February 4, 2026

Kelas Menengah Indonesia Kian Realistis di Tengah Tekanan Ekonomi

  • November 6, 2025
  • 2 min read
Kelas Menengah Indonesia Kian Realistis di Tengah Tekanan Ekonomi

Jakarta, Gatranews.id – Studi terbaru Sei-katsu-sha Lab dari Hakuhodo International Indonesia mencatat perubahan besar pada cara hidup kelas menengah Indonesia. Mereka kini lebih realistis dan menempatkan stabilitas hidup sebagai prioritas utama.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelas menengah turun dari 57,3 juta menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Meski menyusut, kelompok ini tetap memegang peran penting dalam perekonomian nasional.

Kombinasi kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah mencakup 66,35% populasi Indonesia. Segmen ini juga menyumbang 81,49% konsumsi domestik. Skala tersebut membuat pola hidup mereka menjadi indikator sosial-ekonomi sekaligus penentu arah pasar.

“Kelas menengah sedang berada di pusaran perubahan. Mereka membawa mimpi yang mendorong Indonesia maju, sekaligus menanggung tekanan zaman,” ujar Group CEO Hakuhodo International Indonesia, Devi Attamimi di Jakarta, Rabu (5/11).

Perubahan Nilai Hidup, Kesuksesan, dan Konsumsi

Sebanyak 89% responden mengaku tetap tegar saat menghadapi kegagalan. Mereka melihat pengalaman sulit sebagai kekuatan pribadi. Fenomena ini digambarkan sebagai “My Scar, My Strength”.

Prioritas hidup juga bergeser dari penampilan menjadi ketenangan batin. Sebanyak 72% menyebut memiliki jaringan sosial kuat, bukan hanya keluarga, tetapi juga komunitas.

Kesuksesan pun dinilai berbeda. Bukan lagi diukur dari kepemilikan materi, melainkan kemampuan bertahan. Sebanyak 57% responden berencana membangun usaha sendiri. Lalu 42% ingin memberi dampak positif bagi lingkungan, sementara 38% berfokus meningkatkan keterampilan.

“Brand perlu memahami sisi emosional yang tak terlihat di data statistik. Mereka tidak lagi sekadar mencari aspirasi, tetapi keseimbangan,” kata Senior Director of Strategy Hakuhodo International Indonesia, Rian Prabana.

Pola konsumsi juga bergeser. Sebanyak 90% responden memilih produk karena kualitas yang konsisten. Mereka menilai kualitas sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Lalu 70% merasa terhubung dengan brand yang mampu memperbaiki suasana hati. Sebanyak 61% bahkan rutin memberi hadiah kecil untuk diri sendiri sebagai “terapi mental”.

Hakuhodo menyebut fase baru ini sebagai The Grown Up Middle. Kelas menengah tumbuh lebih bijak, lebih tenang, dan lebih mandiri. Stabilitas kini dianggap lebih penting dibanding citra.

“Status tidak lagi menjadi ukuran utama. Yang penting adalah kestabilan emosi dan daya tahan,” ujar Rian.

Hakuhodo menilai perubahan ini menjadi peluang bagi dunia pemasaran. Brand diminta tidak hanya menjual mimpi, tetapi menawarkan rasa aman dan relevansi di tengah ketidakpastian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *