February 4, 2026

Haru di Sidang Perceraian, Putra Sulung Andre Taulany Mohon Orang Tuanya Berdamai

  • August 12, 2025
  • 2 min read
Haru di Sidang Perceraian, Putra Sulung Andre Taulany Mohon Orang Tuanya Berdamai

Tangerang, Gatranews.id – Suasana Pengadilan Agama Tigaraksa, Senin (11/8/2025), mendadak hangat ketika Ardio “Dio” Taulany, putra sulung pasangan Andre Taulany dan Rien Wartia Trigina, hadir untuk memberikan dukungan moral. Bukan untuk memihak, melainkan untuk menyampaikan satu harapan sederhana: keluarga tetap utuh.

“Aku ingin meng-confirm dan membantu my mom, my dad untuk berdamai,” ucap Dio, matanya teduh menatap wartawan yang mengerumuninya usai sidang. Baginya, prinsip anak adalah satu: tak ada yang mau melihat orang tuanya berpisah.

Dio mengungkapkan, sejauh yang ia rasakan, rumah tangga kedua orang tuanya masih harmonis. “Sebenarnya mereka baik-baik aja sih, enggak ada masalah apa-apa. Mama baik, Papa baik, they take care of me,” ujarnya.

Menurut Dio, yang menjadi kendala hanyalah komunikasi yang renggang. “Mungkin kalau mereka berkomunikasi bisa kali, soalnya cuma itu aja kok masalahnya,” katanya optimistis.

Gugatan Dinilai Tak Perlu

Lebih jauh, Dio menilai gugatan cerai yang dilayangkan ayahnya bukan hal yang mendesak. “Gugatan Papa ini sebenarnya enggak necessary, karena cuma soal alamat. Itu sudah diatur dalam undang-undang rumah tangga dan perceraian,” tegasnya.

Ia pun berharap proses hukum ini bisa dihentikan sementara. “Tolong gugatan ini diberhentikan dulu. Mungkin ada cara lain supaya mereka bisa damai,” ujarnya, penuh harap.

Selesai sidang mediasi, Andre Taulany memilih meninggalkan ruang sidang tanpa banyak bicara. Kepada wartawan, ia hanya melontarkan satu kata singkat: “Laper,” sembari berlalu cepat.

Sementara itu, kuasa hukum Erin, Firmanto Laksana Pangaribuan, mengatakan pihaknya menghadirkan saksi untuk menguatkan keberatan wilayah sidang, sebab domisili keluarga berada di Jakarta Selatan.

Sidang perceraian pasangan yang sudah membangun rumah tangga selama lebih dari dua dekade ini masih akan berlanjut pekan depan. Namun, di tengah proses yang kaku di ruang sidang, suara seorang anak menjadi pengingat bahwa di balik tumpukan berkas perkara, ada hati yang masih berharap rumah ini tak runtuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *