January 12, 2026

Standardisasi Perkuat Daya Saing Batik, Kemenperin Gandeng YBI

  • July 20, 2025
  • 3 min read
Standardisasi Perkuat Daya Saing Batik, Kemenperin Gandeng YBI

Jakarta, Gatranews.id – Kementerian Perindustrian mendorong penerapan standardisasi di industri batik. Langkah ini untuk menjaga keaslian, mutu, dan daya saing global. Upaya juga ditujukan memperkuat kontribusi batik pada ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Batik kini digemari lintas generasi dan sudah menembus pasar dunia,” kata Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita di Jakarta, Minggu (20/7).

Reni menyebut permintaan batik terus naik. Tantangannya: menjaga keaslian dan kualitas di tengah maraknya produk tiruan. Pelaku batik yang mayoritas IKM butuh pembinaan, fasilitasi, dan akses promosi dari pemerintah dan pemangku kepentingan lain.

Kemenperin memakai pendekatan berbasis standar. “Kemunculan kain tiruan makin marak. Konsumen sulit membedakan,” ujarnya.

Menurut Reni, standardisasi jadi solusi strategis menghadapi pasar dan arus globalisasi. Sejumlah acuan yang didorong antara lain SNI Batik, SKKNI, Batikmark, Sertifikasi Halal, dan Sertifikasi Industri Hijau. Masing-masing menjamin aspek berbeda: SNI untuk kualitas produk; SKKNI untuk kompetensi perajin; Batikmark untuk keaslian; Halal dan Industri Hijau untuk memperluas akses pasar dan memastikan keberlanjutan.

Ia menyebut, standardisasi tidak hanya penting bagi keberlangsungan usaha dari sisi produksi. Tetapi juga memberikan nilai tambah pada aspek branding.

“Kesadaran konsumen soal keaslian, estetika, dan lingkungan kian tinggi. Batik tersertifikasi lebih mudah dipilih pasar,” kata Reni.

Gelar Webinar

Sebagai langkah edukasi, Ditjen IKMA bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) menggelar webinar “Standardisasi pada Industri Batik” secara daring pada 7 Juli 2025. Kegiatan ini bagian dari rangkaian Gelar Batik Nusantara (GBN) dan Hari Batik Nasional 2025.

Webinar menghadirkan narasumber dari regulator dan praktisi: Badan Standardisasi Nasional, Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik, serta pelaku usaha Akasia Batik Yogyakarta.

Puncak rangkaian GBN dan HBN 2025 akan berupa Pameran Gelar Batik Nusantara di Pasaraya Blok M, Jakarta, pada 30 Juli–3 Agustus 2025. Pameran menampilkan batik unggulan dari berbagai daerah sekaligus ruang edukasi publik tentang pentingnya standar mutu.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan, berharap webinar membantu pelaku IKM dan konsumen memahami manfaat standardisasi serta proses pengajuannya. “Ini ruang sinergi memperkuat fondasi industri batik nasional,” ujarnya.

Budi menegaskan, keberlanjutan batik bergantung pada kesadaran kolektif menjaga mutu, menerapkan standar, dan promosi berkelanjutan. “Batik bukan sekadar kain. Ini identitas budaya dengan kekuatan ekonomi,” katanya.

Dukungan juga datang dari Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) sekaligus Presidium PIMTI Perempuan Indonesia, Rini Handayani. Ia menyoroti peran perempuan dalam industri batik. “Jutaan pelaku IKM batik adalah perempuan. Di banyak daerah, batik jadi sumber hidup keluarga,” ucapnya. Karena itu, penguatan kapasitas dan kualitas perlu terus jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *