January 10, 2026

Gas dan Energi Terbarukan Jadi Duet Strategis Capai Target Net Zero

  • June 24, 2025
  • 3 min read
Gas dan Energi Terbarukan Jadi Duet Strategis Capai Target Net Zero

Jakarta, Gatranews.id – Gas alam dan energi terbarukan dinilai bukan sebagai dua pilihan yang saling meniadakan, melainkan sebagai kolaborasi strategis dalam mewujudkan transisi energi yang andal dan berkelanjutan. Sinergi keduanya diyakini mampu menjawab tantangan pemenuhan energi bersih, terjangkau, dan merata di tengah peningkatan permintaan energi nasional.

Forum dua tahunan IndoGAS 2025 akan kembali digelar untuk mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah, BUMN, pelaku industri, akademisi, hingga mitra internasional. Forum ini menjadi ruang strategis membahas arah kebijakan, peluang pasar, serta strategi kolaboratif menuju sistem energi rendah karbon.

“Kita harus mempercepat dekarbonisasi sistem energi. Data International Energy Agency mencatat, pada 2024, gas alam memenuhi 40 persen pertumbuhan permintaan energi global, menjadikannya sumber energi utama. Gas alam, gas hijau, dan inovasi lainnya berperan penting dalam transisi menuju masa depan rendah emisi,” kata Wakil Presiden International Gas Union Andreas Stegher, dalam keterangan tertulis, Rabu (25/6/2025).

Gas alam kini tidak lagi dipandang sebagai solusi jangka pendek. Keunggulannya—fleksibel, cepat diimplementasikan, dan kompatibel dengan infrastruktur masa depan—membuat gas menjadi bagian penting dari strategi energi nasional.

Pemerintah telah menargetkan net zero emission antara tahun 2050 hingga 2060. Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan sistem energi yang kuat, adil, dan merata, terutama untuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah merencanakan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,2 gigawatt (GW). Sebanyak 61 persen atau 42 GW di antaranya berasal dari energi terbarukan seperti surya, angin, air, panas bumi, dan bioenergi.

Sebaliknya, kontribusi pembangkit berbasis gas dikurangi dari 15,2 GW menjadi 10,3 GW. Kapasitas penyimpanan energi berbasis baterai (BESS) akan ditingkatkan dari 4,6 GW menjadi 6,0 GW untuk mendukung stabilitas sistem.

Meski porsi energi terbarukan meningkat, gas tetap dibutuhkan untuk menjembatani pasokan listrik yang stabil dan cepat. Program konversi dari bahan bakar minyak (HSD) ke gas di 41 pembangkit akan dimulai pada Maret 2025. Proyek ini dinilai lebih efisien dari sisi biaya dan waktu dibandingkan pembangunan pembangkit EBT berskala besar.

Selain itu, pengembangan infrastruktur gas seperti Floating Storage Regasification Unit (FSRU) dan jaringan pipa saat ini juga diarahkan agar kompatibel dengan teknologi hidrogen dan carbon capture and storage (CCS) di masa depan.

Transformasi Teknologi Gas Rendah Karbon

Gas alam tidak lagi identik dengan bahan bakar fosil konvensional. Transformasi ke arah gas rendah karbon terus berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia. Teknologi seperti bio-LNG, pemantauan metana berbasis digital, dan jaringan pipa siap-hidrogen mulai diterapkan secara bertahap.

Pemerintah pun telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2024 sebagai dasar hukum pengembangan fasilitas penyimpanan karbon lintas batas. Proyek seperti Tangguh CCUS (BP) dan Sunda-Asri CCS Hub (Pertamina–ExxonMobil) menjadi contoh konkret langkah Indonesia menuju sistem energi bersih.

Pendekatan sistem hibrida, gabungan antara gas, energi terbarukan, dan baterai penyimpanan—menjadi strategi yang dinilai paling realistis untuk diterapkan dalam waktu dekat. Model ini telah mulai dijalankan melalui berbagai proyek strategis seperti FSRU Jawa Satu, program dedieselisasi, gasifikasi, dan integrasi baterai dengan PLTS.

“Kebutuhan energi nasional tidak bisa ditunda. Sementara transisi ke EBT butuh fondasi kuat. Gas menjadi satu-satunya energi yang bisa menjembatani kebutuhan jangka pendek dan mendukung target jangka panjang,” ujar Ketua Indonesia Gas Society Aris Mulya Azof.

Menurut Aris, tantangan tidak hanya terletak pada pasokan, tetapi juga pembangunan infrastruktur, konektivitas antarwilayah, dan penyusunan kebijakan yang mendukung ekosistem gas secara maksimal.

IndoGAS 2025 menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam mendorong transisi energi yang adil dan inklusif. Sinergi antara gas dan energi terbarukan diharapkan mampu mempercepat pencapaian target net zero tanpa mengorbankan aspek keterjangkauan dan keandalan pasokan.

Melalui forum ini, Indonesia menegaskan posisinya sebagai penggerak transisi energi di kawasan Asia-Pasifik, dengan menempatkan gas sebagai pilar strategis dalam sistem energi masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *