Aksi 177: URC Bergerak Tuntut Tritura, Tiga Tuntutan Rakyat Aspal
Konferensi Pers komunitas ojol bersama Unit Reaksi Cepat (URC). (ist)
Jakarta, Gatranews.id – Di jalanan, mereka bukan sekadar pengemudi. Mereka adalah saksi hidup kerasnya perjuangan para ojek online (ojol) dan Unit Reaksi Cepat (URC) yang hadir bukan karena diminta tetapi karena hati mereka terpanggil. Menurut jenderal lapangan URC Bergerak – Achsanul Solihin atau yang biasa disapa Bang Batman, pihaknya lahir dari keprihatinan melihat rekan-rekan ojol yang celakatanpa perlindungan dan perhatian yang layak.
“Seiring waktu, jumlah pengemudi ojol makin banyak dan bersama itu makin banyak pula yang terpanggil untuk bergabung dalam barisan URC,” tandas Achsanul saat konferensi pers, Rabu (16/7/2025).
Solidaritas ini lanjut Achsanul mengingat di jalan, kita semua adalah saudara. Komunitas ojol juga tahu betul bagaimana kerasnya hidup dibalik jaket dan helm. “URC tumbuh, mendengar danmerasakan semua suka duka profesi ojol.URC bukan cuma bergerak saat ada kecelakaan. Kami juga berdiri ketika nasib pengemudimulai digeser oleh kepentingan segelintir orang, apalagi untuk kepentingan politik,” ungkap Achsanul lagi.
Achsanul Solihin juga mengatakan bahwa komunitas ojol tidak bisa lagi dibungkam, aksi ini lahir dari keresahan nyata di jalanan, bukan sekadar agenda politik atau pesanan pihak tertentu. “Kami bukan buruh, kami mitra mandiri. Kami menolak regulasi yang memaksa pengemudimasuk dalam sistem kerja subordinatif. Sudah cukup kami diam, sekarang kami bicara,” tegas Achsanul.
Dengan slogan “Dari Ojol, Oleh Ojol, Untuk Ojol”, URC menegaskan bahwa pergerakan mereka adalah murni suara dari bawah. Mereka menyatakan akan terus berjuang hingga pemerintah benar-benar mendengar dan menindaklanjuti aspirasi mereka.
Permasalahan dunia ojek online makin pelik dan URC berharap Achsanul tidak akan tinggal diam. “Sudah cukup kami diam. Saatnya kami bicara.Sudah cukup kami diatur. Saatnya kami menentukan arah.Sudah cukup jadi alat. Saatnya kami jadi subjek,” ungkap para anggota URC.
Dalam kesempatan yang sama, URC menyampaikan tiga tuntutan atau yang dikenal di tiga tuntutan rakyat aspal.
1. URC tegas menolak status ojol sebagai buruh/pekerja.Kami bukan karyawan, bukan buruh pabrik, bukan staf kantor. Kami adalah mitramandiri dan kami punya hak mengatur jam kerja, memilih order dan menentukan ritmehidup kami sendiri. Ketika sistem ingin menempatkan kami sebagai buruh, maka yangakan hilang adalah kemerdekaan kami sebagai pengemudi.Menjadi buruh berart kami akan dibebani aturan sepihak, target yang mengikat danberpotensi kehilangan fleksibilitas yang menjadi nilai utama pekerjaan ini. URC menolak segala bentuk regulasi yang memaksa pengemudi masuk ke dalamsistem kerja subordinatif.
2. URC tegas menolak menolak opini potongan 10%. Saat ini potongan 20% dari penghasilan pengemudi sudah berjalan bertahun-tahun. Kami tidak keberatan dengan skema ini. Kami menolak keras opini publik danframing sepihak yang menyatakan bahwa pengemudi menuntut pemotongan menjadi 10%. Kami memahami bahwa aplikator harus tetap bertahan dan kami juga harusbertahan, kami adalah mitra yang tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.Kami tidak pernah mengajukan tuntutan seperti itu. Ojol dan aplikator harus sama-sama hidup karena kami saling membutuhkan, apabilaaturan membunuh aplikator, sama saja membunuh ojol. Jangan manfaatkan nama pengemudi untuk kepentingan politik, regulasi, ataukampanye kelompok tertentu. Suara pengemudi asli harusnya datang dari jalanan,bukan dari ruang rapat.
3. URC tegas meminta Presiden RI mengeluarkan PERPPU untuk ojek online. Hari ini kami tiidak ada kepastian. Tidak memiliki payung hukum, Tidak ada arah. Masing-masing instansi bicara beda, sementara kami di jalan tetap menanggungsemua risiko.Sudah terlalu lama ojol dibiarkan berjalan tanpa payung hukum yang tegas.
Karena itu, kami mendesak Presiden RI untuk turun tangan langsung mengeluarkan PERPPU khusus untuk ojek online agar :
● Ada kepastian status hukum bagi pengemudi dan aplikator.
● Tidak ada tumpang tindih kewenangan antar kementerian.
● Terjadi kesetaraan pandang antara perlindungan dan kemandirian mitra.
● Semua pihak tunduk pada satu aturan baku yang adil dan berpihakKami tidak menolak aturan. Tapi kami menuntut aturan realistis dengan kondisi di lapangan.
Tritura ini bukan sekadar tuntutan. Ini suara dari roda yang terus berputar, dari helm yang menatap panas jalanan, dari jaket yang penuh peluh perjuangan.
