February 4, 2026

Tahu Bungkeng: Warisan Rasa dari Kota Tahu yang Terlupakan

  • June 21, 2025
  • 5 min read
Tahu Bungkeng: Warisan Rasa dari Kota Tahu yang Terlupakan

Jakarta, Gatranews.id – Di tengah geliat jalanan Kota Sumedang yang kian hiruk pikuk, di antara deretan toko modern dan lalu lintas yang sibuk, berdiri sebuah rumah tua sederhana di Jalan Sebelas April No. 53. Rumah itu tampak biasa dari luar—berdinding tembok, berteras kecil, dan bertuliskan huruf-huruf Tionghoa yang mulai pudar dimakan waktu. Namun bagi mereka yang tahu, rumah ini adalah kunci sejarah bagi para pecinta tahu, tempat lahirnya sebuah legenda kuliner: Tahu Bungkeng.

Kisah Tahu Bungkeng tidak hanya tentang tahu. Ia adalah kisah tentang perjalanan, perjuangan, dan percampuran budaya yang menghasilkan sesuatu yang abadi—rasa yang tak pernah lekang oleh zaman. Cerita ini bermula lebih dari seabad silam, pada tahun 1917, saat seorang perantau keturunan Tionghoa bernama Tan Yung Ping memutuskan untuk menetap di Sumedang. Dalam keheningan kota kecil yang dikelilingi perbukitan itu, Tan membawa serta warisan leluhur: teknik membuat tahu yang sudah turun-temurun dipraktikkan di tanah Tiongkok.

Tan Yung Ping memulai usaha dari dapur kecil di rumahnya, menggunakan kedelai lokal dan air pegunungan Sumedang yang jernih. Ia tidak menambahkan apa pun selain kesabaran dan ketelitian dalam proses pembuatannya. Tahu yang dihasilkannya berbeda dari tahu yang dikenal orang Jawa pada masa itu—ia lebih padat, lebih gurih, dan memiliki tekstur yang renyah di luar namun lembut di dalam. Tahu ini tak membutuhkan bumbu tambahan. Ia berdiri sendiri dengan rasa alami kedelai yang kaya, seolah menyuarakan kejujuran dalam kesederhanaan.

Nama “Bungkeng” diambil dari nama panggilan keluarga Tan. Dalam bahasa Tionghoa, nama ini tak hanya merujuk pada identitas, tetapi juga membawa harapan akan keberuntungan dan keberlanjutan usaha. Seiring waktu, masyarakat Sumedang mulai mengenal produk ini sebagai Tahu Bungkeng, dan dari mulut ke mulut, namanya menyebar hingga ke luar kabupaten. Namun di tengah popularitas itu, keluarga Tan tetap setia menjaga produksi secara terbatas dan tradisional, dengan resep yang tidak pernah berubah.

Apa yang dilakukan Tan Yung Ping lebih dari sekadar berdagang. Ia mempopulerkan tahu goreng sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat Sunda. Sebelumnya, tahu lebih dikenal sebagai bahan makanan pendamping, bukan hidangan utama. Namun tahu goreng ciptaan Tan mampu berdiri sebagai camilan yang dinikmati sendiri, hangat-hangat dengan sambal dan cabai rawit. Tanpa disadari, ia menciptakan tren baru—tren yang kemudian ditiru dan dikembangkan oleh banyak orang. Dari sinilah kemudian muncul puluhan, bahkan ratusan, produsen tahu di Sumedang yang menawarkan produk serupa. Maka lahirlah istilah Tahu Sumedang, yang kini menjadi nama generik bagi jenis tahu goreng khas daerah ini.

Namun bagi para pencinta tahu sejati, Tahu Bungkeng tetap memiliki tempat tersendiri. Ia adalah ibu dari semua tahu Sumedang, akar dari pohon besar yang kini menaungi berbagai merek dan varian tahu di Jawa Barat dan sekitarnya. Banyak yang mencoba meniru bentuk dan teksturnya, namun tidak ada yang benar-benar bisa menyamai rasa dan karakternya. Mengapa? Karena Tahu Bungkeng tidak hanya dibuat dengan tangan, tapi juga dengan hati—dengan semangat menjaga warisan dan kesetiaan pada prinsip.

Yang menarik, selama lebih dari satu abad, usaha ini tidak pernah berpindah tangan keluar keluarga. Saat ini, Tahu Bungkeng dikelola oleh generasi ketiga dan keempat keturunan Tan Yung Ping. Mereka masih menggunakan metode tradisional yang sama, dengan kedelai terbaik dan proses pengolahan tanpa bahan kimia atau pengawet. Bahkan peralatan yang digunakan pun sebagian masih peralatan lama, dirawat dengan penuh cinta sebagai bagian dari ritual produksi yang nyaris sakral.

Produksi tahu dilakukan setiap pagi dengan jumlah terbatas. Tidak ada cabang, tidak ada toko online, tidak ada ekspansi besar-besaran. Para pelanggan yang ingin menikmati tahu legendaris ini harus datang sendiri ke toko asli. Bahkan bagi banyak orang Sumedang, berkunjung ke rumah Tahu Bungkeng menjadi semacam ziarah rasa—menyentuh kembali akar sejarah yang diam-diam menjadi bagian dari identitas mereka.

Lebih jauh dari sekadar kuliner, Tahu Bungkeng menyimpan nilai-nilai budaya yang dalam. Ia adalah contoh nyata akulturasi Tionghoa dan Sunda yang berjalan harmonis. Dari seorang pendatang, lahir sebuah kontribusi yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat lokal. Tahu Bungkeng juga merepresentasikan filosofi hidup orang Sumedang: rendah hati, ulet, dan setia pada nilai-nilai tradisi.

Sayangnya, seperti banyak warisan budaya lain, Tahu Bungkeng juga menghadapi tantangan. Di era modern yang serba instan dan serba cepat, makanan seperti ini mulai kalah pamor oleh produk-produk yang mudah dikonsumsi dan dipasarkan. Namun justru karena keengganannya mengikuti arus komersialisasi, Tahu Bungkeng tetap bertahan sebagai penjaga orisinalitas. Ia seperti kompas yang mengingatkan kita ke mana arah rasa yang sesungguhnya berasal.

Banyak pihak kini mendorong agar Tahu Bungkeng didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) oleh pemerintah, agar keberadaannya tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga dihargai secara nasional. Tidak hanya karena rasanya, tetapi karena nilai historis dan budayanya yang kuat. Bila tahu adalah simbol makanan rakyat, maka Tahu Bungkeng adalah rajanya—duduk tenang di takhta warisan kuliner Indonesia.

Pada akhirnya, Tahu Bungkeng mengajarkan kita bahwa dalam dunia yang terus berubah, ada nilai-nilai yang tak boleh digadaikan: kejujuran rasa, kesetiaan pada asal-usul, dan penghormatan terhadap leluhur. Dalam setiap gigitan tahu renyah dari toko tua itu, kita tidak hanya mencicipi kedelai yang diolah, tapi juga mengenang waktu yang dijaga. Karena di balik setiap tahu Bungkeng, ada kisah tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan apa yang seharusnya kita lestarikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *