January 12, 2026

CHANDI 2025 Resmi Ditutup, Indonesia Tegaskan Pusat Diplomasi Budaya Dunia

  • September 5, 2025
  • 3 min read
CHANDI 2025 Resmi Ditutup, Indonesia Tegaskan Pusat Diplomasi Budaya Dunia

Denpasar, Gatranews.id — Menteri Kebudayaan, Fadli Zon resmi menutup konferensi internasional Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025 di Denpasar, Bali, Jumat (5/9). Ia menyampaikan terima kasih atas partisipasi menteri, duta besar, seniman, cendekiawan, dan delegasi dari berbagai negara.

Fadli berharap forum ini memperkuat visi bersama menjadikan budaya sebagai alat perdamaian dan kesejahteraan. Menurutnya, CHANDI 2025 bukan sekadar pertemuan budaya, tetapi bukti nyata visi bersama tentang budaya untuk masa depan.

Adapun dalam pertemuan tingkat menteri pada Rabu (3/9), disepakati Bali Cultural Initiative Declaration. Sebanyak 35 negara mengadopsi deklarasi itu secara mufakat.

Deklarasi menegaskan komitmen melindungi warisan budaya, mempromosikan keragaman, dan memperkuat diplomasi budaya sebagai jembatan pembangunan global yang berkelanjutan dan inklusif.

“Budaya adalah pilar pembangunan berkelanjutan. Ia juga menjadi ketahanan menghadapi perubahan iklim serta jembatan perdamaian, dialog, dan pemahaman,” kata Fadli.

Negara yang ikut menandatangani deklarasi antara lain Albania, Aljazair, Armenia, Bangladesh, dan Belarus. Kemudian Belgia, Brunei Darussalam, Bulgaria, Kamboja, dan Fiji. Selanjutnya juga ada Italia, India, Iran, Yordania, Laos. Libya, Malaysia, Mongolia, Oman, Pakistan. Palestina, Rusia, Rwanda, Serbia, Singapura. Siprus, Suriah, Tanzania, Thailand, Tunisia. Uzbekistan, Venezuela, dan Zimbabwe.

Indonesia turut menjadi tuan rumah sekaligus motor penggerak deklarasi ini. Kehadiran negara sahabat mempertegas peran Indonesia dalam memperkuat diplomasi budaya.

“Melalui deklarasi, para delegasi telah menekankan bahwa budaya merupakan pilar pembangunan berkelanjutan. Sekaligus ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim, menegaskan pentingnya integrasi dalam strategi nasional, pemanfaatan pengetahuan tradisional untuk keanekaragaman hayati dan adaptasi masyarakat. Serta meneguhkan diplomasi budaya sebagai jembatan perdamaian, dialog, dan pemahaman satu sama lain,” jelasnya.

CHANDI 2025 berlangsung pada 3—5 September. Forum ini membahas isu strategis, mulai dari pelestarian warisan budaya, diplomasi budaya, pendanaan kebudayaan, hingga inovasi seni dan media.

Selain pertemuan resmi, panitia menghadirkan UMKM seni budaya. Mereka menawarkan kerajinan tangan dan kuliner tradisional sebagai bagian dari promosi ekonomi lokal.

Para delegasi juga menyaksikan musik, tari tradisi, serta lokakarya keris, topeng, dan batik. Kehadiran ini memberikan pengalaman otentik tentang kekayaan budaya Nusantara.

Komitmen Indonesia

Fadli menegaskan, Indonesia berkomitmen memperkuat budaya sebagai instrumen soft power. Budaya juga mendorong dialog antarbangsa dan mengekspresikan nilai luhur bangsa.

Ia menyebut visi Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita ke-8 yang menempatkan budaya, lingkungan, dan harmoni sosial sebagai fondasi masyarakat adil dan makmur.

“Kami percaya kebudayaan bukan sekadar cerminan masa lalu. Ia adalah alat diplomasi dan pembangunan perdamaian,” ujar Fadli.

Penutupan CHANDI 2025 dihadiri menteri kebudayaan dari berbagai negara, duta besar, organisasi internasional, serta pejabat daerah.

Dalam pidato penutup, Fadli mengajak seluruh delegasi memperkuat kolaborasi budaya untuk perdamaian dunia. Ia berharap semangat persatuan dan kreativitas dari CHANDI 2025 terus menginspirasi kerja sama global.

Dengan berakhirnya CHANDI 2025, Indonesia menegaskan posisinya sebagai pusat diplomasi budaya dunia. Forum ini diharapkan menjadi titik tolak inisiatif baru untuk menjadikan budaya sebagai kekuatan strategis menuju perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *