonesia. Budayawan dan pengamat komunikasi Dr. Wening Rahmawati menjelaskan bahwa komedi sering kali bersinggungan dengan isu sensitif, namun seorang komika harus mampu membedakan antara kritik sosial dan penghinaan terhadap kelompok tertentu.

Menurut Wening, kebebasan berekspresi tetap harus diiringi empati dan pemahaman konteks sosial. Ia menilai apa yang terjadi pada Pandji bisa menjadi pelajaran bagi para pelaku seni lainnya untuk lebih berhati-hati dalam memilih materi yang menyentuh isu identitas budaya. “Setiap lelucon memiliki dampak sosial. Di negara yang majemuk seperti Indonesia, sensitivitas budaya menjadi bagian penting dari etika publik,” ujarnya.

Polemik ini menunjukkan bahwa di era media sosial, materi lama dapat dengan mudah muncul kembali dan memicu perdebatan baru. Di satu sisi, masyarakat memiliki hak untuk melindungi kehormatan budayanya. Di sisi lain, para pelaku seni juga membutuhkan ruang berekspresi yang sehat tanpa menimbulkan perpecahan.

Bagi masyarakat Toraja, kasus ini bukan sekadar soal candaan, tetapi tentang penghormatan terhadap warisan leluhur yang dijaga selama berabad-abad. Sementara bagi Pandji, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa setiap karya publik membawa tanggung jawab moral di luar ruang panggung.

Meski permintaan maaf telah disampaikan, banyak pihak berharap Pandji dapat menindaklanjutinya dengan langkah nyata, misalnya dengan melakukan kunjungan budaya atau kolaborasi edukatif bersama masyarakat Toraja. Dengan begitu, polemik ini tidak hanya berhenti pada kontroversi, tetapi menjadi jembatan pemahaman lintas budaya yang lebih kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *