Mengapa Klub Serie A Italia Jarang Bangun Stadion Sendiri?
JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah era modern sepak bola Eropa, ketika klub-klub besar seperti Arsenal, Bayern Muenchen, hingga Real Madrid telah memiliki stadion megah milik sendiri, sebagian besar klub Serie A Italia justru masih bergantung pada stadion milik pemerintah kota. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa klub-klub di Italia sulit membangun atau memiliki stadion pribadi?
Salah satu alasan utama adalah kepemilikan stadion di Italia yang sebagian besar berada di tangan otoritas publik, bukan klub. Hampir seluruh stadion Serie A merupakan aset pemerintah kota. Klub seperti AS Roma, Lazio, Inter Milan, dan AC Milan hanya berstatus penyewa yang menggunakan stadion dengan izin dan kontrak sewa jangka panjang. Karena bukan pemilik, klub tidak punya kebebasan penuh untuk melakukan renovasi besar, mengubah tata letak, atau menjual hak nama stadion demi pendapatan tambahan. Pemerintah kota sering kali lebih fokus pada prioritas publik lain, sehingga perawatan stadion kerap tertunda dan proyek modernisasi sulit dilakukan.
Masalah berikutnya adalah birokrasi yang sangat rumit. Italia dikenal memiliki sistem perizinan yang panjang dan melibatkan banyak lembaga, terutama jika menyangkut bangunan bersejarah. Beberapa stadion bahkan dilindungi oleh lembaga pelestarian budaya, sehingga pembongkaran atau perubahan struktur memerlukan izin khusus. Contohnya terlihat pada kasus San Siro di Milan, di mana rencana pembongkaran stadion tertunda karena sebagian strukturnya dianggap bernilai sejarah. Akibat proses panjang tersebut, pembangunan stadion baru bisa tertunda bertahun-tahun bahkan lebih dari satu dekade sebelum dimulai.
Selain hambatan administratif, faktor finansial juga menjadi tantangan besar bagi klub Serie A. Membangun stadion baru membutuhkan biaya besar yang bisa mencapai ratusan juta euro. Sementara banyak klub Italia masih berjuang menjaga kestabilan keuangan, apalagi setelah pandemi Covid-19. Tanpa kepemilikan aset stadion, mereka juga tidak memiliki jaminan untuk mengajukan pinjaman bank atau menarik investor besar. Hal ini membuat klub lebih memilih bertahan di stadion lama daripada mengambil risiko finansial yang tinggi.
Faktor lain yang turut memperlambat modernisasi stadion di Italia adalah nilai tradisi dan sejarah. Bagi masyarakat Italia, stadion bukan hanya tempat pertandingan, tetapi bagian dari identitas kota dan simbol kebanggaan lokal. San Siro di Milan atau Stadio Olimpico di Roma, misalnya, dianggap sebagai monumen budaya yang tidak mudah digantikan. Banyak suporter menolak ide relokasi ke stadion baru karena khawatir kehilangan atmosfer dan sejarah panjang yang melekat di tempat tersebut. Sentimen inilah yang sering menjadi penghalang bagi proyek pembangunan stadion modern.
Kondisi kepemilikan publik juga membuat klub terikat dengan sistem sewa yang membatasi ruang gerak mereka. Klub tidak bisa mengatur jadwal penggunaan stadion dengan bebas, tidak dapat menggelar acara non-sepak bola seperti konser atau kegiatan bisnis, dan tidak berhak mengembangkan kawasan sekitar stadion menjadi area komersial. Semua keputusan tersebut bergantung pada persetujuan pemerintah kota, sehingga potensi pendapatan klub dari sektor non-pertandingan menjadi sangat terbatas.
Situasi ini tentu berdampak langsung pada daya saing klub-klub Serie A. Pendapatan dari hari pertandingan (matchday revenue) klub Italia jauh lebih rendah dibandingkan klub-klub Inggris, Jerman, atau Spanyol yang memiliki stadion modern milik sendiri. Juventus menjadi satu-satunya contoh sukses yang berhasil keluar dari sistem lama itu. Sejak membuka Allianz Stadium pada 2011, pendapatan Juventus meningkat tajam dan mereka memiliki kendali penuh atas aset stadion. Atalanta juga menjadi contoh positif setelah membeli stadionnya dari pemerintah kota Bergamo dan melakukan renovasi besar-besaran. Namun, kasus semacam ini masih sangat jarang di Italia.
Meski begitu, tanda-tanda perubahan mulai terlihat. AC Milan tengah mempersiapkan proyek stadion baru di kawasan San Donato Milanese, sementara Inter Milan juga mempertimbangkan untuk membangun stadion di lokasi terpisah dari San Siro. AS Roma pun masih melanjutkan rencana pembangunan stadion baru yang sempat tertunda selama bertahun-tahun. Pemerintah Italia bahkan telah menyiapkan regulasi baru untuk mempercepat izin pembangunan infrastruktur olahraga.
Secara keseluruhan, sulitnya klub Serie A Italia membangun stadion sendiri merupakan akibat dari kombinasi antara kepemilikan publik, birokrasi panjang, risiko finansial, dan nilai tradisi yang kuat. Namun arah perubahan mulai terlihat. Dengan dukungan kebijakan baru dan kesadaran akan pentingnya stadion modern bagi keberlanjutan finansial klub, Serie A perlahan bergerak menuju era baru di mana memiliki stadion sendiri bukan lagi sekadar impian, melainkan kebutuhan untuk bertahan dan bersaing di panggung sepak bola dunia.
