January 12, 2026

Kemenperin Luncurkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional

  • October 27, 2025
  • 4 min read
Kemenperin Luncurkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional

Jakarta, Gatranews.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meluncurkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) sebagai arah kebijakan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Strategi ini menjadi panduan utama pelaksanaan visi Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Asta Cita.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, SBIN bukan sekadar kebijakan sektoral, tetapi strategi nasional untuk memastikan industri Indonesia tumbuh dan berdaulat.

“Industri adalah tulang punggung kemandirian ekonomi dan kesejahteraan rakyat,” ujarnya dalam Rapat Kerja Kemenperin 2025 di Jakarta, Senin (27/10).

SBIN disusun untuk menjawab perubahan global yang cepat dan penuh disrupsi, mulai dari pandemi COVID-19, perang dagang, hingga transisi energi dunia. Strategi ini menekankan empat pilar utama: industrialisasi berbasis sumber daya alam, pengembangan ekosistem industri, penguasaan teknologi, dan penerapan prinsip keberlanjutan.

Fokus pada Nilai Tambah dan Industri Hijau

Agus menjelaskan, penguatan industrialisasi berbasis sumber daya alam diarahkan pada komoditas unggulan seperti nikel, kelapa sawit, dan batu bara. Tujuannya agar Indonesia tidak lagi mengekspor bahan mentah, tetapi menghasilkan produk bernilai tambah.

“Industrialisasi sejati tidak boleh mengorbankan lingkungan,” kata Agus.

Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi kunci produktivitas, sementara prinsip industri hijau dan ekonomi sirkular akan menjadi dasar pertumbuhan masa depan.

Pemerintah juga menempatkan perlindungan pasar domestik sebagai prioritas. Sekitar 80% hasil industri nasional diserap pasar dalam negeri. Karena itu, stabilitas pasar domestik menjadi benteng menghadapi gejolak global.

Kemenperin memperkuat kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar belanja pemerintah berpihak pada produk lokal. Instrumen tarif dan non-tarif juga akan digunakan untuk mengendalikan impor.

“Kebijakan ini bukan menutup diri, tapi memberi ruang tumbuh bagi industri nasional,” ujarnya.

Ekspansi Global dan Investasi Bernilai Tambah

Selain memperkuat pasar domestik, Kemenperin menargetkan ekspansi ke pasar global melalui diversifikasi ekspor dan diplomasi industri. Negara non-tradisional menjadi sasaran pengembangan pasar baru. Sektor kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) disebut sebagai andalan ekspor masa depan.

Pemerintah juga mendorong investasi di sektor bernilai tambah tinggi yang berorientasi substitusi impor, seperti mineral strategis, kimia dasar, farmasi, elektronik, dan pangan. Setiap investasi diharapkan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat struktur industri nasional.

Kemenperin memperluas program restrukturisasi mesin serta memberi insentif riset untuk modernisasi industri. Transfer teknologi dari investor global kepada pelaku lokal menjadi syarat utama.

“Investasi harus membawa pengetahuan dan kemitraan jangka panjang,” ujar Agus.

SDM, Regulasi, dan Sinergi Lintas Kementerian

Penguatan sumber daya manusia menjadi kunci industrialisasi. Kemenperin memperluas pendidikan vokasi dan politeknik industri serta program link and match dengan dunia usaha. Tenaga kerja industri diharapkan siap menghadapi digitalisasi manufaktur dan teknologi industri 4.0.

“SDM industri harus menjadi penggerak transformasi, bukan penonton perubahan,” tegas Agus.

Ia juga menyoroti pentingnya reformasi regulasi yang sederhana, adaptif, dan pro-pertumbuhan. Regulasi yang tumpang tindih menjadi hambatan bagi investasi. Karena itu, Kemenperin mempercepat penerapan smart regulation yang berbasis data.

Agus menekankan perlunya sinergi dengan kementerian lain, seperti ESDM, ATR/BPN, Keuangan, dan BRIN, untuk memperkuat pasokan energi, lahan, riset, dan insentif fiskal. “Kemenperin tidak boleh pasif. Kita harus aktif memperjuangkan industri nasional,” katanya.

Penguatan Industri Halal dan Ekosistem Terpadu

Kemenperin juga memprioritaskan pengembangan industri halal. Koordinasi dengan BPJPH dan kementerian lain dilakukan agar sertifikasi halal menjadi pendorong pertumbuhan. Ekosistem halal dikembangkan dari bahan baku hingga distribusi produk.

Revisi kebijakan TKDN akan dilakukan untuk memperkuat struktur industri nasional dengan mekanisme sertifikasi yang lebih transparan. Industrialisasi juga diarahkan untuk menciptakan keterkaitan kuat antara sektor hulu dan hilir.

“Semua faktor pendukung seperti bahan baku, energi, logistik, dan SDM harus nyata di lapangan,” ujar Agus.

Agus menambahkan, pembelajaran dari Jepang, Tiongkok, dan Turki menunjukkan pentingnya kawasan industri tematik yang mengintegrasikan bioindustri, energi bersih, dan petrokimia. Langkah ini dinilai dapat menciptakan pusat inovasi berdaya saing global.

Menuju Indonesia Emas 2045

SBIN disebut menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Asta Cita dan Indonesia Emas 2045. Industrialisasi, kata Agus, bukan hanya untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kedaulatan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

“Kita ingin industri yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut dia, Kemenperin berkomitmen melaksanakan strategi ini melalui program kerja terukur dan sinergi lintas unit yang solid.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Kemenperin optimistis sektor industri akan menjadi motor utama kemandirian ekonomi dan kejayaan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *