February 4, 2026

15 Tahun BNPT: Dari Senyapnya Teror hingga Gerakan Jaga Indonesia

  • July 16, 2025
  • 3 min read
15 Tahun BNPT: Dari Senyapnya Teror hingga Gerakan Jaga Indonesia

Jakarta, Gatranews.id — Terorisme belum punah, hanya berganti rupa. Dulu ia hadir dalam bentuk ledakan di hotel dan tempat publik. Kini, kekerasan ideologis merayap lewat unggahan digital, siaran langsung penuh ujaran kebencian, hingga transaksi tersembunyi melalui dompet digital. Radikalisme kini hanya sejauh satu klik, menyusup dari satu tautan ke tautan lain, memanfaatkan dunia yang semakin terhubung namun tak selalu kuat dalam pertahanan sosialnya.

Di tengah tantangan itu, Indonesia terus memperkuat barisannya. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang genap berusia 15 tahun tahun ini, tampil bukan hanya sebagai garda pengaman negara, tapi juga menjadi ruang pembinaan dan dialog. Kepala BNPT, Komjen Pol Eddy Hartono, menegaskan bahwa capaian institusinya merupakan hasil dari sinergi seluruh elemen bangsa.

“Perjalanan 15 tahun BNPT adalah wujud nyata dari sinergi dan kolaborasi pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat,” ujar Eddy dalam peringatan HUT BNPT ke-15, Selasa (16/7/2025).

Menurut Eddy, pendekatan BNPT tidak hanya berorientasi pada strategi penindakan keras, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan yang mendalam.

“Kami percaya bahwa pencegahan tidak hanya dilakukan dengan strategi, tetapi dengan hati yang ikhlas, melalui langkah yang edukatif dan pembinaan secara komprehensif,” tambahnya.

Pendekatan Humanis, Hasil yang Nyata

Selama 15 tahun, BNPT telah merancang berbagai program berbasis komunitas—mulai dari pendampingan bagi eks narapidana terorisme (napiter), pemulihan bagi penyintas, hingga penguatan jejaring damai bersama tokoh agama dan masyarakat sipil. Pendekatan ini menghasilkan dampak yang signifikan.

Sejak 2023, Indonesia mencatat nol serangan teror atau zero attack. Sebuah capaian penting yang mencerminkan pergeseran strategi ke arah pencegahan dan pemberdayaan.

Di balik statistik tersebut, terdapat kisah nyata yang menyentuh: eks napiter yang kini membuka usaha halal, penyintas kekerasan yang kembali berkarya, serta komunitas yang memilih jalur damai meski pernah menjadi korban.

Psikolog forensik yang terlibat dalam rehabilitasi eks pelaku teror, Dra. Reni Kusumowardhani, M.Psi., menyebut bahwa capaian ini tak bisa dilepaskan dari kerja bersama lintas sektor.

“Zero attack bukan hanya prestasi BNPT, tapi prestasi kita semua. Masyarakat, pemerintah, akademisi, semua punya andil,” tegas Reni.

Tantangan Era Digital dan Respons Negara

Meski begitu, tantangan belum usai. Dunia digital dan globalisasi mempercepat pergerakan jaringan teror lintas negara. Narasi ekstremisme kini tersebar lewat media sosial, aplikasi pesan instan, bahkan konten dakwah digital.

Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, mengingatkan bahwa bahaya teror tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga merusak tatanan sosial dan kepercayaan antarwarga.

“Terorisme merugikan tidak hanya secara fisik atau ekonomi, tetapi juga merusak kepercayaan sosial, bahkan memengaruhi cara masyarakat bersikap dan berpikir,” ujarnya.

Menurut Yose, di tengah dunia yang makin saling terhubung, pendekatan terhadap ekstremisme harus bersifat multidimensi—lintas batas, lintas sektor, dan lintas kesadaran kolektif.

Gerakan Siap Jaga Indonesia

Menjawab tantangan tersebut, BNPT kini mendorong gerakan Siap Jaga Indonesia. Sebuah ajakan untuk menjadikan perlindungan terhadap bangsa sebagai tanggung jawab bersama. Dari ruang kelas hingga media sosial, dari rumah ibadah hingga meja makan keluarga—semua ruang bisa menjadi arena edukasi dan pencegahan.

Gerakan ini juga selaras dengan implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE), yang melibatkan guru, ulama, seniman, aktivis, dan pemuda dalam mendorong deteksi dini dan penguatan kapasitas masyarakat.

“BNPT akan terus hadir di tengah masyarakat, menjadi mitra yang solutif dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Komjen Eddy.

Menuju Indonesia Emas 2045

Indonesia tengah menapaki jalan panjang menuju visi Indonesia Emas 2045. Namun, cita-cita besar itu tak akan tercapai jika narasi kebencian dibiarkan tumbuh. Pencegahan kekerasan ideologis bukan lagi sekadar tugas aparat, tapi menjadi panggilan kebangsaan.

Jika kebersamaan dirawat, luka bisa sembuh. Jika masyarakat dilibatkan, kekerasan bisa dicegah. Dan jika nilai-nilai kemanusiaan ditegakkan, maka Indonesia bisa menjadi contoh dunia dalam merawat perdamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *