Lenacapavir: Terobosan Pengobatan HIV dengan Dosis Dua Kali Setahun
Jakarta, Gatranews.id – Dunia medis kembali mencatat kemajuan besar dalam upaya melawan HIV/AIDS. Setelah bertahun-tahun pasien harus rutin mengonsumsi obat setiap hari, kini hadir sebuah solusi pengobatan baru bernama Lenacapavir, obat antiretroviral jangka panjang yang hanya memerlukan dua kali suntikan dalam setahun.
Obat ini dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat, Gilead Sciences, dan digadang-gadang sebagai salah satu inovasi terbesar dalam terapi HIV dalam satu dekade terakhir.
Apa Itu Lenacapavir?
Lenacapavir merupakan jenis obat antiretroviral (ARV) yang bekerja sebagai capsid inhibitor, mekanisme kerja yang berbeda dari sebagian besar ARV konvensional. Obat ini menyerang dan mengganggu struktur protein pelindung virus HIV—disebut capsid—yang berfungsi melindungi materi genetik virus dan membantu dalam proses replikasi.
Dengan menghambat fungsi capsid ini, Lenacapavir secara efektif mengganggu siklus hidup virus HIV dalam beberapa tahap penting: mulai dari penggabungan ke dalam DNA sel inang hingga pengemasan ulang virus baru.
Lenacapavir pertama kali diuji dalam serangkaian uji klinis global, termasuk uji coba CAPELLA dan CALIBRATE, yang menunjukkan tingkat keberhasilan tinggi dalam menekan jumlah virus dalam darah (viral load), bahkan pada pasien dengan HIV yang sudah kebal terhadap beberapa lini ARV lainnya.
Keunggulan Lenacapavir Dibandingkan Terapi Konvensional
Terapi HIV konvensional biasanya memerlukan konsumsi obat oral setiap hari dan melibatkan kombinasi beberapa jenis obat agar virus tetap terkendali. Ini sering menimbulkan tantangan seperti:
- Kepatuhan pengobatan yang rendah
- Beban psikologis karena harus minum obat setiap hari
- Risiko resistansi virus terhadap ARV
- Efek samping jangka panjang dari konsumsi harian
Lenacapavir hadir sebagai solusi jangka panjang dengan frekuensi pemberian hanya dua kali per tahun dalam bentuk suntikan subkutan (di bawah kulit). Keunggulan ini memberi manfaat nyata, di antaranya:
- Meningkatkan kepatuhan pasien, terutama mereka yang kesulitan minum obat setiap hari.
- Mengurangi risiko resistansi obat, karena kadar obat dalam tubuh stabil lebih lama.
- Memberi kenyamanan psikologis, terutama bagi pasien yang merasa tertekan dengan pengobatan harian.
Efikasi Berdasarkan Uji Klinis
Dalam uji coba CAPELLA yang dipublikasikan dalam jurnal medis The New England Journal of Medicine, Lenacapavir menunjukkan:
- 88% pasien mengalami penurunan viral load secara signifikan dalam waktu 26 minggu.
- Efektivitas tetap tinggi bahkan pada pasien dengan HIV multi-drug resistant (MDR), yakni yang tidak merespons terhadap beberapa regimen ARV.
- Obat ini dapat digunakan sebagai komponen tunggal yang dikombinasikan dengan ARV lain, atau dalam jangka panjang dapat dikembangkan sebagai monoterapi bersamaan dengan long-acting lainnya.
Efek Samping dan Risiko yang Perlu Diperhatikan
Meski memiliki potensi besar, Lenacapavir bukan tanpa efek samping. Beberapa keluhan yang tercatat selama uji klinis antara lain:
- Nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan
- Gangguan pencernaan ringan, seperti mual dan kembung
- Peningkatan kadar enzim hati, meski jarang dan biasanya bersifat sementara
- Kemungkinan interaksi dengan obat lain, seperti antasida, antibiotik, atau antijamur
Karena itulah, penggunaan Lenacapavir harus berada di bawah pengawasan dokter spesialis, dan hanya diberikan kepada pasien yang memenuhi kriteria medis.
Status Regulasi dan Ketersediaan Global
Lenacapavir telah mendapatkan persetujuan resmi dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat pada Desember 2022 untuk pengobatan HIV pada pasien dewasa dengan resistansi obat. Badan regulator Eropa, European Medicines Agency (EMA), juga telah menyetujui penggunaan obat ini untuk pasien dengan kebutuhan terapi kompleks.
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, obat ini belum tersedia secara komersial. Namun, sejumlah negara sedang menjajaki akses penggunaan darurat (compassionate use) atau program uji coba terbatas. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan dan Badan POM, dikabarkan tengah meninjau potensi masuknya Lenacapavir ke Tanah Air.
Potensi Masa Depan: Kombinasi Long-Acting dan Upaya Eradikasi HIV
Para peneliti dan aktivis HIV melihat Lenacapavir sebagai batu loncatan menuju pengobatan HIV yang lebih nyaman dan efektif. Beberapa penelitian lanjutan tengah dikembangkan untuk:
- Menggabungkan Lenacapavir dengan long-acting injectables lainnya seperti Cabotegravir
- Meningkatkan kualitas hidup pasien dengan gangguan kognitif atau pasien tua
- Mengembangkan kombinasi obat dua tahunan atau bahkan pengobatan pencegahan (PrEP) berbasis capsid inhibitor
Selain itu, para ilmuwan juga menyelidiki apakah Lenacapavir dapat digunakan dalam strategi eradikasi HIV jangka panjang, meski hal ini masih dalam tahap riset dasar dan belum tersedia dalam praktik klinis.
Tantangan dan Harapan di Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah kasus HIV yang masih tinggi di Asia Tenggara. Menurut data Kemenkes RI, per Desember 2024, terdapat lebih dari 540.000 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia, dengan sebagian besar masih mengandalkan ARV oral harian.
Kehadiran Lenacapavir diharapkan dapat:
- Menjadi pilihan alternatif untuk pasien yang resistan terhadap terapi ARV standar
- Mengurangi stigma sosial dengan pengobatan yang lebih tersembunyi dan jarang
- Membantu ODHA tetap produktif dan tidak mengalami kelelahan pengobatan
Namun, tantangan besar juga ada: dari regulasi, logistik penyimpanan, hingga akses pembiayaan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan skema internasional seperti Global Fund.
Lenacapavir menjadi simbol harapan baru dalam terapi HIV, menawarkan rejimen pengobatan yang lebih praktis, efektif, dan ramah pasien. Dengan hanya dua kali suntikan per tahun, pasien bisa mengendalikan virus tanpa harus menghadapi beban pengobatan harian.
Meski masih dalam tahap awal penyebaran global, masa depan terapi HIV tampaknya akan menuju ke arah long-acting treatment, yang bisa meningkatkan kualitas hidup dan mempercepat pencapaian target global 90-90-90 UNAIDS.
Bagi Indonesia, kehadiran Lenacapavir dapat menjadi solusi penting untuk memperluas pilihan pengobatan HIV dan mengurangi beban sistem kesehatan dalam jangka panjang.
